Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1915, di sebuah hutan lebat yang terletak di bagian selatan Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di sebelah utara wilayah yang kini dikenal dengan nama Gumukmurti, datanglah sekelompok orang dari Malang Selatan. Mereka dipimpin oleh seorang tokoh bijaksana dan pemberani bernama Sawirono. Tujuan mereka bukan sekadar mengembara, melainkan membuka hutan belantara untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian. Setelah melewati banyak rintangan alam dan perjuangan hidup, mereka menetap di sebuah lokasi yang sekarang dikenal sebagai Pasar Desa Karetan.
Seiring waktu, kelompok yang semula kecil itu berkembang. Mereka membangun rumah, membuka lahan, dan hidup rukun di bawah pimpinan Sawirono yang disegani. Maka terbentuklah sebuah perkampungan yang kemudian diberi nama Karetan. Nama ini berasal dari banyaknya pohon karet yang tumbuh di sana, dan karena banyak pohon karet yang ditebang saat pembukaan lahan, nama “Karetan” pun muncul secara alami dari kata dasar “karet”.
Karetan terus tumbuh dan berkembang, dari perkampungan menjadi Krajan Karetan, hingga akhirnya masuk dalam wilayah administrasi Desa Glagahagung dan dikenal sebagai Dusun Karetan. Namun, semangat masyarakat Karetan untuk berdiri sendiri tak pernah padam. Pada tahun 1998, dengan dukungan para tokoh masyarakat, Dusun Karetan memisahkan diri dari Desa Glagahagung. Maka ditunjuklah Bapak Sudarminto sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Persiapan Karetan.
Desa Karetan pun tumbuh pesat. Bahkan wilayahnya dibagi menjadi dua dusun: Dusun Sidodadi dan Dusun Sidoagung. Pada tahun 1999, jabatan Pjs Kepala Desa dipegang oleh Bapak Samsudi, seorang staf kecamatan yang berasal dari Sidorejo. Akhirnya, pada 14 Mei 2000, Desa Persiapan Karetan diresmikan menjadi Desa Definitif Karetan. Setahun kemudian, diadakan pemilihan kepala desa pertama. Tiga calon maju: Kartolo, Kadeni, dan Joko Wasito. Yang terpilih dan dilantik pada 20 Juni 2001 adalah Bapak Kadeni.
Namun, sayang, beliau wafat saat menjalankan tugasnya pada 10 September 2003. Untuk mengisi kekosongan, Bapak Sudarminto kembali dipercaya menjadi Pjs hingga tahun 2007. Kemudian, pemilihan kepala desa kedua digelar. Dua tokoh maju: Suroso Hadi Wardoyo dan Gimo Purwoko. Rakyat memilih Gimo Purwoko, dan pada 28 September 2007, ia resmi menjadi Kepala Desa Karetan, yang menjabat hingga kini.
Cerita ini bukan sekadar sejarah, tapi warisan jiwa dan semangat para pendiri Desa Karetan. Dari hutan belantara hingga menjadi desa yang hidup dan berkembang, kisah ini adalah pengingat bahwa kerja keras, persatuan, dan kepemimpinan yang bijak adalah fondasi dari tanah yang kita pijak hari ini.
Semoga kisah ini menginspirasi generasi muda Karetan untuk terus menjaga, membangun, dan mencintai tanah leluhurnya.(*)
Oleh Mohamad Faiz Azmi