Patung Nyi Pandansari

Oleh Dyah Nais Larasati

     Di Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, terdapat sebuah patung yang cukup menarik perhatian masyarakat dan para pengunjung yang datang ke daerah tersebut. Patung itu adalah patung Nyi Pandansari, seorang tokoh perempuan yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat karena peran dan kisah hidupnya yang penuh makna. Patung tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dianggap berjasa dalam perkembangan wilayah Boja. Selain menjadi simbol sejarah, patung ini juga menjadi ikon baru yang mempercantik wajah desa serta memperkuat identitas budaya masyarakat. Kehadiran patung ini membuat banyak orang kembali mengenal dan mengingat kisah perjuangan Nyi Pandansari yang telah lama menjadi bagian dari cerita rakyat di daerah Kendal.

     Sebelum patung Nyi Pandansari berdiri di tempat tersebut, sebenarnya ada sebuah tugu yang dikenal masyarakat dengan nama Tugu Jamban. Tugu itu sudah cukup lama ada di kawasan tersebut dan menjadi penanda lokasi bagi warga sekitar. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah daerah bersama masyarakat merasa bahwa tempat tersebut sebaiknya memiliki simbol yang lebih mencerminkan sejarah dan identitas lokal. Oleh karena itu, akhirnya diputuskan untuk mengganti tugu tersebut dengan patung Nyi Pandansari. Pergantian ini tidak hanya bertujuan memperindah kawasan, tetapi juga untuk mengenalkan kembali tokoh penting yang memiliki peran dalam sejarah perkembangan wilayah Boja.

     Nyi Pandansari sendiri dikenal sebagai sosok perempuan yang memiliki hubungan dengan tokoh penting dalam sejarah Jawa. Ia disebut sebagai adik dari Ki Ageng Pandanaran, seorang tokoh yang berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Semarang dan sekitarnya. Dari latar belakang keluarga tersebut, Nyi Pandansari juga memiliki semangat yang kuat untuk mempelajari ilmu agama dan membantu menyebarkan ajaran kebaikan kepada masyarakat. Dalam berbagai cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, ia digambarkan sebagai perempuan yang bijaksana, sabar, dan memiliki keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.

     Dalam perjalanan hidupnya, Nyi Pandansari pernah meninggalkan tempat asalnya untuk mencari ilmu dan pengalaman baru. Ia melakukan perjalanan menuju daerah selatan bersama beberapa pengikut yang setia menemaninya. Tujuan dari perjalanan tersebut adalah untuk memperdalam ilmu agama serta mencari tempat yang cocok untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Perjalanan itu tentu tidak mudah karena pada masa itu kondisi wilayah masih banyak hutan dan jalan yang belum seperti sekarang. Namun, dengan tekad yang kuat, Nyi Pandansari tetap melanjutkan perjalanannya tanpa rasa takut.

     Dalam perjalanannya tersebut, Nyi Pandansari sempat tinggal di daerah Sekaran untuk belajar agama Islam. Di tempat itu terdapat sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang tokoh bernama Ki Jiwaraga. Di pesantren inilah Nyi Pandansari memperdalam ilmu agama dan memperluas pengetahuannya tentang kehidupan. Ia dikenal sebagai seorang santriwati yang rajin belajar, rendah hati, dan memiliki sikap yang baik terhadap sesama. Karena kepribadiannya yang baik, banyak orang di pesantren tersebut menghormatinya dan menganggapnya sebagai sosok yang patut diteladani.

     Selama berada di pesantren tersebut, Nyi Pandansari bertemu dengan seorang pria bernama Ki Dhapuraja. Pertemuan mereka awalnya terjadi dalam suasana belajar dan kehidupan sehari-hari di pesantren. Lambat laun, keduanya saling mengenal dan muncul rasa saling menghargai satu sama lain. Hubungan mereka kemudian berkembang menjadi hubungan yang lebih serius. Setelah melalui proses yang baik dan mendapatkan restu, akhirnya Nyi Pandansari dan Ki Dhapuraja menikah dan memulai kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.

      Setelah menikah, Nyi Pandansari dan suaminya memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut dan memulai kehidupan baru di daerah lain. Mereka ingin hidup mandiri sekaligus melanjutkan perjuangan dalam menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat. Bersama beberapa pengikut yang setia, mereka melakukan perjalanan menuju wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Kendal. Perjalanan tersebut menjadi awal dari kisah baru yang nantinya akan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan masyarakat di daerah tersebut.

