Oleh Deka Nandya Pratiwi
Di balik rimbunnya hutan eukaliptus di kaki Gunung Wayang, tersembunyi sebuah ketenangan yang menjadi awal dari nadi kehidupan di Jawa Barat. Inilah Situ Cisanti, sang titik nol kilometer bagi Sungai Citarum yang legendaris. Di sini, air tidak hanya sekadar mengalir; ia lahir dari tujuh mata air keramat yang jernih, membisikkan kisah tentang kesucian alam dan jejak sejarah para leluhur yang pernah singgah di buminya.
Pagi itu, tepat jam 1 siang, aku dan keluargaku sudah siap berangkat menggunakan mobil kesayangan. Dari rumah di Tarumajaya, Kertasari, Kabupaten Bandung, perjalanan ke Situ Cisanti memakan waktu kurang lebih 2 jam. Ayah nyetir hati-hati, Ibu siapkan piknik, adikku riang di belakang. Udara mulai sejuk. Pepohonan hijau menyambut di jalan berliku-liku.
Pemandangan sawah terasering keemasan dan perkebunan teh Garut bikin mata segar, seolah alam Jawa Barat membuka karpet selamat datang. Hati keluarga berdegup excited, karena Situ Cisanti terkenal dengan airnya biru kehijauan dan mitos mistisnya yang diciptakan oleh leluhur Sunda. Lagu-lagu daerah mengalun dari radio mobil, menambah semangat perjalanan singkat ini.
Sekitar pukul 3 sore, kami tiba di pintu masuk Situ Cisanti. Bayar tiket keluarga Rp50.000, lalu parkir mobil dan trekking 15 menit menyusuri jalur hutan pinus. Daun berguguran lembut; burung-burung berkicau riang menyambut. Keringat bercucuran ringan, napas tersengal pelan, tapi semangat juang keluarga kuat membara.
Bau tanah lembap dan bunga liar memenuhi hidung, membuatku merasa seperti petualang sungguhan di film petualangan kuno. Jalan setapak sempit, dikelilingi eukaliptus tinggi yang bergoyang pelan, seolah berbisik rahasia leluhur. Adik pegang tangan Ibu. Ayah memimpin barisan dengan senyum lebar. Kebersamaan ini terasa magis sejak awal.
Akhirnya, danau muncul di depan mata seperti permata tersembunyi. Airnya biru kehijauan, tenang seperti cermin raksasa, dikelilingi pepohonan rindang dan kabut tipis yang menari-nari. Saat itu, pengunjung sepi sekali, hanya kami, keluarga, dan hembusan angin gunung. Suasana hening membungkus segalanya, hanya suara air bergoyang pelan dan daun bergesek.
Aku berdiri terpaku, hati berdegup kencang penuh kagum. Rasa waktu berhenti seolah nyata; danau memancarkan kedamaian yang menusuk jiwa. Di saat sepi ini, mistisnya terasa lebih kuat, seperti roh penjaga danau hadir, menyapa lembut tanpa kata.
Kami duduk di batu besar di pinggir danau. Angin sepoi menyentuh kulit seperti pelukan alam yang hangat. Perasaan damai meresap ke jiwa, air jernih memantulkan langit biru. Ikan-ikan kecil berenang lincah di kedalaman, menambah irama alam yang menghipnosis.
Suasana sepi pengunjung menciptakan kesunyian mutlak: hanya deru angin lewat pinus, gemericik air dari tujuh mata air, dan napas kami yang selaras. Tidak ada suara motor atau obrolan ramai, hanya harmoni alam yang abadi. Hati-ku penuh inspirasi. Aku ingin menulis puisi tentang keindahan Jawa Barat yang tersembunyi ini.
Sore menjelang, matahari condong jingga, kabut semakin tebal menciptakan suasana magis yang tenang seperti dunia dongeng. Rasa tenang ini bercampur sedikit ngeri saat ingat cerita hantu penjaga danau, tapi keheningan ini justru menenangkan.
Keluarga menggelar piknik sederhana; tawa pelan bergema lembut tanpa mengganggu kesunyian. Aku berjalan mengelilingi hutan eukaliptus sendirian sebentar, menyentuh air dingin yang menyegarkan jiwa, meresapi bisikan mata air keramat. Saat sepi pengunjung, Situ Cisanti terasa pribadi, seperti hadiah alam untuk keluarga kecil kami.
Momen ini tak ternilai, penuh syukur dan ikatan yang semakin erat. Pamit saat senja, kami kembali ke mobil dengan hati lega dan memori abadi. Perjalanan pulang 2 jam terasa singkat. Cerita sepi mistis Situ Cisanti jadi topik hangat. Danau itu bukan sekadar wisata; ia mengajarkan kita tentang kesucian alam, lahir dari tujuh mata air yang abadi.(*)