Pada era digital ini membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk dunia fashion. Jika dahulu tren fashion hanya dapat diakses melalui majalah, peragaan busana, atau acara televisi, kini cukup dengan membuka media sosial seperti Instagram, TikTok, atau Pinterest, siapa pun dapat mengetahui tren pakaian terbaru dalam hitungan detik. Media sosial telah menjadi panggung baru tempat fashion berevolusi, menyebar, dan berinteraksi dengan publik secara luas.
Dengan ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial terhadap gaya berpakaian, selera mode, bahkan cara masyarakat memandang identitas diri. Fashion tidak lagi menjadi milik kalangan elite, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terbuka bagi siapa saja.
Media sosial adalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi dan berbagi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Tujuan adanya media sosial sebagai sarana komunikasi untuk menghubungkan antar pengguna dengan cakupan wilayah yang sangat luas, perkembangan media sosial di Indonesia tidak terlepas dari peran teknotlogi digital dunia yang terus berkembang dengan pesat.
Media sosial juga menjadi tempat untuk mencari inspirasi di berbagai bidang salah satunya fashion. Biasanya gaya fashion anak muda sekarang berkiblat pada apa yang menjadi tren di media sosial. kini tren bisa lahir dari pengguna biasa. Contohnya, tren Thrifting atau mix and match yang muncul dari kreativitas pengguna media sosial. Hanya dengan satu unggahan foto atau video yang menarik, gaya berpakaian seseorang bisa menjadi viral dan diikuti jutaan orang di seluruh dunia.
Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook kini berfungsi sebagai “etalase digital” yang bisa di akses siapa saja dan kapan saja. UMKM tidak lagi bergantung pada toko offline untuk menampilkan produk mereka. Melalui unggahan foto atau vidio yang menarik, produk fashion seperti pakaian, hijab, tas, atau aksesoris dapat di pamerkan secara langsung kepada pelanggan. Fitur seperti TikTok Shop bahkan memungkinkan transaksi langsung tanpa perlu keluar dari aplikasi. Hal ini memudahkan pelanggan sekaligus meningkatkan penjualan bagi UMKM.
Selain itu keuntungan dari media sosial adalah biaya promosi yang sangat terjangkau. UMKM dapat membuat konten sendiri , seperti foto produk, vidio tutorial berpakaian, atau testimoni pelanggan. Dengan konten yang menarik dan kreatif, UMKM bisa menjangkau ribuan pengguna tanpa mengeluarkan banyak modal untuk membuat iklan.
UMKM fashion juga dapat memanfaatkan kolaborasi dengan influencer. Influencer adalah orang-orang yang telah memantapkan diri sebagai sumber informasi tepercaya di internet. Mereka memiliki banyak pengikut, basis penggemar, dan pelanggan di berbagai platform media sosial seperti YouTube, Instagram, dan Twitter, Dengan begitu saat Influencer mereka mempromosikan suatu produk dari sebuah brand, mereka akan sangat membantu meningkatkan kesadaran dan meningkatkan penjualan brand itu. Brand tidak memilihih influencer dari jumlah pengikutnya saja tapi mencari influencer yang gayanya selaras dengan citra merek mereka. Misalnya, merek yang berfokus pada olahraga mungkin memilih influencer yang dikenal dengan gaya sporty athleisure.
Dampak negatif tren fashion yang paling menonjol saat ini ditimbulkan karena adanya fast fashion. Fast fashion yang hanya berfokus pada produksi pakaian yang cepat dengan harga murah mengakibatkan rendahnya daya tahan dan kualitas pakaian sehingga pakaian menjadi mudah rusak. Karena fast fashion diciptakan untuk memenuhi kebutuhan tren mode dan banyak berganti koleksi menyebabkan muncul nya pola komsumsi berlebih pada masyarakat. Untuk menekan biaya produksi, perusahaan fast fashion sering kali mengeksploitasi pekerja dengan upah rendah dan kondisi kerja yang buruk. Hal inilah yang menjadi dorongan untuk membeli lebih banyak supaya dapat memenuhi tren fashion terkini. Timbulnya perasaan tidak pernah cukup ini yang nantinya akan berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan mental.
Media sosial telah menjadi kekuatan besar yang mengubah wajah dunia fashion. Media sosial bukan kanya mempengaruhi gaya dan kebiasaan berpakaian, tapi juga memungkinkan siapa pun untuk berkreasi dan berinovasi. Dunia fashion saat ini sangat lebih inklusif, dinamis, dan akrab dengan masyarakat.
Namun, di balik semua kemudahan mencari informasi, pengguna juga perlu bijak dalam menyikapi pengaruh media sosial. Jangan kehilangan jati diri atau melupakan dampak lingkungan dari pilihan mode yang kita buat.
Pada akhirnya, fashion bukan hanya tentang apa yang kita kenakan, tetapi juga tentang bagaimana kita mengekspresikan diri dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Gunakan media sosial sebagai alat inspirasi, bukan tekanan untuk menjadi sempurna.(*)
Oleh Delfi Valencia Aryanto