        Sesampainya di daerah baru, Nyi Pandansari mulai dikenal sebagai sosok yang memiliki kebijaksanaan dan kemampuan spiritual. Banyak masyarakat yang datang kepadanya untuk meminta nasihat atau bantuan ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Salah satu kisah yang cukup terkenal adalah ketika Nyai Pandansari membuat saluran air dari Sendang Sebrayat untuk membantu kebutuhan air masyarakat sekitar. Pada masa itu, air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting, sehingga keberadaan saluran air tersebut sangat membantu kehidupan warga.

     Karena jasanya dalam menyediakan sumber air bagi masyarakat, Nyai Pandansari kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Sedapu. Air yang dialirkan dari sendang tersebut dipercaya membawa manfaat besar bagi masyarakat sekitar, terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti minum, memasak, dan pertanian. Kisah ini terus diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat sebagai bukti kepedulian Nyi Pandansari terhadap kehidupan orang banyak. Bagi masyarakat setempat, kisah ini bukan hanya cerita biasa, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah yang dihormati.

      Namun, perjalanan hidup Nyi Pandansari tidak selalu berjalan dengan mudah. Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, disebutkan bahwa suatu waktu suaminya pergi meninggalkannya. Peristiwa tersebut tentu menjadi cobaan yang berat bagi Nyai Pandansari. Meskipun begitu, ia tetap menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Ia tidak menyerah pada keadaan dan tetap melanjutkan perjuangannya untuk membantu masyarakat di sekitarnya.

    Beberapa pengikut setianya tetap mendampingi Nyi Pandansari dalam menjalani kehidupan di wilayah tersebut. Mereka membantu dalam berbagai kegiatan serta ikut menyebarkan ajaran kebaikan kepada masyarakat. Dua di antaranya yang sering disebut dalam cerita adalah Wonobodro dan Wonosari. Bersama para pengikutnya, Nyi Pandansari membangun kehidupan masyarakat yang kemudian berkembang menjadi permukiman yang semakin ramai dan teratur.

     Seiring berjalannya waktu, wilayah yang dahulu menjadi tempat tinggal Nyi Pandansari dan para pengikutnya berkembang menjadi desa yang cukup dikenal. Bahkan salah satu keturunan dari pengikutnya dipercaya menjadi lurah pertama di Desa Boja. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh Nyi Pandansari tidak hanya dirasakan pada masa hidupnya saja, tetapi juga berlanjut hingga generasi berikutnya. Kisah dan perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya masyarakat di daerah tersebut.

     Untuk mengenang jasa dan perjuangannya, masyarakat Boja hingga sekarang masih menjaga berbagai tradisi budaya yang berkaitan dengan Nyi Pandansari. Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah kirab budaya yang biasanya dilaksanakan pada saat perayaan Syawalan. Dalam kitab tersebut, masyarakat mengarak gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh leluhur mereka. Tradisi ini menjadi salah satu cara masyarakat menjaga hubungan dengan sejarah dan budaya mereka.

     Melihat kisah hidup Nyi Pandansari, saya pribadi merasa bahwa beliau adalah sosok perempuan yang sangat kuat dan penuh keteladanan. Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapinya, ia tetap berusaha membantu masyarakat dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak harus memiliki kekuasaan besar untuk memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain. Kadang justru dari ketulusan dan kesabaranlah seseorang bisa memberikan perubahan yang berarti.

     Kalau membayangkan kisahnya, rasanya seperti mendengar cerita dari orang tua atau sesepuh di kampung yang penuh dengan nilai kehidupan. Cerita yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya memiliki pesan yang sangat dalam. Wong Jawa sering mengatakan, “urip kuwi kudu sabar lan kuat atine,” yang artinya hidup itu harus dijalani dengan kesabaran dan hati yang kuat. Nilai itulah yang sepertinya benar-benar tercermin dalam kehidupan Nyi Pandansari.

     Sekarang ketika melihat patung Nyi Pandansari berdiri di Boja, rasanya patung itu bukan hanya sekadar bangunan atau hiasan di tengah jalan. Patung itu seperti pengingat bagi masyarakat bahwa di balik sebuah desa, ada kisah perjuangan dari tokoh-tokoh masa lalu yang tidak boleh dilupakan. Nek dipikir-pikir, ya apik tenan, karena generasi sekarang masih bisa belajar dari cerita tentang kesabaran, keberanian, dan kepedulian yang ditunjukkan oleh Nyi Pandansari. Cerita itu menjadi bagian dari identitas masyarakat yang tetap hidup hingga sekarang.(*)