Sore itu, matahari menggantung rendah di langit desa Balapusuh, melemparkan cahaya keemasan yang memantul lembut di permukaan air sungai. Di tepi sungai yang dangkal, suara gelak tawa anak-anak riuh saling bersahutan. Mereka berlarian tanpa alas kaki, ada yang saling ciprat, ada juga yang hanya duduk tenang di atas bebatuan besar sembari menggoyangkan kaki mereka ke arus air yang jernih, ada yang bermain perahu-perahuan dengan daun, dan ada pula yang jahil dengan mengganggu sebuah keluarga bebek hingga menyebabkan bebeknya menguik marah sedang yang mengganggu lantas lari terbirit-birit, diiringi sorak anak-anak lain yang tergelak puas. Angin sore berembus pelan membawa aroma tanah basah dan daun bambu yang berguguran, serta suara kicauan burung-burung yang ikut menambah kesan damai senja kala itu.
Dan di antara keramaian itu, di bawah pohon randu yang menjulang diam, seorang lelaki tua duduk di bangku bambu yang cukup lebar, memandangi cucu-cucunya yang sedang bermain itu. Sementara itu, di sampingnya, seorang gadis kecil bersandar sembari mengunyah ubi rebus, kakinya digoyang-goyangkan mengikuti suara gemericik air. “Eyang, boleh aku tanya sesuatu?”
Suara polos cempreng itu memecah kesunyian kecil di antara mereka, seolah menarik lelaki tua itu dari lamunan panjangnya. Lelaki tua yang dipanggil ‘Eyang’ tadi menoleh sembari tersenyum, “tanya apa, nduk?” Tangan lelaki tua itu mengelus rambut cucunya dengan sayang. Gadis kecil itu kemudian mengubah posisi duduknya menjadi duduk sila menghadap kakeknya. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Aku penasaran banget, kenapa sih nama desa ini tuh Balapusuh? Apa ada artinya, yang? Eh, atau malah ada ceritanya tersendiri?” Rentetan pertanyaan itu keluar dari bibir mungil gadis kecil tersebut yang mulutnya masih mengunyah ubi rebus jadi bicaranya sedikit terdengar tidak jelas.
Sang kakek terkekeh kecil, “hayo, kalo makan tidak boleh sambil bicara. Telan dulu, baru, habis itu bicara yang jelas.” Peringat kakeknya. Gadis kecil itu kemudian langsung menelan dengan susah payah makanan yang ada di mulutnya dan mengulangi kembali pertanyaan yang sama kepada kakeknya, kali ini dengan pelafalan yang lebih jelas.
Kakek tersenyum tipis, matanya menerawang, seakan mencari kembali potongan-potongan waktu yang sudah lama terkubur di balik usia dan diam. Kakek menghela napas panjang sebelum berbicara. “Nama itu…bukan hanya sekadar nama, nduk,” ucap Kakek lirih, seolah berbicara bukan hanya pada cucunya saja tapi juga pada angin sore dan pohon randu yang juga turut menyimpan rahasia.
Kemudian, dari kejauhan, salah satu anak laki-laki yang semula asyik mengejar perahu daun itu tiba-tiba menoleh saat mendengar pembicaraan kakek dan gadis kecil di bangku bambu itu. “Eyang lagi cerita, ya? Cerita apa itu, yang? Aku juga mau dengar!” Serunya seembari berjalan mendekat –meninggalkan perahu daunnya terbawa arus Sungai itu. Tak lama juga, satu per satu anak mulai meninggalkan permainan dan obrolan mereka untuk kemudian bergabung duduk melingkari kakek mereka di bangku bambu itu.
Sang gadis kecil tersenyum bangga karena telah memancing saudara-saudara lainnya untuk ikut bergabung.”Ayo, Eyang, mulai saja ceritanya. Aku sudah tidak sabar mendengarnya.” Desak gadis kecil itu yang diiringi oleh desakan-desakan lain dari saudara-saudaranya. Mata mereka berbinar, tak sabar untuk mendengar cerita dari sang kakek. Kakek terkekeh kecil melihat antusias cucu-cucunya. Suara gemerisik air dan angin sepoi-sepoi sore itu menjadi jauh lebih tenang seakan mereka pun ingin ikut mendengarkan cerita dari kakek. “Eh, tunggu dulu deh. Emang ini mau cerita tentang apa sih?” Celetukan itu kemudian diikuti rasa penasaran dari anak-anak lain, kecuali gadis kecil yang masih memegang ubi rebus ditangannya itu.
“Cerita tentang Balapusuh,” jawab gadis kecil itu sebelum ia menggigit ubi rebusnya yang kemudian juga diikuti anggukan oleh kakek. “Balapusuh ya? Lah, nama desa kita dong. Emang ada ceritanya ya, yang? Kayak gimana tuh, yang?” Rentetan pertanyaan itu muncul dari bocah laki-laki yang hanya memakai kaos dalam karena kaosnya basah sebab bermain ciprat-cipratan dengan anak laki-laki lain di sampingnya yang juga sama-sama hanya memakai kaos dalam saja.
