Tentang Gunung Kemukus

Gunung Kemukus adalah sebuah bukit kecil yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Meskipun secara geografis hanya merupakan perbukitan biasa, Gunung Kemukus menyimpan sejarah dan kisah legenda yang menjadikannya salah satu lokasi ziarah paling dikenal di Indonesia. Sejak dahulu, masyarakat Jawa mengenal tempat ini sebagai lokasi makam keramat, yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Pangeran Samudro tokoh penting dalam legenda akhir Kerajaan Majapahit. Aura mistis dan spiritual yang melingkupi tempat ini telah menjadikan Gunung Kemukus sebagai magnet bagi para peziarah dari berbagai penjuru Tanah Air.

Menurut cerita yang dituturkan secara turun-temurun, Pangeran Samudro adalah putra dari Raja Majapahit yang lahir dari seorang selir. Dalam legenda, diceritakan bahwa ia menjalin hubungan asmara dengan ibu tirinya sendiri, Dewi Ontrowulan, yang merupakan permaisuri raja. Hubungan ini dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap norma dan tatanan keluarga kerajaan. Mengetahui bahwa hubungan tersebut tidak akan diterima oleh istana, Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan melarikan diri dan bersembunyi di sebuah bukit terpencil. Namun pelarian mereka berakhir tragis, karena keduanya ditemukan dan dikabarkan tewas. Pangeran Samudro kemudian dimakamkan di puncak bukit yang kini dikenal sebagai Gunung Kemukus.

Sejak kematiannya, makam Pangeran Samudro mulai dianggap sebagai tempat suci yang memiliki kekuatan spiritual. Banyak orang datang untuk berziarah, terutama pada malam Jumat Pon menurut kalender Jawa. Mereka melakukan berbagai ritual seperti mandi kembang, puasa mutih, dan semedi dengan harapan agar hajat mereka terkabul baik berupa kesembuhan, kemakmuran, jodoh, maupun keselamatan. Tradisi ini awalnya dilakukan dengan khusyuk dan sakral, mencerminkan laku spiritual masyarakat Jawa yang percaya pada kekuatan gaib dan peran leluhur dalam kehidupan.

Namun seiring waktu, muncul kepercayaan baru yang menyimpang dari ajaran leluhur. Banyak orang mulai meyakini bahwa agar doa atau hajat benar-benar dikabulkan, mereka harus melakukan hubungan seksual dengan pasangan bukan suami atau istrinya di area Gunung Kemukus. Praktik ini dikenal dengan istilah pesugihan seksual dan dianggap sebagai bentuk peniruan terhadap hubungan terlarang antara Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan. Bahkan muncul anggapan bahwa hubungan tersebut harus diulang sebanyak tujuh kali setiap malam Jumat Pon dengan pasangan yang sama agar “perjanjian spiritual” berhasil.

Fenomena ini menjadikan Gunung Kemukus semakin kontroversial, terutama pada dekade 1980–2000-an, ketika kawasan ini berkembang menjadi tempat yang dipenuhi warung remang-remang dan praktik prostitusi terselubung. Media lokal hingga internasional mulai meliput kondisi ini, dan berbagai kalangan terutama tokoh agama dan pemerintah menyuarakan keprihatinan. Pada tahun 2015, pemerintah daerah akhirnya melakukan revitalisasi dan penertiban total. Tempat-tempat hiburan liar dibongkar, aktivitas malam hari diawasi ketat, dan kompleks makam Pangeran Samudro dibenahi agar kembali menjadi lokasi wisata religi yang layak dan bersih dari praktik menyimpang.

Kini, Gunung Kemukus masih menjadi tempat ziarah yang aktif, meskipun dalam pengawasan yang lebih ketat. Pemerintah dan masyarakat lokal berupaya mengembalikan citra tempat ini sebagai warisan budaya dan spiritual, bukan sebagai tempat pesugihan seksual. Kisah cinta tragis Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan tetap hidup sebagai bagian dari narasi sejarah dan legenda Jawa. Lebih dari sekadar situs mistis, Gunung Kemukus kini menjadi simbol bagaimana legenda bisa memengaruhi praktik sosial, serta tantangan dalam melestarikan nilai-nilai budaya leluhur di tengah arus zaman.

Oleh Pasha Salbika Nadwi Aryadi