Tentang Candi Lawang di Boyolali

Candi Lawang adalah salah satu candi Hindu kuno yang berada di Dusun Dangean, Kelurahan Gedangan, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah. Terletak pada bagian sisi timur Gunung merapi di ketinggian ketinggian 975 meter di atas permukaan laut. Candi lawang ini letaknya tidak jauh dari Candi Sari (sekitar 900 m) dan 25 M dari Kali Gandul 

Candi ini dibuat sekitar abad ke-9 sampai ke-10, saat Kerajaan Mataram Kuno sedang jaya-jayanya. Kerajaan ini, yang pusatnya ada di sekitar Magelang dan Yogyakarta sekarang, terkenal sebagai tempat berkembangnya seni, bangunan, dan agama di Indonesia zaman dulu. Candi Lawang mungkin dibuat sebagai tempat sembahyang untuk penganut Hindu, mungkin untuk dewa seperti Shiva, karena bentuknya mirip dengan candi lain seperti Prambanan. Kompleks Candi Lawang berada di lingkungan yang bertingkat-tingkat, langsung berbatasan dengan area permukiman warga dan tebing-tebing yang tidak terlalu curam.

Keberadaan Candi Lawang pertama kali diketahui pada tahun 1919 berkat laporan dari P.A. Hadiwijaya, Kepala Perkebunan Sukabumi di Paras. Ia menyampaikan bahwa ada sebuah candi yang terkubur di tengah area kebun kopi miliknya. Menindaklanjuti laporan tersebut, penggalian (ekskavasi) situs candi pun dilakukan setahun setelah penemuan awal itu.

Candi Lawang nama “Lawang” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti “pintu”, merujuk pada struktur pintu masuk candi induk yang masih tampak menonjol di antara reruntuhan bangunan lainnya. Candi in diperkirakan berdiri pada abad ke-9 atau 10, berdasarkan gaya arsitektur dan inskripsi beraksara Jawa Kuno yang tertulis di sisi kiri pintu.

Bentuk bangunan di kompleks Candi Lawang yaitu ditemukan lima struktur bangunan yaitu candi Induk, Candi Perwara I, Candi Perwara II, Candi Perwara III, dan Candi Perwara IV. 

Candi perwara I berukuran 12,3 x 3,2 meter dan dibangun berhadapan dengan candi induk. Meski hanya menyisakan fondasi dan reruntuhan batu yang tidak berbentuk, candi ini terbilang unik karena berdenah persegi panjang serta dilengkapi tiga tangga masuk.

Candi perwara II yang berukuran 3,32 x 3,33 meter terletak di sebelah kanan candi induk. Kondisi bangunan candi ini sudah hancur, di atas fondasinya hanya menyisakan tumpukan batu dan sebuah yoni.

Candi perwara III terletak di sebelah kiri candi induk. Ukurannya hampir sama dengan candi perwara II. Bangunan candi ini juga sudah runtuh, tetapi menyisakan jejak tangga masuk berukuran 1,57 x 1,06 meter. Sementara candi perwara IV, denahnya sudah tidak terlihat jelas. Keempat candi ini diperkirakan telah dibangun pada abad ke-8 dan menjadi saksi bisu dari kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.

Diantara kelima bangunan yang ada, Candi Induk adalah yang paling utuh dan kondisinya paling baik. Bagian-bagiannya seperti alas candi (batur), kaki, tubuh bawah, dan pintu masih dapat dilihat. Sementara itu, empat bangunan pendamping (perwara) lainnya hanya menyisakan pondasi dan bagian alasnya saja. Di dalam Candi Induk, terdapat pula sumuran berukuran sekitar 0,82 x 0,9 meter dengan kedalaman hampir 3 meter.

Pada dasarnya, Candi Lawang jauh lebih berharga daripada sekadar puing batu yang tersembunyi di balik kebun kopi Desa Gedangan. Candi ini merupakan penanda sejarah yang tak ternilai. Situs ini membuktikan kejayaan peradaban Hindu Syiwa Mataram Kuno, menegaskan bahwa lereng Merapi-Merbabu adalah pusat kebudayaan yang dinamis pada abad ke-9. Struktur candi induk dengan “pintu” (Lawang) yang menonjol, dihiasi inskripsi kuno, dan dikelilingi candi pendamping yang tersisa pondasinya, menyajikan misteri arsitektur yang penuh makna spiritual.

Meski dianggap “candi kecil” dibandingkan Borobudur atau Prambanan, lokasinya yang tersembunyi dan langsung berbatasan dengan rumah penduduk justru menjadi keunikan tersendiri. Hal ini mengingatkan kita bahwa budaya adiluhung dari masa lalu sesungguhnya sangat erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari relief-relief dan bangunannya yang masih ada, kita bisa belajar tentang akar budaya bangsa kita yang kaya dan beragam. (*)

Oleh Lia Ernawati