Oleh Khafif Sunandar
Kalau dengar kata “Cilacap”, apa yang pertama kali muncul di pikiran kalian? Sebagian besar mungkin bakal jawab “Nusakambangan” atau kota berasap pabrik. Ya, gak salah sih, tapi sebenarnya Cilacap itu punya sisi lain yang jauh lebih manis dari sekadar kesan seram atau kaku. Sebagai orang asli sini, aku mau pamer dikit nih, bahwa tanah Cilacap ini punya perpaduan unik antara deru industri, sejarah kolonial, dan pesona pesisir yang nggak bakal kalian temuin di tempat lain.
Oh iya, Cilacap ini letaknya di ujung selatan Jawa Tengah yang berbatasan langsung sama Jawa Barat. Makanya, jangan kaget kalau dengar kita ngomong; bahasanya campuran antara ngapak Banyumasan yang kental sama sedikit pengaruh Sunda. Tapi di balik dialeknya yang unik, Cilacap menyimpan satu magnet wisata yang dari dulu sampai sekarang nggak pernah sepi, dan yaps! Betul, Pantai Teluk Penyu.
Kepo nggak? Kenapa namanya Teluk Penyu? Padahal kalau kalian main ke sana sekarang, mungkin jarang banget atau bahkan nggak nemuin penyu yang lagi lewat. Jadi ceritanya, dulu pantai ini emang jadi rumah ternyaman buat penyu-penyu mendarat dan bertelur. Walaupun sekarang mereka udah “mengungsi” karena area pantai yang makin ramai, nama itu tetap abadi, seolah-olah jadi pengingat bahwa kita pernah punya harmoni yang begitu erat dengan alam.
Masuk ke area pantainya, kalian bakal disambut sama angin laut yang sepoi-sepoi dan barisan pohon kelapa. Tapi ada satu pemandangan yang beda di Teluk Penyu dibanding pantai di Jogja atau Bali. Di sini, kalian bakal lihat kapal-kapal tanker raksasa yang lagi parkir atau melintas menuju kilang minyak. Kelihatannya kontras banget ya, antara alam yang santai sama industri yang sibuk, tapi justru di situlah letak estetikanya Cilacap.
Kalau kalian ada di bibir pantai dan melihat-lihat ke depan, kalian bakal lihat daratan hijau yang membentang luas. Nah, itulah Pulau Nusakambangan yang legendaris. Pulau itu bukan cuma soal penjara kelas kakap loh, tapi sebenarnya berfungsi sebagai benteng alami buat Teluk Penyu. Karena ada Nusakambangan di depan sana, ombak di Teluk Penyu jadi jauh lebih tenang karena sudah “dihalang” duluan. Jadi buat yang mau main air, di sini relatif lebih aman dan nggak terlalu ganas ombaknya.
Bosan cuma lihat laut? Tenang, tinggal jalan kaki sedikit dari bibir pantai, kalian bakal nemuin bangunan tua yang auranya magis banget: Benteng Pendem atau Kustbatterij op de Landtong te Tjilatjap. Bangunan ini sisa peninggalan Belanda yang dulu terkubur di bawah tanah. Bayangin aja, kalian bisa masuk ke dalam terowongan gelap, lihat ruang penjara, sampai gudang senjata yang dindingnya super tebal. Rasanya kayak tiba-tiba pindah ke mesin waktu ke zaman kolonial, lho!
Uniknya, di Benteng Pendem ini kalian bakal sering ketemu sama penghuni asli di sana, yaitu kawanan rusa yang jinak. Jadi, habis keliling lorong-lorong yang agak gelap dan lembap, kalian bisa langsung foto-foto bareng rusa di atas rumput hijau. Perpaduan antara bangunan batu yang kaku dan alam yang asri ini yang bikin area sekitar Teluk Penyu itu nggak ngebosenin buat dikunjungi berkali-kali.
Kalau perut udah mulai keroncongan, Teluk Penyu itu surganya seafood. Kalian harus coba ikan bakar atau kepiting soka yang bumbunya meresap sampai ke dalam. Tapi yang paling wajib dan nggak boleh ketinggalan itu mendoan-nya! Mendoan Cilacap itu lebar, hangat, dan dicocol pakai sambal kecap pedas. Makan mendoan sambil duduk di pinggir pantai bareng teman atau keluarga itu rasanya “Cilacap banget”, sederhana tapi bikin nagih.
Ada satu momen yang menurutku paling juara di sini, yaitu pas sunrise. Kalau kalian niat bangun pagi-pagi buta dan datang ke area pemecah ombak atau tetrapod, kalian bakal lihat matahari muncul pelan-pelan dari balik laut. Warnanya ungu kemerahan dan pantulannya di air laut yang tenang itu cantik banget. Di momen itu, kalian bakal sadar bahwa Cilacap itu nggak seseram yang orang-orang bilang di berita-berita kriminal.
Setiap tahunnya, pantai ini juga jadi saksi bisu tradisi besar masyarakat kami, yaitu Sedekah Laut. Ini momen yang paling ditunggu-tunggu karena suasananya meriah banget. Ada pelarungan sesaji ke tengah laut sebagai simbol rasa syukur nelayan. Buat kami, Teluk Penyu bukan sekadar tempat wisata, tapi pusat kebudayaan yang menghubungkan manusia sama penciptanya lewat perantara alam yang luar biasa ini.
Tapi, jujur aja nih, ada sedikit rasa sedih kalau lihat sampah plastik yang kadang masih berceceran di pinggir pantai. Sebagai putra daerah, aku pengen banget Teluk Penyu tetap cantik kayak dulu. Jadi, kalau kalian nanti mampir ke sini, tolong banget ya jangan buang sampah sembarangan. Kita jaga bareng-bareng harta karun Cilacap ini supaya anak cucu kita nanti masih bisa ngerasain asyiknya main di pasir Teluk Penyu.
Cilacap mungkin bukan kota metropolitan yang penuh gedung pencakar langit, tapi buatku, kota ini adalah rumah yang paling nyaman. Dari Teluk Penyu yang tenang, Benteng Pendem yang penuh cerita, sampai Nusakambangan yang misterius, semuanya membentuk jati diri kami. Jadi, kapan nih kalian mau main ke Cilacap? Aku tunggu di pinggir pantai Teluk Penyu ya. Kita makan mendoan bareng sambil menunggu senja.(*)