Awal mula saya masuk pesantren adalah setelah saya lulus dari sekolah dasar. Keputusan itu sebenarnya tidak datang dengan mudah. Saya sempat merasa ragu dan takut, karena saya harus hidup jauh dari keluarga, teman lama, dan suasana rumah yang selalu membuat nyaman. Namun, orang tuaku meyakinkan bahwa menuntut ilmu di pesantren akan membawa banyak kebaikan dan pengalaman berharga yang tidak bisa didapat di tempat lain.
Hari pertama di pesantren terasa begitu menegangkan. Saya datang dengan koper besar berisi pakaian, beberapa buku, dan sedikit bekal dari rumah. Saat memasuki gerbang pondok, saya melihat deretan asrama sederhana dan halaman luas yang dipenuhi santri baru sepertiku. Suara lantunan Al-Qur’an terdengar dari masjid, membuat suasana terasa tenang namun juga penuh wibawa. Para ustadzah menyambut kami dengan senyum ramah, sementara para santri senior membantu membawa barang-barang kami ke kamar asrama.
Malam pertama menjadi momen yang paling berat. Saya belum terbiasa tidur di kamar dengan banyak orang. Rasanya rindu rumah, rindu makanan ibu, dan rindu tempat tidurku sendiri. Namun di sisi lain, ada rasa penasaran akan seperti apa kehidupan di pesantren selanjutnya. Dalam hati, aku bertekad untuk kuat dan beradaptasi sebaik mungkin.
Hari-hari di pesantren dimulai sejak dini hari. Saya harus bangun pukul empat pagi untuk shalat tahajud, lalu dilanjutkan dengan mengaji dan menghafal Al-Qur’an sebelum waktu subuh tiba. Awalnya, saya sering mengantuk dan merasa berat untuk membuka mata.
Namun setelah beberapa minggu, rutinitas itu menjadi bagian dari hidupku. Ada perasaan bahagia setiap kali aku bisa menambah hafalan baru atau berhasil membaca dengan tartil tanpa kesalahan.
Selain kegiatan ibadah, saya juga mengikuti pelajaran umum di kelas. Jadwalnya cukup padat, mulai dari pagi hingga sore hari. Di sela-sela waktu belajar, saya bergantian membersihkan lingkungan asrama, mencuci pakaian, dan menyiapkan perlengkapan pribadi. Di pesantren, semua harus dilakukan mandiri. Tidak ada orang tua yang membantu mencuci baju atau menyiapkan sarapan, sehingga saya belajar untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Meskipun padat, kehidupan di pesantren tidak selalu serius. Ada banyak momen lucu dan menyenangkan yang membuat saya tertawa bersama. Misalnya, ketika air di kamar mandi tiba-tiba habis dan semua santri berebut mencari ember sisa air, atau ketika sandal tertukar karena bentuknya hampir sama. Kadang juga saya menyelinap ke dapur untuk membuat mi instan diam-diam saat malam hari. Dari kejadian-kejadian sederhana itu, tumbuh rasa kebersamaan yang kuat di antara kami.
Selain belajar dan beribadah, pesantren juga mengajarkan tentang disiplin. Setiap kegiatan memiliki aturan dan jadwal yang harus ditaati. Jika terlambat datang ke masjid, ada hukuman ringan seperti membaca surat pendek atau membersihkan halaman. Awalnya terasa menegangkan, tetapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa semua itu mendidik kami agar terbiasa menghargai waktu dan tanggung jawab.
Yang paling berkesan bagiku adalah suasana kebersamaan di antara para santri. Kami seperti keluarga besar yang saling mendukung. Ketika salah satu dari kami sakit, teman-teman lain dengan sigap membantu. Saat ada yang merasa sedih atau rindu rumah, kami saling menghibur dengan canda dan doa. Dari mereka, aku belajar arti persahabatan yang sesungguhnya, bukan hanya berbagi tawa, tapi juga saling menguatkan di saat sulit.
Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan di pesantren, saya mulai menyadari betapa berharganya pengalaman itu. Saya bukan hanya belajar tentang ilmu agama, tetapi juga tentang kehidupan. Saya belajar bagaimana menghadapi rindu, menahan ego, bersabar dalam kesulitan, dan bersyukur atas hal-hal kecil yang sering terlewat.
Pesantren telah mengubah caraku memandang dunia. Saya menjadi lebih mandiri, lebih disiplin, dan lebih menghargai waktu. Saya juga belajar bahwa menuntut ilmu tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang melatih hati agar selalu ikhlas dan rendah hati.
Kini, setiap kali saya pulang ke rumah, saya membawa banyak cerita tentang tawa di asrama, perjuangan menghafal ayat-ayat suci, dan kisah persahabatan yang tak terlupakan. Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari kehidupan pesantren, tempat di mana ilmu dan akhlak tumbuh berdampingan.
Dari pesantren, saya belajar bahwa perjalanan ilmu adalah perjalanan panjang yang penuh ujian, tetapi setiap langkahnya mendekatkan kita pada cahaya pengetahuan dan kedewasaan. Dan bagiku, pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua yang membentuk siapa diriku hari ini.
Pesantren mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kosong, dan adab tanpa ilmu adalah buta. Keduanya harus berjalan seimbang agar kita tumbuh menjadi insan yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.(*)
Oleh Aulia Lintang Chairany