Di tanah Jawa, pada masa kejayaan Kesultanan Pajang, lahirlah seorang pangeran yang kelak akan dikenang karena kesetiaannya dan keberaniannya. Ia bernama Pangeran Benowo, putra dari Sultan Hadiwijaya, seorang raja di kerajaan Pajang yang terkenal bijaksana.
Sejak kecil, Benowo dididik dengan keras agar kelak mampu memimpin kerajaan. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tangguh, cerdas, dan memiliki hati yang luhur. Namun, takdir berkata lain, ia menghadapi banyak ujian setelah ayahnya wafat.
Ketika Sultan Hadiwijaya wafat, kekuasaan direbut oleh Arya Pangiri, menantu dari Sultan Hadiwijaya. Arya Pangiri memerintah dengan tangan besi, hingga rakyat mengalami penderitaan yang amat sangat. Pangeran Benowo yang saat itu masih muda dengan mudah disingkirkan dari kerajaan oleh sang kakak iparnya itu. Pangeran Benowo pun terusir dari istana, lalu ia pergi dan mengasingkan diri dari istana. Ia berjalan menyusuri hutan, melewati lembah dan sungai hingga akhirnya tiba disebuah pedesaan yang terlihat asri dan tenang.
Di tempat itu, ia bertemu dengan seorang lelaki agak tua, lalu ia bertanya kepadanya “Pak, bagaimana keadaan desa di sini? Apakah semua rakyat di sini makmur dan mudah dalam keberlangsungan hidupnya?”
“Tentu tidak,” jawab lelaki itu, “warga di desa saat ini sedang mengalami kesulitan dalam bertani maupun berkebun, belum lagi semenjak Sultan Hadiwijaya digantikan oleh raja yang baru, semua akses serta bahan-bahan menjadi mahal dan sulit didapat.”
Mendengar penuturan tersebut, pangeran Benowo merasa marah. Ia tidak terima dan tidak tinggal diam.
Sejak saat itu, Pangeran memutuskan untuk mengumpulkan rakyat dan membentuk kekuatan untuk melawan kekuasaan Arya Pangiri. Namun ia tidak bergerak sendiri. Ia meminta bantuan kepada sahabatnya, yaitu Sultan Hadi dari Mataram. Ia bersama Sultan Hadi menyusun rencana dan dibantu oleh rakyat sekitar. Selama upaya perlawanan itu, Pangeran Benowo dan Sultan Hadi turut membantu warga sekitar dalam berkebun maupun bertani, mereka membantu rakyat agar lebih mudah mendapatkan pasokan pupuk, hingga mengajari warga bagaimana cara bertani yang benar agar terbebas dari serangan hama.
Hari demi hari berganti, Pangeran Benowo bersama yang lainnya pun terus menyusun strategi, hingga akhirnya perang pun terjadi. Namun, karena rakyat lebih mendukung Sang Pangeran, serta kurangnya jumlah pasukan kerajaan, Pangeran Benowo pun dapat dengan mudah memenangkan perang tersebut dan kembali mendapatkan takhta kekuasaan kerajaan tersebut. Tetapi Pangeran Benowo tidak mau menjadikan dirinya sebagai seorang raja, ia lebih memilih menjadi rakyat biasa. Akhirnya, ia memercayakan sekaligus menyerahkan takhta kekuasaan kerajaan Pajang kepada sahabatnya tersebut yaitu, Sultan Hadi dari Mataram.
Setelah kerajaan dipimpin oleh Sultan Hadi, kini para rakyat kecil bersorak, mereka merasakan kebahagiaan serta kemakmuran. Mereka merasa lebih mudah untuk keberlangsungan hidup sehari-hari nya. Pangeran Benowo pun turut senang akan hal itu.
Hingga pada suatu malam, Pangeran Benowo pergi untuk mencari udara segar, lalu ia duduk di sebuah bukit kecil di bawah pohon besar. Ia termenung seketika ia memikirkan apa yang telah ia lewati selama ini setelah kepergian ayah nya. Melihat bagaimana sekarang perkembangan desa yang awalnya menjadi tempat pelariannya hingga ia mendapat bantuan untuk mendapatkan kembali kekuasaan kerajaan peninggalan dari mendiang sang ayah, lalu ia mengeluarkan sebuah keris pusaka dan ia bersumpah
“Di tempat ini lah aku berjuang, dan disinilah aku mendapat dukungan, maka setelah ini aku bersumpah aku akan menggari hati dan jiwaku untuk mereka,” ujarnya sembari ia menancapkan keris tersebut.
Sejak saat itulah desa tersebut dikenal sebagai desa Penggarit, yang berasal dari kata “menggarit” yang dalam bahasa jawa berarti “mengikat” atau “menyatukan”.
Hingga akhirnya Pangeran Benowo wafat di desa tersebut dan dimakamkan di desa itu. Meski begitu, masyarakat sekitar tidak melupakan perjuangan Pangeran Benowo untuk memajukan desa, mereka selalu mengenang perjuang tersebut dan nama Pangeran Benowo abadi pada salah satu tempat di desa Penggarit. (*)
Oleh Meutia Zachrani