Kakek menghela napas panjang sembari tersenyum tipis. “Tentu ada, le. Setiap tempat pasti punya cerita dan kenangannya masing-masing. Dulu, desa ini hanya sebuah dusun kecil yang dikelilingi hutan dan ladang. Meski begitu, tanah sekecil inipun juga tak luput dari perang dan peerpecahan saat di masa penjajahan dahulu kala.” Anak-anak itu duduk dengan tenang dan mendengarkan kakek mereka mulai bercerita dengan seksama, bahkan sang gadis kecil juga berhenti memakan ubinya. Mata anak-anak itu diliputi rasa penasaran saat sang kakek mulai bersuara lagi. “Dulu, disini ada dua laki-laki yang bersaudara, satu darah. Mereka sangat rukun, bahkan sangat jarang sekali mereka bertengkar selayaknya saudara-saudara pada umumnya. Bahkan ya, samapai usia mereka cukup dewasa pun, mereka jarang sekali bertengkar. Tidak seperti kalian-kalian ini yang selalu berebut mainan dan bertengkar satu sama lain tiap harinya.” Sindiran sang kakek itu membuat anak-anak terkekeh canggung sembari menyalahkan satu sama lain dengan saling menunjuk.
Kakek menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan cucu-cucunya. “Sudah, sudah. Ayo kakek lanjutkan lagi. Dengarkan baik-baik ya kalian.” Anak-anak itu mengangguk antusias, wajah mereka berubah menjadi raut serius saat kembali memasang telinga untuk cerita kakek mereka. “Saat penjajah semakin gencar, banyak rakyat-rakyat yang disuruh kerja paksa. Hasil panen-panen kita diambil seenaknya. Rakyat mulai geram, tak terkecuali salah satu dari saudara laki-laki itu. Namun, ini justru merubah hubungan persaudaraan dua laki-laki itu menjadi merenggang. Dikarenakan oleh perbedaan pilihan. Sang adik lebih memilih untuk memperjuangkan tanah airnya, sementara itu sang kakak justru malah memilih berpihak pada penjajah. Bukan karena apa, sang kakak melakukan ini agar ia dapat menyelamatkan dirinya dan sang kakak percaya kalau ia ikut berpihak kepada penjajah, keluarganya akan aman. Tapi sang adik telah menetapkan pilihannya, ia kesal dengan pilihan yang kakaknya ambil. Ia yang merasa dikhianati kemudian pergi dari rumah untuk ikut gerakan perlawanan rakyat sana untuk melawan penjajah.”
Suasana hening. Tak ada yang berkomentar, hanya terdengar suara angin, gemerisik air, dan satu dua jangkrik yang mulai bernyanyi. Matahari sudah menghilang di ufuk barat. “Maka dari itu kemudian desa kita dikenal dengan nama ‘Balapusuh’, nduk, le.” Lanjut kakek. “Dari kata ‘balane pusuh’ —artinya saudara, tapi musuh. Dan itu juga terbawa sampai saat ini di masyarakatnya. Kebanyakan dari masyarakatnya malah memiliki hubungan renggang dengan saudaranya, seperti musuh.”
Anak-anak masih diam. Beberapa dari mereka saling berpandangan, seolah cerita yang baru saja mereka dengar menggema jauh di kepala masing-masing. Sorot mata penuh perenungan terlihat pada wajah-wajah polos itu. Sang gadis kecil menunduk, ia meremat ujung kain bajunya. “Kenapa harus saling benci ya, yang? Padahal kan mereka keluarga, saudara lagi.” Celetukan dari gadis kecil itu diikuti anggukan setuju oleh anak-anak yang lain. Kakek tersenyum lembut, “karena manusia mudah lupa, nduk, le. Mereka lupa bahwa darah yang sama mestinya harus saling menguatkan bukan saling menyakiti dan membenci.” Lalu kakek berdiri perlahan, menepuk-nepuk lutut tuanya, lalu berkata lagi. “Ayo pulang. Adzan maghrib bentar lagi sudah akan berkumandang, sebaiknya kita segera pulang sebelum nanti berakhir dimarahi oleh nenek dan ibu kalian.”
Anak-anak itu kemudian berdiri dan kemudian berjalan beriringan dan bergandengan untuk kembali menuju rumah kakek dan nenek mereka yang meskipun tidak besar tapi setidaknya nyaman dan ada kehangatan di sana. “Duh, jadi laper…pengen makan gecok bikinan nenek lagi.” Celetukan salah satunya itu kemudian membuat perut-perut mereka keroncongan dan berlari kecil meninggalkan kakek mereka untuk cepet-cepetan sampai di rumah dan merasakan gecok milik nenek.(*)
Oleh Faazilatun Nisa Aniqa