Bahasa terus tumbuh, berubah, dan menyesuaikan diri dengan zamannya. Ada kata-kata yang dulu dianggap biasa, kini menjadi tabu. Ada pula yang semula bermakna kasar, kini terdengar akrab di telinga. Salah satu kata yang mengalami perjalanan makna paling menarik dalam bahasa Indonesia adalah “bajingan”, sebuah kata yang kini identik dengan umpatan, tetapi dulunya justru berhubungan dengan pekerjaan yang sederhana dan jujur.
Kalau hari ini seseorang memanggil orang lain “bajingan!”, secara spontan kita akan menganggapnya penghinaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat makna bajingan sebagai “penjahat, pencopet” dan digunakan sebagai kata makian bagi orang yang dianggap tidak tahu sopan santun. Namun, makna itu ternyata baru muncul dalam periode modern. Di masa lalu, kata “bajingan” justru punya makna yang sangat berbeda.
Banyak catatan budaya Jawa menyebut bahwa pada masa kerajaan-kerajaan Mataram dahulu, bajingan adalah sebutan bagi pengendali atau kusir gerobak sapi. Di era ketika kendaraan bermotor belum ada, gerobak sapi atau cikar menjadi alat transportasi utama untuk mengangkut hasil bumi, kayu, dan kebutuhan sehari-hari antar desa. Orang yang bertugas mengendarainya disebut bajingan, seseorang yang bertanggung jawab atas perjalanan barang dan keselamatan ternak. Jadi, bisa dibilang, bajingan adalah “sopir truk” masa lampau.
Dalam artikel Kompasiana berjudul Asal-usul Kata Bajingan, dijelaskan bahwa profesi ini justru cukup dihormati. Para bajingan harus memahami jalan, waktu tempuh, bahkan karakter sapi-sapi mereka. Di beberapa daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, kata “bajingan” bahkan sempat menjadi simbol kerja keras, orang yang berkeliling desa dengan gerobak, menjajakan barang atau hasil panen.
Ada juga versi rakyat yang beredar dari mulut ke mulut. Salah satunya menyebut bahwa istilah bajingan berasal dari nama seorang tokoh, Mbah Jingan, yang dahulu dikenal sebagai pengendali gerobak sapi yang baik hati dan disegani. Lama-kelamaan, masyarakat menyebut para pengikut atau orang-orang seprofesi dengannya sebagai “anak-anak Jingan” atau “Ba Jingan”, yang kemudian melebur menjadi bajingan.
Meski kisah ini tidak tercatat dalam sumber sejarah resmi, cerita semacam ini sering muncul dalam tradisi lisan masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok pekerja keras di masa lalu.
Lalu, bagaimana bisa kata yang dulunya netral bahkan positif berubah menjadi makian?
Beberapa sumber menjelaskan perubahan makna ini terjadi karena pergeseran sosial dan perubahan nilai masyarakat. Pada masa kolonial, pengangkut barang dengan gerobak sapi sering dianggap kelas bawah. Mereka kerap dikaitkan dengan perilaku kasar di jalan, tidur di pinggir sawah, atau bahkan mencuri sebagian muatan. Dari sinilah muncul stereotip negatif terhadap para bajingan.
Ada pula versi lain yang lebih linguistik. Karena gerobak sapi berjalan sangat lambat, pengguna jasanya sering mengeluh, “Bajingan, lama sekali sampai!” Lama-kelamaan, kata “bajingan” pun berubah fungsi, dari nama profesi menjadi ekspresi kekesalan. Inilah contoh bagaimana bahasa bisa berubah akibat kebiasaan tutur masyarakatnya.
Dalam artikel Jernih.co, pergeseran ini disebut sebagai contoh konotasi ganda: awalnya positif (orang yang bekerja), tapi karena kebiasaan konteks negatif, maknanya pun ikut memburuk.
Selain faktor sosial, perubahan ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menilai perilaku moral lewat bahasa. Dalam banyak konteks, bajingan bukan sekadar kata makian, tapi penilaian moral: orang yang licik, tidak jujur, dan tidak tahu diri. Bahasa Jawa dan Indonesia modern kemudian mewarisi makna itu sebagai cara mengekspresikan kekecewaan terhadap seseorang.
Padahal, jika kita kembali ke makna asalnya, “bajingan” adalah sosok yang setia menemani jalan panjang, sabar menunggu sapi-sapi berjalan, dan memahami ritme alam. Ironis, bahwa kata yang dulu menggambarkan kesabaran kini justru jadi sinonim dari kemarahan.
Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, muncul upaya dari masyarakat untuk merehabilitasi makna kata bajingan. Beberapa pegiat budaya mencoba menciptakan akronim baru seperti “Bagusing Jiwo Angen-Angening Pangeran”, yang diartikan sebagai “jiwa yang baik, kerinduan kepada Tuhan”.
Walaupun para ahli bahasa dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sebelas Maret menyebut ini hanyalah cocoklogi modern tanpa dasar etimologis, fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat mencoba mengembalikan nilai positif pada kata yang dulu punya makna luhur.
Kini, kata bajingan muncul di berbagai konteks budaya populer. Dalam film, musik, bahkan meme media sosial, “bajingan” sering digunakan bukan lagi untuk menghina, melainkan untuk mengekspresikan emosi yang kuat, bisa marah, kesal, atau bahkan bercanda antar teman. Penggunaan seperti ini menunjukkan bahwa bahasa selalu dinamis; makna bergantung pada siapa yang mengucapkan dan dalam situasi apa.
Sama seperti banyak kata lain yang berubah makna karena konteks sosial, “bajingan” adalah cermin perjalanan masyarakat Indonesia dalam memaknai moralitas dan pergaulan. Dulu ia identik dengan pekerjaan keras, kini dengan perilaku buruk. Tetapi di antara keduanya, tersimpan cerita panjang tentang cara bangsa ini menilai kerja, kelas sosial, dan kesopanan.
Perjalanan kata bajingan memberi kita pelajaran penting bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga cermin kebudayaan. Ia merekam perubahan nilai, konflik sosial, bahkan humor masyarakat. Setiap kali seseorang mengucap kata itu entah dengan marah, bercanda, atau nostalgia, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali jejak panjang sejarah tutur di tanah Jawa.
Mungkin, sudah saatnya kita tidak hanya melihat kata “bajingan” sebagai makian, tapi juga sebagai pengingat bahwa setiap kata punya kisah, dan setiap kisah punya nilai. Dari gerobak sapi yang berjalan lambat di jalan desa, hingga layar ponsel yang memunculkan kata itu dalam lelucon modern, “bajingan” tetaplah bagian dari perjalanan bahasa dan budaya kita. (*)
Oleh Naeli Amalia