“Sore: Istri dari Masa Depan”

Sutradara: Yandy Laurens

Durasi: 120 menit

Pemain: Sheila Dara, Dion Wiyoko, Goran Bogdan, Maya Hasan, Mathias Mucus, Livio Badurina, Lara Nekic

Orientasi

Sore: Istri dari Masa Depan merupakan salah satu film garapan Yandy Laurens. Ia menggunakan formula yang jarang digunakan oleh kebanyakan sutradara film di Indonesia. Film ini mengombinasikan unsur realisme, fantasi, romantis, dan visual yang memanjakan mata penonton selama berada dalam bioskop. Film ini mengisahkan tentang seorang wanita yang berusaha menyelamatkan suaminya di masa depan agar bisa hidup menjadi pribadi yang lebih baik. Diangkat dari sebuah serial produksi Inhype Pictures bersama Tropicana Slim yang ditayangkan pada 1 Februari 2017 di Kanal YouTube Tropicana Slim. Sutradara dari serial dan film ini adalah Yandy Laurens, dengan Dion Wiyoko sebagai Jonathan, dan Tika Bravani sebagai Sore pada serialnya. Dalam versi layar lebarnya, karakter Sore diperankan oleh Sheila Dara. Latar tempat yang digunakan untuk syuting film ini meliputi Kota Groznjan dan Zagreb di Kroasia, sebuah hotel di Jakarta, juga beberapa lokasi di Finlandia. Hal ini membuat kesan yang diberikan seperti film yang mahal dari segi latar dan waktu.

Sinopsis

Film ini mengisahkan hubungan kompleks antara Jonathan dan Sore. Jonathan adalah seorang fotografer yang kerap menyepelekan kesehatannya, sementara Sore hadir sebagai sosok istri yang sabar dan penuh kasih sayang. Dalam upaya memahami dan menyelamatkan suaminya, Sore melakukan perjalanan tak biasa. Ia kembali ke masa lalu dengan membawa misi penting untuk mengubah takdir hidup sang suami.

Berlatar di sebuah kota kecil di Kroasia, Sore: Istri dari Masa Depan menghadirkan refleksi tentang hidup, kematian, dan kesempatan kedua. Sore datang dengan pengetahuan yang tidak dimiliki siapapun. Ia tahu segala sesuatu tentang kehidupan Jonathan, termasuk tentang kapan waktunya akan habis.

Kemunculan Sore di masa lalu mengejutkan Jonathan. Ia tiba-tiba hadir dan mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Tentu saja, hal ini sulit dipercaya. Namun, seiring waktu, Jonathan menyadari bahwa Sore hadir bukan tanpa alasan. Ia berjuang untuk mengubah gaya hidup dan kebiasaan Jonathan yang berantakan, sebelum semuanya terlambat.

Dalam perjalanannya, Sore mulai membuka sedikit demi sedikit rahasia di masa depan, yang perlahan mengguncang keyakinan Jonathan. Namun, misi ini tak berjalan mulus. Saat masa lalu, masa kini, dan masa depan saling bersinggungan, konflik dan kejutan tak terduga pun muncul. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “Akankah Sore berhasil menyelamatkan hidup Jonathan, atau justru waktu mengambil alih segalanya?”

Analisis

Tema dalam film ini disuguhkan dengan formula yang jarang digunakan oleh kebanyakan penulis film di Indonesia. Menggabungkan nuansa fantasi, realisme, dan romansa membuat film ini memiliki daya tarik tersendiri bagi penikmat film. Dalam penulisannya, Yandy Laurens berhasil membuat penonton turut merasakan bagaimana lelahnya Sore dalam menjalankan misinya untuk mengubah hidup suaminya dengan terus kembali ke masa lalu. Yandy Laurens berhasil membawa film ini masuk ke dalam hati dan pikiran penonton, sehingga selama film berjalan, mata penonton tidak bisa lepas dari layar bioskop.

Penokohan Dion Wiyoko sebagai Jonathan dan Sheila Dara sebagai Sore dikatakan sukses membawakan tokoh Jo dan Sore dengan chemistry yang begitu kuat. Terutama pada tokoh Sore, Sheila Dara berhasil menyalurkan perasaan lelah yang begitu dalam melalui tatapan matanya selama film ini berjalan. Tidak banyak kata-kata yang dituangkan, hanya dengan tatapan matanya, penonton dapat merasakan betapa lelahnya seorang Sore selama perjalanannya menyelamatkan hidup suaminya.

Dalam sebuah film, tentunya tidak lepas dari latar musik yang dipakai untuk menambah kesan estetika. Film Sore: Istri dari Masa Depan membuat formula yang mutakhir pada pemilihan lagu sebagai latar musik film ini. Pemilihan lagu Pancarona dan Terbuang dalam Waktu yang dinyanyikan oleh Barasuara merupakan pilihan yang sangat tepat. Hal ini dikarenakan, kedua lagu tersebut memiliki nuansa yang begitu magis dan selaras dengan alur serta gaya editing yang sangat megah.

Film ini berakhir dengan bahagia. Dimana Sore dan Jonathan dipertemukan kembali di masa depan, tetapi dengan ingatan yang terhapus. Meskipun film ini menyuguhkan akhir yang bahagia, tetapi film ini sukses membuat penonton banjir air mata dikarenakan terpukau oleh alur, teori, dan gaya editing-nya. Yandy Laurens berhasil membuat pikiran dan hati penonton jatuh ke dalam cerita yang ia sampaikan pada film yang ia buat.

Evaluasi

            Meskipun film ini memiliki keunggulan dari beberapa aspek, tetapi perasaan lelah yang berusaha disampaikan oleh Yandy Laurens terkadang membuat penonton menjadi jenuh. Ketika penonton telah sampai di pertengahan film, alur yang disuguhkan mulai terasa sedikit membosankan. Dengan pola yang sama, seperti gagalnya Sore menyelamatkan hidup Jonathan, lalu ia kembali lagi ke masa lalu untuk mengulangnya dari awal, membawakan nuansa yang lelah tetapi juga bosan. Untuk sebagian orang mungkin masih bisa menikmati perjalanan alur pada film ini. Namun, bagi mereka yang tidak begitu suka alur yang lambat, ini akan menjadi film yang terlalu panjang untuk dinikmati.

Muhammad Zaki Azhar Maulana