Kabut pagi menyelimuti jalan setapak menuju Curug Cantel. Dedaunan masih basah, dan aroma tanah bercampur embun memberi sensasi tenang sekaligus menegangkan. Lila menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak entah karena udara tipis di lereng gunung, atau perasaan tak menentu sejak tadi malam. Ia tak tahu pasti.
Di sampingnya, Raka berjalan tenang, membawa ransel kecil berisi minuman dan bekal. Mereka sudah lama bersahabat, tapi sejak Raka mengajak Lila ke tempat ini secara tiba-tiba, semuanya terasa sedikit berbeda. Ada yang berubah. Ada yang belum terucap.
“Curug Cantel… kamu yakin ini bukan cuma buat iseng foto-foto?” tanya Lila, mencoba mengusik keheningan.
Raka menoleh dan tersenyum. “Nggak. Tempat ini… katanya bisa bantu seseorang menemukan apa yang hilang.”
Lila mengernyit. “Apa yang hilang?”
“Cinta, kepercayaan… atau bagian dari dirinya yang pernah tersesat,” jawab Raka tanpa menatapnya.
Setelah berjalan hampir 20 menit, mereka sampai di bibir curug. Dan di sanalah keajaiban itu mulai terasa. Air terjun itu benar-benar menakjubkan—turun dengan aliran menyamping seperti sedang memeluk tebing hitam di sisinya. Bentuknya seolah membelit erat, menyentuh batu tanpa terputus. Indah, tapi juga misterius.
“Mereka menyebut ini ‘cemantel’,” ucap Raka pelan. “Air yang menyentuh dengan erat. Seolah nggak mau lepas.”
Lila berjalan mendekat, menyentuh batu yang lembap di sisi curug. “Ada rasa… kayak sedih. Tapi juga tenang. Aneh.”
Angin bertiup kencang seolah merespons ucapannya. Lalu dari arah belakang terdengar suara tua, berat namun tenang. “Karena air ini menyimpan banyak kisah. Cinta yang ditinggalkan. Cinta yang terikat. Dan cinta yang tak pernah sempat terucap.”
Seorang nenek tua berdiri di belakang mereka. Mengenakan selendang batik yang melambai tertiup angin, ia tampak seperti bagian dari tempat ini. Matanya tajam, namun tak menakutkan.
“Kalian berdua… sudah siap menerima kebenaran yang tersimpan di sini?” tanyanya tanpa basa-basi.
Lila dan Raka saling pandang, bingung. “Maksudnya, Nek?” tanya Lila pelan.
”Curug ini bukan tempat biasa. Setiap orang yang datang ke sini membawa niat dalam hatinya. Kalau niatnya tulus, air ini akan membisikkan jawaban.”
Raka menatap curug, lalu menunduk. “Kami cuma… ingin tahu, apakah benar air ini bisa… membantu seseorang menemukan cinta?”
Nenek itu tersenyum samar. “Bukan airnya. Tapi hatimu yang memutuskan. Tapi ada satu hal yang perlu kalian tahu… Di balik keindahan curug ini, ada cinta yang tak pernah selesai. Sepasang kekasih yang dulu datang ke sini dan berjanji tak akan berpisah. Tapi salah satu dari mereka mengingkari. Hingga kini, arwahnya masih menyatu dengan air ini. Menunggu… agar ada cinta yang benar-benar tulus datang menggantikan.”
Lila bergidik. “Arwah?”
“Bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk mengingatkan… siapa pun yang datang membawa cinta palsu ke tempat ini, akan merasakan akibatnya,” jawab si nenek.
Keheningan menyelimuti mereka bertiga. Lila menatap curug dengan perasaan campur aduk. Ia lalu melangkah pelan ke aliran air, mencuci wajahnya. Airnya sangat dingin, menusuk kulit, namun tiba-tiba terasa hangat di dada.
Saat ia menutup mata, sebuah suara lembut terdengar seperti dari dalam air:
“Jangan takut mencinta… jika hatimu sungguh bersih.”
Ia membuka mata, menatap ke arah Raka yang kini juga membasuh wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Di saat itu, semuanya menjadi jelas. Bahwa Raka… bukan hanya teman. Ia adalah rumah. Ia adalah orang yang diam-diam selalu ada, tapi belum pernah diberi ruang untuk masuk.
“Aku selama ini nunggu kamu sadar,” bisik Raka.
Lila terdiam, matanya berkaca-kaca. “Dan aku baru sadar sekarang… ternyata aku sudah jatuh sejak dulu.”
Curug Cantel tetap mengalir, namun suara airnya seperti berubah. Ada harmoni baru. Seolah air itu turut tersenyum. Dari kejauhan, si nenek menyaksikan mereka dalam diam. Lalu berbalik pergi sambil berbisik, “Satu kisah cinta telah diselesaikan… agar cinta baru bisa mulai.”
(*)
Oleh Anggraheni Karyaningtyas