Batu Kuwung di Banten

Di sebuah lembah tenang di kaki perbukitan Banten, berdirilah sebuah desa kecil bernama Citaman. Desa itu dikelilingi pohon-pohon tua, sawah, dan sumber air yang jernih, seolah menyimpan kisah yang terlupakan oleh zaman. Di antara penduduk desa, hiduplah seorang perempuan tua bernama Nyi Siti. Tubuhnya sudah membungkuk, kulitnya penuh keriput, tapi sorot matanya masih menyimpan kasih yang besar pada satu-satunya anaknya: Jaya.

Sejak kecil, Jaya tumbuh dalam keterbatasan. Ayahnya telah lama meninggal, dan sejak itu ibunya menjadi segalanya: ayah, ibu, sahabat, juga guru kehidupan. Mereka hidup dari hasil kebun, menjual singkong dan pisang ke pasar. Meski hidup pas-pasan, Nyi Siti selalu berusaha memberi Jaya makanan yang layak dan pendidikan dasar, berharap kelak anaknya bisa lepas dari kemiskinan.

Namun, seiring bertambahnya usia, hati Jaya pun berubah. Ia tak lagi bangga dengan asal-usulnya. Saat teman-teman sebayanya pergi ke kota dan pulang dengan pakaian bagus dan cerita tentang gemerlapnya dunia, Jaya merasa malu dengan pakaian lusuh dan rumah bambu miliknya.

Suatu pagi, saat matahari baru muncul di balik bukit, Jaya bicara pada ibunya. ”Bu, aku sudah tak bisa hidup begini terus. Aku mau cari kerja ke kota. Aku ingin sukses, Bu.”

Nyi Siti hanya menatapnya pelan. “Ibu tak bisa larang kamu, Nak. Tapi ingat, dunia boleh berubah, tapi jangan sampai kamu lupa dari mana kamu berasal.”

Jaya mengangguk cepat, lalu pergi keesokan harinya. Sejak itu, tak ada kabar. Surat tak datang, utusan tak pernah mampir. Hari-hari Nyi Siti diisi dengan harap, cemas, dan doa yang tak henti-hentinya dilantunkan di setiap malam.

Tahun demi tahun berlalu. Rambut Nyi Siti memutih seluruhnya, jalannya kian lambat, tapi harapannya tak pernah padam. Sampai suatu hari, desas-desus datang dari pasar: Jaya anak desa yang dulu miskin kini telah menjadi saudagar besar di kota. Ia menikahi putri bangsawan dan memiliki usaha yang luas. Lebih mengejutkan lagi, dikabarkan Jaya akan datang ke desa bersama istrinya.

Warga heboh. Semua bersiap menyambut. Tapi yang paling sibuk tentu saja Nyi Siti. Ia membersihkan halaman rumah, menjahit ulang kebaya lamanya, dan menyiapkan makanan kesukaan Jaya semasa kecil: nasi liwet dan pepes ikan.

Ketika kereta kuda besar berhenti di tengah desa, semua mata tertuju pada pasangan muda berpakaian mewah. Nyi Siti berjalan pelan menghampiri. Tangannya gemetar, suaranya lirih tapi penuh harap.

“Jaya! Nak, kau pulang juga akhirnya….”

Namun, reaksi Jaya justru mengejutkan semua orang. Ia mundur setengah langkah, lalu menoleh ke istrinya.

“Maaf, saya tidak kenal perempuan ini,” katanya dengan suara tegas.

Wajah Nyi Siti memucat. “Nak, ini Ibu. Kamu tak ingat suara ini?”

Istri Jaya menatap jijik. “Orang kampung memang suka mengaku-ngaku. Sudahlah, kita pergi saja.”

Mata Nyi Siti tak bisa lagi menahan air mata. Ia tak berteriak. Ia tak marah. Ia hanya menunduk, lalu berbisik pada bumi di bawah kakinya.

“Ya Allah… jika dia benar bukan anakku, jangan biarkan aku berharap. Tapi jika dia darah dagingku, dan durhaka seperti ini… biarlah bumi jadi saksi.”

Langit yang semula cerah tiba-tiba mendung. Angin berputar aneh. Tanah mulai bergetar di bawah kereta Jaya. Warga desa panik, berlarian. Jaya dan istrinya hendak naik kembali ke kereta, tapi tanah di bawah mereka terbelah. Dari celah retakan itu, semburan air panas menyembur ke udara, menelan mereka berdua tanpa sempat berteriak panjang.

Ketika segalanya tenang kembali, di tempat mereka berdiri hanya tersisa batu besar beruap dengan semburan air hangat yang tak pernah berhenti. Warga desa menamai tempat itu Batu Kuwung, yang dalam bahasa Sunda berarti batu yang menyemburkan air panas dari perut bumi.

Sejak saat itu, Batu Kuwung menjadi peringatan nyata akan durhakanya seorang anak yang melupakan ibunya. Legenda ini hidup dalam ingatan warga sebagai simbol, bahwa restu dan doa ibu bukan sekadar ucapan ia adalah kekuatan yang bisa membangun atau menghancurkan.(*)

Oleh Alfian Najmusyaqieb Ramadhan