Sering sekali ibuku mengalami beberapa kali gangguan mistis dari makhluk astral. Saat itu kebetulan bapak ku masih bertugas di Kalimantan dan ibuku tentu ikut dengan bapak ke Kalimantan. Pada saat itu Kalimantan di 2004 belum secanggih ataupun hutannya masih terjaga dengan baik dan lebat. Kebetulan bapak ku dulu tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota dan dikelilingi oleh hutan. Disini aku akan menceritakan satu saja pengalaman mistis yang dialami oleh ibukku saat ia sedang mengandungku pada saat di Kalimantan.
Jadi pada saat itu tepatnya di bulan September tanggal 20 tahun 2004, kondisi cuaca pada saat siang sangatlah panas dan tidak ada tanda hujan satupun. Sampai pada malam hari tepatnya setelah maghrib, bapak ku ternyata mendapat panggilan dari atasannya untuk lembur dan kemungkinan bisa pulang besok pagi ataupun siang. “Kunci pintu, jangan buka untuk siapapun,” pesan bapakku sebelum berangkat. Ibuku hanya mengangguk, menahan kekhawatiran apabila nanti terjadi sesuatu.
Malam itu, ibuku duduk di ruang tamu sembari memegang perutnya yang mulai terasa nyeri karena sudah memasuki bulan yang ke 4. Tiba tiba hujan turun dengan lebatnya disertai suara petir. Ibuku mencoba menenangkan diri dengan membaca doa, sampai tiba tiba terdengar ketukan di pintu.
“Tok… tok… tok…”
Ibuku mulai berdiri dan perlahan menghampiri suara ketukan pintu itu. Ia mengintip di celah jendela dan terkejut karena dia melihat sosok suaminya berdiri dan basah kuyup. Ibuku pun bertanya “Kok sudah pulang, katanya lembur sampai besok ?”. Bapakku hanya diam dan menganggukkan kepalanya saja.
Dengan ragu, Ibuku membuka pintu dan mengulangi pertanyaan nya “Kamu kok ditanya diam saja, jawab dong”.
Bapakku hanya menjawab lirih, “Capai”. Lalu ia masuk ke dalam tanpa menatap maupun menyentuh ibuku. Langkahnya seperti menyeret sesuatu yang berat. Ibuku pun hanya bisa terdiam dan mengikuti dari belakang, merasa ada yang sambat aneh.
“Kamu kenapa sih ? Ada masalah di kantor ?”
Bapakku hanya diam dan menatap ke jendela. Ibuku mulai merasa takut dan memperhatikan lebih saksama seperti bajunya yang tiba tiba kotor dan penuh lumpur, dan aroma tubuh yang menyengat, bukan seperti aroma tubuh suaminya yang biasa.
Hujan terus mengguyur deras di luar. Petir pun menyambar begitu dekat, membuat lampu tiba tiba padam yang membuat rumah menjadi gelap gulita. Ibuku panik dan mulai mencari senter dan alhasil ketemu. Saat senter dinyalakan tiba tiba jantungnya hampir berhenti, Wajah itu…. bukan wajah suaminya.
Mata bapakku itu mulai memerah menyala, dan kulitnya mulai tampak ditumbuhi bulu bulu. Perlahan tubuhnya membesar, dan mulai menghitam. Nafasnya terdengar seperti geraman binatang. “Kamu bukan suamiku!” teriak ibuku ketakutan, mundur hingga dia menabrak dinding.
Sosok itu berdiri dan mulai melangkah mendekat dan sosok itu berkata “Anakmu… anakku juga…” dengan suara berat seperti suara hewan bukan manusia. Ibuku berkata kepada sosok itu “Tidak! Pergi kau!”.
Saat sosok itu mau mendekat lagi ke ibuku tiba tiba pintu terbuka yang ternyata ada tetangga yang ternyata di hubungi oleh bapakku untuk menemani ibuku karena tiba tiba hujan deras dan listrik mati. Sosok itupun tiba tiba menghilang ditelan kegelapan lalu disusul dengan ibuku yang pingsan.
Keesokan harinya, ibuku terbangun dengan tubuh yang gemetar. Di sampingnya sudah terdapat tetangganya yang dihubungi suaminya tadi malam. Ia bertanya kepada ibuku “Ya Allah!, kamu kenapa? semalam saat saya kesini untuk menemanimu tiba tiba kamu sudah pingsan di ruang tamu”
Ibuku mencoba berdiri tapi masih gemetar dan tidak kuat, mungkin karena kehamilannya juga.
“Bu… semalam suami saya pulang tapi bukan suami saya,” bisiknya.
Tetangganya pun hanya terdiam dan bertanya ke ibuku “Kamu lihat sosok tinggi besar, matanya merah?”
Ibuku mengangguk. “Ya Allah… itu genderuwo. Mereka suka menyamar, terutama saat ada perempuan yang hamil. Mereka percaya anak dalam kandungan bisa jadi penghubung antara dunia manusia dan mereka…”
Bapakku pulang. Ia terkejut karena melihat istrinya yang lemas tertidur di lantai di pangkuan tetangganya. Saat mendengar cerita dari tetangganya dan istrinya, bapakku hanya terdiam dan lemas mendengarnya. Saat itu juga bapakku menghubungi atasannya dan mencoba untuk meminta di pindah tugaskan ke kampung halaman sang istri yaitu di Pemalang. Beberapa hari kemudian, permohonannya disetujui, bapakku di pindah tugaskan ke Jawa. Saat di Jawa tidak terjadi gangguan gangguan lainnya lagi karena ibuku tinggal bersama kakek dan nenek ku. Sampai hari ini bapakku tetap ditugaskan di Jawa dan tidak kembali lagi ke Kalimantan. (*)
Oleh Ferdinan Pradana Putra