Makam Mumbul: Peristirahatan sang Penyebar Islam dari Bagdad

Beberapa tahun lalu saat libur lebaran, aku menyempatkan diri untuk berkekliling di daerah sekitar rumahku yang dulu, di Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Salah satu lokasi yang menarik perhatianku adalah terdapat sebuah makam yang dikenal dengan sebutan Makam Mumbul. Letaknya tidak jauh dari Desa Tropodo, tepatnya di Dusun Klagen. Meskipun makam ini tampak seperti tempat peristirahatan biasa, ternyata kisah di baliknya begitu menarik dan penuh nilai sejarah serta spiritual.

Menurut cerita dari Abah Suprat, juru kunci makam yang telah lama menjaga dan merawat tempat tersebut, sosok yang dimakamkan di sana bukanlah orang biasa. Beliau adalah seorang ulama besar dari Timur Tengah, tepatnya dari daerah Bagdad. Ulama ini dikenal dengan nama Sayyid Ali Usman, yang diyakini masih memiliki garis keturunan dari keluarga besar Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, seorang wali besar dari Bagdad. 

Sayyid Ali Usman datang ke tanah Jawa sebagai bagian dari misi dakwahnya, untuk menyebarkan agama Islam di wilayah yang kala itu masih di dominasi oleh ajaran Hindu-Buddha, terutama karena pengaruh Kerajaan Majapahit yang masih terasa sangat kuat. Wilayah Krian saat itu merupakan perkampungan kecil yang belum banyak tersentuh oleh ajaran Islam. Namun, dengan pendekatan yang lembut dan penuh kebijaksanaan, Sayyid Ali Usman mulai mendekati masyarakat setempat, terutama di sekitar Desa Tropodo.

Lambat laun, warga yang awalnya memeluk agama lama mulai tertarik dengan ajaran Islam. Berkat kesabaran dan ketekunan Sayyid Ali Usman, masyarakat Tropodo pun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Hingga akhirnya, daerah ini menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah Sidoarjo. 

Setelah wafat, jasad Sayyid Ali Usman dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Makam Mumbul. Tapi mengapa dinamakam “Makam Mumbul”? Menurut juru kunci, sebutan itu berasal dari kisah unik yang terjadi setelah beliau dimakamkan. Konon, pada masa itu, ada seseorang yang datang dan berziarah dan meletakkan kain putih di atas tumpukan batu nisan makam. Karena bentuk tumpukan batu tersebut dan efek kain putih yang mengalir, makam itu tampak seperti “mumbul” atau menonjol dari tanah. Padahal sebenarnya jenazah tetap dimakamkan di dalam tanah seperti lazimnya makam lain.

Sayangnya, kabar ini berkembang menjadi salah kaprah. Banyak yang mengura jenazah sang ulama tidak dikubur seperti biasa. Padahal, menurut penuturan para sesepuh desa dan juru kunci, itu hanya persepsi visual semata. Makam tersebut sebenarnya tidak berbeda dari makam ulama lainnya. Yang membedakan adalah aura spiritual dan keberkahan yang dipercaya mengalir dari sosok Sayyid Ali Usman.

Kini, Makam Mumbul menjadi salah satu tempat ziarah yang ramai dikunjungi oleh masyarakat, terutama saat harixhari besar Islam. Di sebelah makam ini juga berdiri sebuah musala wakaf bernama Musala An-Nadhar. Bahkan, tidak jauh dari lokasi Makam Mumbul terdapat warung kopi yang menjadi tempat persinggahan para pengunjung. Sambil menyeruput kopi hangat, para peziarah bisa meresapi suasana spiritual dan mengenang jasa sang wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Suatu sore yang hangat, saat aku duduk di warung kopi dekat makam, kudengar dua warga desa tengah bercakap-cakap. Mereka berdua sudah berumur, salah satunya mengenakan sarung dan peci, sementara yang lain sedang menyeruput kopi hitam. “Sampeyan tahu, Le?” ujar Pak Min, yang lebih tua, kepada temannya. “Apa, Pak Min?”sahut Pak Har, pemilik warung. “Dulu, katanya waktu Sayyid Ali Usman datang ke sini, orang-orang sini takut. Soalnya mereka belum kenal Islam. Tapi beliau gak pernah marah. Bahkan katanya suka bagi-bagi air dan obat ke warga.” Ujar Pak Min. “Oh iya, aku pernah dengar dari almarhum kakekku. Katanya, waktu musim pagebluk, beliau bantu banyak orang. Bahkan ada yang sakit berat bisa sembuh setelah didoakan.” sahut Pak Har. 

Aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka, “Maaf, Pak, apakah benar nama ‘Mumbul’ itu berasal dari kain putih yang tampak mengalir di atas makam?”. Pak Min tersenyum sambil mengangguk pelan “Betul, Nak. Waktu itu, ada orang dari luar desa yang datang, ziarah. Dia taruh kain putih di atas makam. Karena bentuk batu nisan dan letaknya yang agak tinggi, kain itu kelihatan melambai-lambai. Seolah-olah makam itu ‘mumbul’, atau menonjol dari tanah”. Pak Har menimpali sambil tertawa kecil, “Padahal ya biasa saja. Jenazahnya tetap dikubur sperti makam lain. Tapi memang auranya berbeda. Banyak yang bilang, kalau ke sana sambil niat baik, hati bisa jadi adem”. 

Tak jauh dari situ, suara azan dari Musala An-Nadhar pun terdengar. Musala itu berdiri tepat di samping makam, menjadi tempat persinggahan para peziarah yang hendak menunaikan salat. Beberapa orang tampak mulai berjalan ke musala, termasuk sekelompok anak muda yang baru datang dari luar kota.

Bagi masyarakat Krian dan sekitarnya, Makam Mumbul bukan hanya tempat berziarah, tetapi juga simbol sejarah, perjuangan, dan spiritualitas. Cerita tentang Sayyid Ali Usman telah menjadi bagian penting dari identitas warga Tropodo, memgingatkan kita akan pentingnya dakwah yang penuh kasih sayang dan perjuangan yang tulus demi kemaslahatan umat. Kisah perjuangannya dalam menyebarkan Islam menjadi inspirasi bagi masyarakat Tropodo hingga kini.

Setiap cerita yang disampaikan dari mukut ke mulut, setiap langkah kaki yang menyusuri jalan setapak menuju makam, dan setiap doa yang dilantunkan di sana adalah bagian dari warisan hidup yang terus tumbuh. Dan di bawah rindang pepohonan dan semilir angin petang, Makam Mumbul tetap berdiri, menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang dakwah dan kasih sayang seorang wali dari Bagdad.(*)

Oleh Prettylia Shakira Rashida