Perkembangan Sora dari OpenAI dan Tantangannya

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang pesat di mana sekarang kehidupan manusia banyak bergantung dengan kecerdasan buatan. Salah satu bentuk kecerdasan buatan (AI) yang kita gunakan adalah berbentuk prompt yaitu instruksi umumnya berupa teks yang diberikan kepada AI untuk mendapatkan respons. Dengan inovasi-inovasi yang selalu terjadi pada lingkup AI, Sora dari OpenAI merupakan salah satu inovasi yang akhir-akhir ini menarik banyak perhatian. Dimana respons Sora dari prompt yang diberikan dapat diubah menjadi video realistis layaknya seperti direkam sungguhan.

Dengan teknologi yang Sora miliki sekarang dapat membawa banyak peluang positif. Peluang tersebut ada di bidang pendidikan, perfilman, periklanan, dan juga hiburan. Namun kemampuan teknologi yang Sora miliki tidak hanya mendatangkan peluang yang positif saja, namun ada peluang negatif yang sekarang menjadi kekhawatiran bagi kita.

Di sisi positif memang Sora membawa banyak peluang dan manfaat dalam kemudahan dan efisiensi pembuatan konten, namun di sisi lain Sora menimbulkan banyak permasalahan yang dapat mengancam kita, dari video palsu (deepfake), penyebaran disinformasi dan hoax, dan pelanggaran hak cipta. Juga dari dapat mengancam para pekerja di bidang kreatif di mana peran mereka akan hilang di industri.

Menurut laporan resmi dari OpenAI, Sora dikembangkan menjadi alat mendukung kreativitas manusia mengubah prompt menjadi video realistis dan juga membantu proses pembelajaran visual. Namun para pakar AI seperti dari Stanford University memperingatkan bahwa kemampuan Sora menciptakan video yang hiper-realistis membawa risiko besar apabila jatuh ke tangan yang salah. Kasus-kasus deepfake yang pernah sebelumnya terjadi menunjukkan betapa bahayanya teknologi ini, di mana dapat menimbulkan fitnah, dan manipulasi terkait tokoh publik yang dianggap sangat tidak menghormati bagi tokoh-tokoh publik yang terkena imbasnya.

Kasus nyata yang dapat ditemui di sosial media saat ini juga yaitu merupakan kasus deepfake tokoh publik Martin Luther King Jr. yang di mana OpenAI sendiri sudah memberhentikan dan menghapus akses untuk pengguna Sora membuat video terkait dengan tokoh ini. Video

deepfake ini dianggap sangat tidak menghormati dan menunjukkan betapa bahayanya teknologi ini dan tantangan-tantangan yang perlu dihadapi.

Untuk mengatasi dampak negatif dari Sora, ada beberapa hal yang dilakukan. Salah satunya merupakan watermark digital yang OpenAI berikan pada setiap video hasil dari Sora agar dapat lebih mudah memilah mana konten AI dan mana yang tidak. Di sisi regulasi, OpenAI sudah menerapkan regulasi untuk memastikan penggunaan Sora dilakukan dengan tanggung jawab dan etis. Edukasi pada publik juga menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif dengan mengajarkan masyarakat mana video asli dan video buatan AI.

Walaupun banyak dampak buruk negatif yang dapat terjadi, jangan pandang perkembangan Sora sepenuhnya sebagai ancaman. Karena peluang positif yang didapat dengan adanya pengawasan, regulasi, dan etika yang baik dapat membuat Sora menjadi alat bantu yang berguna memperkaya belajar dan kreativitas.

Oleh Denaya Seta Prirarso