Jangan Biarkan Overthinking Mengusai Kita

Apa itu overthinking? Secara bahasa overthinking berasal dari dua kata, yaitu over dan thinking. Kata over sendiri memiliki arti berlebihan dan kata thinking memiliki arti berpikir. Menurut ilmu psikologi, overthinking bukan sekadar kebiasaan berpikir terlalu sering atau berlebihan dan berulang-ulang, melainkan lebih mengarah kepada kecenderungan seseorang memikirkan hal-hal negatif. Kebanyakan remaja yang mengalami overthinking selalu memikirkan hal-hal di masa depan yang belum tentu terjadi. Memikirkan sesuatu secara berlebihan terutama tentang hal-hal negatif dapat memicu munculnya stres bahkan depresi. Dalam hal ini otak akan sangat terbebani dengan informasi dan pikiran-pikiran negatif yang kurang penting dan belum tentu terjadi sehingga dapat berpengaruh juga pada kesehatan mental.

‎Menurut CNN Indonesia, gejala overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan menjadi bagian dari konsep kultural masyarakat global termasuk Indonesia. Hasil penelitian dari Health Collaborative Center menunjukan setengah dari orang Indonesia atau 50% masyarakat mengalami overthinking. Dokter Ray Wagiu Basrowi mengatakan setengah dari masyarakat Indonesia yang mengalami overthinking kebanyakan adalah perempuan. Hal tersebut tentu didasari oleh banyak sebab. Ray memaparkan, perempuan berisiko dua kali lipat lebih besar mengalami repetitive negative thoughts atau pemikiran negatif yang terjadi terus menerus jika dibandingkan laki-laki. Alasannya karena sebagian besar perempuan memikul peran lebih dari satu daripada laki-laki. Sebagai contoh, di rumah saja perempuan memiliki banyak sekali peran, yaitu sebagai istri dan seorang ibu, belum lagi peran lainnya yang terkadang terpaksa dipikul oleh para perempuan, sehingga tekanan psikologis yang diterima perempuan tentunya lebih besar.

Menurut Dokter Vivi, selaku spesialis kedokteran jiwa, yang dilansir dari laman Kompas, perkembangan kesehatan mental sendiri dapat dipengaruhi dari berbagai macam faktor, yakni faktor biologis, psikologis, dan sosiokultural.

‎Lalu apa sebetulnya yang menyebabkan seseorang mengalami overthinking? Kebiasaan apakah yang dapat memicu hal tersebut? Yang pertama, overthinking bisa timbul akibat kebiasaan terlalu sering scrolling media sosial lalu membandingkan diri dengan orang lain. Tekanan pendidikan yang berat juga bisa menjadi penyebab overthinking. Tekanan ini bisa datang dari guru atau dosen yang memberikan banyak tugas dengan tenggat waktu yang berdekatan, sehingga membuat siswa merasa terbebani. Tidak hanya itu, ekspektasi tinggi dari orang tua juga bisa menambah tekanan, karena anak merasa harus selalu memenuhi harapan mereka dan takut mengecewakan. Hal ini menimbulkan ketakutan akan kegagalan dan kecemasan tentang masa depan sehingga memicu overthinking. Lingkungan juga sangat memengaruhi dalam memunculkan overthinking pada diri seseorang. Sebesar 74,83% terbukti bahwa faktor lingkungan memiliki peran dalam memunculkan overthinking. Pada kenyataanya banyak orang meremehkan seseorang yang mengalami overthinking, padahal dengan memberikan sikap terbuka dan mencoba memahami kondisi tersebut kita bisa saja membantu seseorang untuk lepas dari overthinking yang dimiliki. Setiap orang sebaiknya perlu memiliki kecerdasan emosional yang baik, sehingga tidak menganggap overthinking sebagai hal yang sepele.

‎Jika overthinking terus dibiarkan, maka dapat menimbulkan dampak serius. Dampak yang muncul beragam, dapat berupa dampak fisik maupun mental. Overthinking dapat mengganggu kinerja fungsi kognitif otak. Membuat otak mengalami kelelahan sehingga dapat menyebabkan kesulitan untuk fokus. Menimbulkan gangguan nafsu makan dan sulit tidur. Dua hal tersebut, gangguan nafsu makan dan sulit tidur, juga termasuk gejala seseorang mengalami depresi. Ada pula mengalami gejala lain seperti kelelahan, sakit kepala, dan mual. Dampak overthinking bagi mental, yaitu membuat seseorang tidak memiliki kepercayaan diri, menutup diri dari dunia luar, dan membuat seseorang mudah stres.

Nah, berdasarkan dampak di atas jelas bahwa banyak dampak buruk overthinking bagi seseorang, bukan? Selanjutnya bagaimana cara kita mengatasi overthinking agar pikiran kita tak diambil alih hal negatif?

Langkah sederhana yang bisa kita lakukan yaitu meditasi dan latihan pernapasan. Dengan duduk tenang dan fokus pada ritme pernapasan dapat membantu menenangkan pikiran yang tengah kacau. Selain itu, kita juga bisa mengalihkan fokus ke hal-hal yang disenangi. Seperti melukis, membaca, mewarnai, olahraga, dan memakan makanan yang disukai atau hal lain yang dapat mengalihkan fokus kita dari stress dan pikiran negatif yang kita miliki. Namun, jika masih dirasa kurang efektif maka langkah yang dapat kita lakukan yaitu dengan cara menantang pikiran negatif itu sendiri. Meluangkan waktu untuk diam, merenung, dan melakukan komunikasi internal dengan diri sendiri. Kita lawan pikiran buruk itu, kita lawan kecemasan berlebih itu, kita cari solusi terbaik dengan pikiran yang tenang. Latih kemampuan penerimaan diri bahwa apapun yang terjadi bukan sepenuhnya kendali kita. Hal yang belum terjadi maka terjadilah dan yang sudah terjadi maka biarkanlah. Dengan melakukan penerimaan diri maka perlahan kita dapat menghilangkan siklus overthinking yang memiliki dampak buruk tersebut.

Nama               : Nabila Az-Zahra

NIM                : 2502020126

Prodi               : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Rombel            : 4 (empat)

Jenis                : Artikel Populer