Demak, Jawa Tengah – Hujan deras yang mengguyur wilayah pesisir Jawa Tengah selama beberapa hari telah menyebabkan banjir parah. Wilayah yang terdampak banjir parah pada pesisir tersebut, seperti Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Genangan air mencapai ketinggian 50 -80 sentimeter membuat kendaraan pribadi dan truk logistik kesulitan untuk melintas dan bahkan terpaksa berhenti total.
Banjir mulai merendam kawasan Demak sejak akhir pekan lalu. Selain karena curah hujan yang tinggi, rob dari laut utara Jawa, dan jebolnya tanggul sungai di sekitar daerah tersebut juga menjadi pemicu banjir makin parah. Air meluap ke jalan nasional, menyebabkan kemacetan yang panjang dan gangguan distribusi ke wilayah Semarang, Kudus, dan Jepara.
Jalur Pantura merupakan salah satu jalur penghubung utama transportasi nasional yang menghubungkan wilayah barat dan timur Pulau Jawa. Karena hal tersebut, gangguan pada jalur ini berdampak langsung pada kelancaran distribusi barang, terutama pada logistik pangan, material konstruksi, dan produk manukfaktur.
Beberapa perusahaan ekspedisi melaporkan keterlambatan pengiriman hingga 24 jam. Gangguan distribusi logistik akibat banjir ini berdampak langsung pada sektor ekonomi. Pasar-pasar di daerah Demak dan Semarang mengalami kekurangan pasokan sayur, beras, dan kebutuhan pokok lainnya. Karena kendala tersebut harga bahan-bahan pokok naik hingga 40% dalam beberapa hari terakhir.
Pelaku industri di kawasan Demak bagian timur juga melaporkan kerugian akibat keterlamabatan bahan baku. Sejumlah pabrik tekstil dan pabrik makanan terpaksa berhenti produksi sementara karena pasokan bahan baku tidak masuk tepat waktu.
Di tengah genangan yang belum surut, banyak keluhan dari para sopir angkutan barang dan warga sekitar. Beberapa sopir truk mengaku terjebak selama hampir 12 jam di ruas jalan tersebut karena kendaraan mereka tidak mampu menembus genangan.
Banjir tidak hanya menggangu jalur transportasi, tetapi juga merendam ratusan rumah warga yang berada di sekitar. Banyak keluarga yang terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Aktivitas sekolah dan perkantoran juga terganggu. Karena hal tersebut, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah, mencakup kerusakan infrastruktur jalan, kerugian sektor perdagangan, dan kerusakan-keruskan lainnya.
Selain itu, banjir yang berkepanjangan ini juga berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Puskesmas sayung mencatat peningkatan kasus diare dan penyakit kulit akibat air kotor dan sanitasi yang buruk. Lingkungan sekitar juga mengalami kerusakan. Sampah terbawa arus dan menumpuk di saluran air dapat memperparah genangan. Beberapa warga juga melaporkan munculnya ular dan hewan liar yang masuk ke pemukiman karena habitatnya terganggu.
Banjir ini bukan hanya bencana alam, tetapi juga ujian bagi sistem transportasi dan tata kelola logistik nasional. Harapan warga pemerintah tidak hanya hadir saat terjadi banjir saja, tetapi juga melakukan perbaikan jangka Panjang.
Dengan kerugian ekonomi yang terus bertambah dan dampak sosial yang meluas, banjir ini juga mengingatkan bahwa Pembangunan infrastruktur harus disertai juga dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana
AIDA FADILAH