Syekh Jangkung

Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki suatu cerita rakyat yang diwariskan secara turun-menurun dan menganduung nilai moral serta kehidupan masyarakatnya. Adapun berikut adalah salah satu cerita rakyat yang terkenal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Adalah legenda Syekh Jangkung, atau sering dikenal juga dengan panggilan Saridin. Kisah ini bukan hanya menceritakan tentang kehebatan atau kesaktian beliau tetepi juga menceritakan tentang cara dakwah beliau yang bijak dan penuh kearifan lokal.

Syekh Jangkung yang miiliki nama asli Saridin merupakan sosok yang berasal dari suatu desa di pati, lebih tepatnya dari Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Ia hidup pada masa wali songo, khususnya sezaman dengan Sunan Kudus. Diceritakan bahwa sejak kecil Saridin sudah menunjukan keanehan dan keunikan dalam berpikir yang berbeda dengan anak kecil seusianya. Beliau di panggi Syekh Jangkung juga bukan karena alasan tertentu, beliau dipanggil begitu dikarenakan fisiknnya yang tinggi dan kurus .Adapun “jangkung” dalam Bahasa Jawa adalah tinggi.

Syekh Jangkung juga dikenal masyarakat sebagai muridnya Sunan Kudus. Namun cara dakwah atau penyampaiannya kepada masyarakat berbeda dengan gurunya yaitu Sunan Kudus. Syekh Jangkung lebih memilih dakwah dengan menggunakan metode humor, sindiran halus, dan perbuatan nyata, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat desa yang masih hidup sederhana.

Salah satu kisah beliau yang terkenal adalah Ketika beliau di uji oleh Sunan Kudus. Dikisahkan Sunan Kudus meminta kepada Syekh Jangkung untuk menggambil air dari Sungai dengan menggunakan keranjang bambu yang berlubang. Permintaan itu Nampak mustahil, namun dengan keyakinan dan doa, Saridin mampu membawa air tersebut tanpa tumpah kepada Sunan Kudus. Hal ini menjadi simbol bahwa keimanan dan keikhlasan dapat mengatasi keterbatasan manusia.

Hingga kini pun makam Syekh Jangkung masih dapat dikunjungi di Desa Londoh, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Makamnya ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah, terutama pada bulan-bulan tertentu. Mereka datang untuk berdoa, mengenang ajarannya, dan meneladani kesederhanaan hidupnya.

Legenda Syekh Jangkung (Saridin) bukan hanya sekedar cerita rakyat, tetapi juga merupakan warisan budaya serta spiritual masyarakat Pati. Dari kisahnya kita dapat belajar bahwa kebaikan tidak harus ditunjukan dengan kata-kata besar, melainkan dengan perbuatan sederhana, hati yang tulus serta niat untuk menebar manfaat. (*)

Oleh Firnando Adiitya Firdaus