Kita semua tahu bahwa senyuman adalah cara komunikasi paling universal. Namun, bagaimana jika di balik senyuman yang ditampilkan, seseorang sebenarnya tengah berjuang dengan kondisi batin yang jauh dari kata “sehat”? Fenomena seperti inilah yang biasa kita kenal dengan smiling depression, sebuah kondisi di mana seseorang sedang mengalami depresi namun mampu menyembunyikannya di balik ekspresi bahagia.
Data kesehatan global menunjukkan bahwa jutaan orang hidup dengan depresi, tetapi banyak dari mereka memilih untuk tidak terlihat “sakit” secara kasat mata. Mereka tetap produktif, bersosialisasi, dan tampil ceria. Di panggung kehidupan yang modern ini seringkali kita dituntut untuk tampil prima. Senyum yang semula menjadi penentu ekspresi bahagia, kini telah berkamuflase menjadi topeng yang sulit dilepaskan. Orang-orang yang kita kenal sebagai pribadi yang ceria, seringkali melempar lelucon, bahkan yang profil media sosialnya dipenuhi kebahagiaan, bisa jadi adalah mereka yang ternyata perlu penanganan khusus untuk merawat luka batinnya. Kamuflase inilah yang menjadi titik penyamaran sehari-hari para penderita depresi untuk menjalani kehidupannya.
National Alliance on Mental Illness (NAMI) menyebutkan cara pertama untuk membantu ialah dengan menciptakan kesadaran untuk menghilangkan stigma penyakit mental. Semakin kita bisa mengalihkan percakapan untuk menunjukkan “panutan positif” yang hidup dengan depresi, semakin sedikit pula rasa malu dan stigma yang akan dikaitkan dengannya. Rasa takut akan stigma atau anggapan berlebihan dari lingkungan sekitar, terkadang menjadi alasan utama untuk mengenakan “topeng” ini. Akibatnya, senyum yang seharusnya menjadi ekspresi tulus kini beralih fungsi menjadi benteng untuk menutupi kerapuhan. Bagian paling miris ialah ketika penderita depresi mulai tidak bisa memahami perasaannya. Ia mulai tidak yakin dengan dirinya dan disaat pikiran liar disertai dorongan menyakiti diri mulai tak terkendali, akan tetapi mereka tetap dipaksa untuk terlihat baik-baik saja. Depresi merupakan hal kompleks yang tidak bisa disederhanakan dengan satu atau dua penyebab. Seperti kebanyakan hal kompleks lainnya, penanganan depresi pun tak bisa terpusat pada satu metode saja.
Kalimat toxic positivity adalah salah satu tantangan para penderita smilling depression untuk menjalani harinya. Kalimat seperti “kamu pasti bisa melewati semua ini”, “semangat,dong!”, “lihat sisi baiknya saja, jangan overthinking mulu”, “kamu harus banyak bersyukur, banyak yang tak seberuntung kamu”. Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sangat familiar, diucapkan dengan niat baik dan menjadi acuan dasar kebanyakan orang dalam merespon kesedihan. Namun, tanpa kita sadari justru kalimat-kalimat seperti inilah yang mengandung sebuah paksaan halus untuk terlihat bahagia, membuang penuh pikiran negatif, dan paksaan untuk kembali tersenyum.
Sebanyak apapun kata motivasi, depresi akan tetap ada di dalam diri penderitanya. Depresi tidak akan hilang dengan senyuman atau tawa palsu yang seolah-olah menjadi doktrin terhadap diri sendiri. Ketika seseorang menyadari bahwa ekspresi emosionalnya hanya akan menemui rentetan kalimat penyemangat yang mungkin cenderung mengabaikan perasaanya, ia akan mulai berpikir bahwa terlihat baik-baik saja adalah cara paling aman untuk menghindari invalidasi. Betapa melelahkannya seseorang yang sedang berjuang untuk bangkit, kini harus memaksakan diri untuk tersenyum hanya agar dirinya tidak mendengar pandangan yang menganggap ia kurang berusaha dan terlalu banyak berfikir negatif. Secara tidak langsung ia merawat lukanya dengan memastikan agar tidak ada yang mencoba menyembuhkan luka itu dengan cara yang salah. Bagi penderita depresi, tekanan seperti ini terasa seperti vonis bahwa yang mereka rasakan adalah sebuah kesalahan.
Meski terkadang kehadiran orang depresi sering kali membuat kita bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu, perkataan mereka yang kadang terdengar sangat menyakitkan seperti keinginan untuk mengakhiri hidup dan keputusasaan lainnya, serta bagaimana cara mereka menyampaikan perasaan yang tidak konsisten terkadang membuat kita salah menafsirkan maknanya.
Lalu, bagaimana cara kita merespons hal ini dengan lebih baik? Kita bisa memulai dengan mengubah cara pandang dan komunikasi dengan mengizinkan mereka untuk menyampaikan apa yang sedang mereka rasakan bahwa perasaan atau emosional itu nyata, penting, dan boleh dirasakan. Alih-alih menghakimi dan menyuruh mereka untuk terus bahagia di bawah tekanan, kita bisa memvalidasi perasaannya dengan menunjukkan kehadiran kita di masa terpuruknya, meski hanya sekadar berkata “kamu tidak sendirian dan perasaanmu tidak salah. Tidak apa-apa untuk merasa seperti itu, aku di sini menemanimu dan kita akan hadapi ini bersama”. Tindakan sederhana ini mengirimkan sinyal menenangkan bahwa apapun yang mereka rasakan valid, tanpa harus terlihat baik-baik saja. Saat itu pula ia akan mulai menerima dirinya.
Pada akhirnya, sudut pandang pemulihan tidak hanya dinilai dari keadaan yang baik-baik saja melalui senyuman, tetapi keberanian untuk mengakui adanya luka. Mari kita menormalisasi merawat luka batin dengan penerimaan, divalidasi tanpa penghakiman dan uluran tangan yang penuh pengertian, karena pada hakikatnya semua manusia layak untuk mengungkapkan segala bentuk rasa, tanpa harus mendapat stigma yang menyakitkan. Ada luka yang ingin dirawat dengan kejujuran, bukan untuk disembunyikan.
AZKA BILQISTY