Desa Sodong adalah Desa yang terletak di Kelurahan Purwosari Kecamatan Mijen Kota Semarang ,desa ini juga disebut kampung anggrek karena warga sekitar yang banyak membudidayakan bunga cantik tersebut. Kondisi sosial dan budaya di Desa Sodong masih sangat kental dengan tradisi dan budaya-budaya yang masih dilestarikan tetapi lama kelamaan tradisi ini akan terkikis oleh waktu dengan majunya perkembangan teknologi ataupun warga nya yang tidak mau melestarikan salah satunya ada tradisi nyadran.
Tradisi Nyadran adalah tradisi budaya masyarakat Islam Jawa untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Setiap daerah di Jawa, khususnya Jawa Tengah yang selalu mempunyai tata urutan cara tersendiri dalam melaksankannya walaupun sama-sama dilaksanakan sebelum Ramadan. Selain untuk memperingati akan datangnya bulan Ramadan, Nyadran juga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT akan limpahan rahmat, rezeki dan berkahnya selama satu tahun. Juga dimaknai sebagai sebuah kerukunan untuk menciptakan hidup yang damai sama hal nya dengan masyarakat desa sodong yang mempunyai tradisi nyadran tersendiri.
Sadran atau Nyadran merupakan tradisi yang mengakar kuat dalam budaya Jawa, berasal dari kata “Sarddha” yang berarti upacara penghormatan bagi orang yang telah meninggal. Ritual ini dilakukan dengan ziarah ke makam, di mana keluarga membawa menyan, bunga, dan air untuk mendoakan arwah leluhur.Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat menyebut Nyadran sebagai ritual yang mengintegrasikan kepercayaan agraris dengan penghormatan kepada leluhur, yang mencerminkan hubungan antara manusia dan alam.
Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara kepercayaan animisme yang masih ada di masyarakat sebelum kedatangan Islam dan ajaran Islam itu sendiri. Para Wali Songo memadukan ritual ini menjadi bentuk penghormatan yang lebih spiritual, menjaga nilai-nilai luhur sambil memperkenalkan ajaran baru. Ziarah ke makam, terutama makam yang dianggap sebagai cikal bakal desa, merupakan cara untuk menghormati leluhur dan menjaga hubungan spiritual dengan mereka.
Upacara Nyadran dilaksanakan masyarakat Desa Sodong sebagai kegiatan kemasyarakatan berupa makan bersama seluruh Desa dan sebelumnya membersihkan petilasan Jati Ombo, serta acara khusus untuk mempersiapkan datangnya bulan suci Ramadan, yang rutin dilakukan setiap Selasa Kliwon bulan Ruwah dalam kalender Jawa. Sedangkan Jati Ombo merupakan tempat dilaksanakannya Nyadran. Jati Ombo terletak di pojok Desa Sodong dan tempat ini dipercaya masyarakat desa sodong sebagai peninggalan sejarah dimana dulu Sunan Kalijaga pernah beristirahat dan memotong kayu jati yang sangat besar ditempat ini, bagian kayu jati yang konon dipotong oleh Sunan Kalijaga saat ini masih ada di dalam hutan-hutan disekitaran Jatiombo dan uniknya bagian bawah kayu tersebut hingga sekarang tidak tumbuh sebagai pohon baru dan tidak mati sebagaimana pohon-pohon disekitar yang setelah ditebang biasanya lama kelamaan akan layu dan mati. Jadi kondisi pohon yang ditebang oleh Sunan Klijaga itu masih utuh seperti pertama kali di tebang, dan bagian tengah batang pohon yang ditebang oleh Sunan Kalijaga itu konon untuk membangun Masjid Agung Demak, yang berada di kota Demak.
Tradisi Nyadran ini diadakan selain sebagi wujud untuk melesatrikan kebudayaan dan rasa syukur terhadap Allah swtT. Tradisi nyadran di adakan sebagai wujud untuk menghormati Sunan Kalijaga yang telah singgah di jatiombo dan membuat Petilasan tersebut. Adanya petilasan di desa ini membuat adanya nilai tambahan yaitu sebagai bentuk peninggalan sejarah yang harus di ingat dan dijaga nilai sejarahnya. Sebagai masyarakatnya saya merasa bangga dan mulai untuk tidak melupakan sejarah yang ada. Membagikan informasi tentang Tradisi Nyadran disini dan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Tradisi Nyadran tersebut.
Dahulu sebelum Nyadran berlangsung para masyarakat Desa Sodong selalu menampilkan pertunjukan seperti gamelan dan jaranan atau kuda lumping sebagai persembahan untuk orang-orang yang dituakan dan di hormati dan juga sebagai hiburan bagi masyarakt yang datang mengikuti acara Nyadaran. Namun, semenjak Bapak H. Dartono yang pada saat itu menjabat sebagai ketua RW 02 sekaligus orang yang mengajarkan gamelan meninggal dunia, tidak ada lagi yang memainkan gamelan sebagai pembukaan Nyadran. Ini terjadi karena tidak adanya pengganti yang bisa mengajarkan ke anak-anak Desa. Hanya kuda lumping yang sampai sekarang masih eksis dipertunjukan namun tak sekhidmat dahulu.(*)
Oleh Denissya Softiani