TUG Hindia : Penjaga Laut Pekalongan 

Pekalongan, tahun 1927.Langit gelap bergulung di atas lautan. Angin berembus kencang, membuat ombak menggila menghantam tiang-tiang kayu pelabuhan. Di kejauhan, sebuah kapal dagang besar, SS Noordzee, tampak oleng dihantam badai. 

Di dermaga kecil, sebuah kapal tunda mungil — TUG Hindia — bersiap berlayar. Kapten Willem de Graaf, seorang Indo-Belanda berumur 40-an, berdiri di anjungan, mengenakan mantel hujan tebal. Di sampingnya, Mas Joyo, pemuda Pekalongan yang baru dua tahun jadi awak kapal, memandang lautan dengan wajah tegang. 

“Mas Joyo,” kata Kapten Willem sambil menunjuk kapal di kejauhan, “Kalau kita tidak bergerak sekarang, kapal itu akan hancur di karang.”

Mas Joyo menelan ludah, memandang ombak setinggi pohon kelapa.”Siap, Kapten. Tapi… ombaknya besar sekali.”

Kapten Willem hanya tersenyum tipis, lalu menepuk bahu anak muda itu.”Kita pelaut. Ombak besar itu sahabat kita. Sekarang, jalankan mesinnya!”

Pak Basri, si kepala mesin tua, menyalakan mesin uap kapal. Asap hitam mengepul dari cerobong TUG Hindia. Dengan geraman mesin yang dalam, kapal kecil itu perlahan meninggalkan dermaga, menantang badai yang menderu.

TUG Hindia berjuang melawan gelombang. Air laut menyembur ke geladak, membuat semua awak basah kuyup. Mas Joyo menggenggam tali dengan tangan gemetar, sementara Kapten Willem mengarahkan kapal kecil itu mendekati SS Noordzee. Di atas kapal dagang itu, beberapa awak berteriak-teriak, melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan.”Tali siap!” teriak Mas Joyo.”Lempar sekarang!” balas Kapten Willem. Dengan sekuat tenaga, Mas Joyo melemparkan tali penarik. Awak Noordzee menangkapnya, dan dalam waktu singkat, tali itu diikat kuat di tiang utama kapal besar itu “Basri! Tambah tenaga! Kita tarik mereka keluar!” perintah Willem. Pak Basri menjerit dari dalam ruang mesin.”Kapten, mesin ini udah tua! Kalau dipaksa, bisa meledak!” Sedikit lagi! Kita tidak boleh mundur!” teriak Willem, matanya tajam seperti baja.

Perlahan, dengan seluruh tenaga kecil mereka, TUG Hindia menarik kapal besar itu menjauh dari jalur karang. Tali menegang hingga suara ‘creek’ terdengar nyaring, tapi kapal itu bergeser, sedikit demi sedikit.Setelah hampir setengah jam bertarung melawan badai, akhirnya SS Noordzee berhasil lolos dari maut. Awak kapal itu bersorak, beberapa bahkan melemparkan topi ke udara. Mas Joyo terduduk di geladak, kelelahan, tapi wajahnya penuh senyum.”Kita berhasil, Kapten…” katanya dengan napas tersengal.Kapten Willem hanya mengangguk, menatap langit yang perlahan mulai cerah.”Hari ini, Mas Joyo… kita bukan cuma menyelamatkan kapal. Kita menyelamatkan harga diri pelabuhan ini.”

Mereka menarik tali, bersiap kembali ke pelabuhan. Ombak mulai surut, dan di kejauhan, terlihat kerumunan orang menunggu di dermaga. Anak-anak berlari-lari kecil, mengibaskan tangan, menyambut pahlawan laut mereka. Saat TUG Hindia bersandar, tepuk tangan membahana. Beberapa pedagang membawakan nasi megono hangat dan teh panas untuk para awak. Pak Basri turun dari kapal dengan langkah berat, wajahnya pucat.”Besok mesin harus turun, Kapten…” katanya lemah. Kapten Willem tertawa keras.”Besok kita benerin. Malam ini kita rayakan. Hidup masih panjang, Basri!”Mas Joyo menggoda.”Kita makan sate kambing, Kapten! Saya yang traktir!” Willem mengangguk, senyumnya lebar.”Kalau begitu, dua puluh tusuk untuk saya!” Tawa mereka pecah, bercampur dengan suara ombak kecil yang menghantam pelabuhan. Di bawah langit senja Pekalongan yang mulai cerah, TUG Hindia beristirahat — siap menantang lautan lagi esok hari.(*)

Oleh Elok Puji Utami