Memperkenalkan BIPA untuk Petutur Asing

BIPA ialah semacam program dalam negeri untuk memperkenalkan bahasa Indonesia ke pada petutur asing. Maka dari itu, bahan ajar, media, atau alat-alat penunjang pembelajaran BIPA perlu untuk dikembangkan. Namun, ada beberapa lembaga BIPA yang kesulitan dalam mengembangkan bahan ajar ataupun medianya. Ditambah beberapa dari mereka belum terlalu tahu materi apa saja yang dapat dibelajarkan pada BIPA. Dalam penelitian ini, penulis kan melakukan studi literatur seperti apa bahan ajar dan isi materi yang dibelajarkan pada BIPA di era sekarang ini?

Bahasa Indonesia ialah bahasa persatuan dan bahasa nasional untuk negara Indonesia. Bahasa Indonesia sendiri datang dari rumpun melayu. Sehingga, kita terkadang pernah mendengar bahwa antara Indonesia dan Malaysia masih satu rumpun. Bahasa Indonesia sendiri diakui oleh petutur Indonesia melalui sumpah pemuda tahun 1928 pada teks ketiga yang berbunyi “Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Jumlah dari petutur bahasa Indonesia sendiri telah mencapai angka lebih dari 250 juta jiwa. Sehingga membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa dengan petutur terbanyak ke-10 sedunia. Prestasi ini patut kita banggakan karena bahasa persatuan kita telah dikenal banyak orang. Ditambah dengan slogan dari Trigatra Bangun Bahasa yang berbunyi “utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing”.

Per 20 November 2023, bahasa Indonesia sendiri diresmikan sebagai bahasa resmi di UNESCO. Penetapan ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam konferensi umum UNESCO. Oleh karena itu, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi oleh UNESCO yang ke-10 mengikuti bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Prancis, Spanyol, Rusia, Hindi, Italia, dan Portugis.

Namun, mempelajari bahasa baru itu susah-susah gampang. Walaupun bahasa Indonesia ialah bahasa yang mudah untuk dipelajari, namun sebagian orang perlu untuk belajar dan beradaptasi dulu. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi kita dalam memperkenalkan Bahasa Indonesia ke kancah internasional.

Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah program BIPA. BIPA sendiri ialah program dari pemerintah untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia bagi petutur asing. Tujuan dari program ini ialah memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia ke dalam kancah internasional untuk menciptakan image positif bagi negara Indonesia.

Penelitian pertama dilakukan oleh Siahaan et al (2023) tentang pengembangan bahan bacaan untuk pengajaran BIPA. Penelitian milik Siahaan secara garis besar membahas bentuk “rekomendasi” bahan bacaan dan media pembelajaran membaca untuk program BIPA. Pengembnagan media ini datang dari latar belakang berupa tonggak sejarah yang dibuat oleh Sumpah Pemuda pada 1928. Tonggak ini menyatakan jika Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan negara Indonesia. Ditambah dengan trigatra bahasa yang berbunyi mengutamakan bahasa Indonesia, menambahkan bahwa biarpun bahasa internasional bukanlah bahasa Indonesia, kita perlu mengutamakan Bahasa Indonesia untuk dikenalkan pada kancah internasional. Ada beberapa jenis bahan bacaan yang dikembangkan oleh Siahaan dalam penelitiannya, antara lain bahan bacaan dari Wordnet, Canva atau Kahoot.

Selain penelitian milik Siahaan et al, penelitian milik Muzaki (Muzaki, 2021) juga melakukn pengembngan pembeljarn BIPA. Penelitian ini berawal pada kurangnya bahan ajar untuk pembelajaran BIPA yang memuat kebudayaan. Sehingga, Muzaki berinisiatif untuk membuat dan mengembangkan bahan ajar untuk BIPA. Bahan ajar yang dibuat Muzaki sendiri ilah bhn ajar seperti RPP yang dibuat dalam bentuk PDF & berisikan materi tentang teks deskripsi, narasi, dan eksplanasi. Keseluruhan teks menggunakan objek wisata Kota Malang. Keseluruhan teks juga telh menggunakan keterampilan menyimak, membaca, berbicara dan menulis. 

Kita sudah melihat bagaimana program BIPA direalisasikan, bagaimana tantangan dalam pembelajaran BIPA, dan bagaimana para peneliti berkontribusi terhadap proyek BIPA. Sehingga, program BIPA ialah program yang berguna untuk mewujudkan trigatra bahasa dan memperkenalkan bahasa Indonesia di kancah Internasional.(*)

Oleh Kevin Zefanya Reinhard Sinaga