Dalam sepuluh tahun terakhir, jalanan bukan lagi sekadar ruang publik untuk berlalu-lalang. Bagi anak muda, jalanan telah menjadi catwalk tempat identitas visual mereka tampil. Gaya streetwear, yang identik dengan hoodie longgar, celana kargo, dan sneakers, kini menjadi simbol ekspresi diri yang paling mudah dikenali. Fenomena ini bukan sekadar tren mode sementara, melainkan hasil dari perpaduan budaya populer, media digital, dan dinamika sosial anak muda masa kini. Dalam jurnal Fashion-ology: An Introduction to Fashion Studies (2018), Kawamura menyatakan bahwa fashion merupakan “sistem komunikasi sosial” yaitu cara manusia berbicara tanpa kata-kata. Maka, pakaian streetwear anak muda berbicara tentang sikap, keberanian, dan kebebasan.
Budaya surfing dan skateboarding California pada akhir 1970-an adalah tempat streetwear bermula. Merek seperti Stüssy dan Santa Cruz membuat kaus dengan gambar yang mencolok yang menggambarkan gaya hidup bebas di jalanan dan pantai. Seiring berjalannya waktu, budaya ini bertemu dengan komunitas hip-hop New York, yang menghasilkan identitas baru yang lebih lantang dan urban. Keinginan untuk “mendemokratisasi mode” menentang sistem fashion yang hierarkis dan eksklusif adalah alasan dari munculnya streetwear. Pakaian telah berubah menjadi media untuk menyuarakan solidaritas komunitas dan identitas budaya daripada simbol status sosial. Kekuatannya berasal dari fakta bahwa streetwear tidak berasal dari ruang kelas atas, melainkan dari jalan-jalan, tempat gagasan dan energi anak muda bergabung.
Ketika merek-merek besar melihat potensi streetwear, pergeseran fenomena global dimulai. Akhir-akhir ini, kolaborasi Supreme x Louis Vuitton yang luar biasa pada tahun 2017 menandai pertemuan antara dunia streetwear dan dunia mewah. Dalam jurnal International Journal of Fashion Design, Technology, and Education (Barnard & Keiser, 2021), kolaborasi seperti ini disebut sebagai “hybridisasi budaya”. Ini adalah jenis kerja sama yang menggabungkan dua budaya yang sebelumnya tidak setuju satu sama lain. Revolusi ini juga dipercepat oleh media sosial.Anak-anak muda tidak lagi menjadi pengguna pasif di Instagram dan TikTok. Mereka membuat tren, memilih apa yang keren dan layak viral. Dalam jurnal Fashion and Youth Identity in the Digital Age, Lee (2022) menyatakan bahwa gaya berpakaian saat ini berfungsi sebagai “alat negosiasi identitas digital”, di mana setiap unggahan pakaian menjadi bagian dari narasi diri seseorang di dunia maya.
Streetwear adalah pernyataan sosial lebih dari sekadar pakaian.
Ia menandai transisi dari mode yang berfokus pada kelas ke mode yang berfokus pada komunitas. Menurut jurnal Youth and Society (Miller, 2020), busana kota sering menjadi “kode sosial” yang menghubungkan budaya, musik, dan pandangan hidup. Anak muda Indonesia memaknai ini dengan cara yang berbeda. Brand lokal seperti Dominate, Rawtype Riot, dan Thanksinsomnia membuat cerita streetwear yang menggabungkan elemen lokal seperti tipografi khas, simbol budaya, dan isu sosial. Streetwear lokal menjadi platform untuk ekspresi anak muda yang menentang dominasi gaya Barat dan menegaskan identitas Indonesia yang modern dan kritis, menurut penelitian Rizky & Mahardika (2023) dalam “Jurnal Mode dan Kreativitas Indonesia”.
Streetwear bukan sekadar pakaian; ia adalah bahasa anak muda untuk menyuarakan kebebasan, solidaritas, dan kreativitas. Dari jalanan hingga panggung mode global, ia telah menembus batas sosial dan geografis. Menurut Barnard (2021), mode bukan lagi tentang siapa yang memiliki daya beli, melainkan siapa yang memiliki suara. Streetwear adalah suara generasi yang berani tampil apa adanya, baik di dunia nyata maupun digital.(*)
Oleh Yezia Farena