Oleh Kharisma Isya Prasetya Melodytama
Di sebuah desa bernama Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, tradisi turun-temurun masih melekat sampai sekarang. Salah satu adat yang paling dikenal adalah Ujungan. Ujungan adalah sebuah ritual yang memadukan unsur seni, keberanian, dan kepercayaan masyarakat setempat. Setiap tahun, warga desa berkumpul di lapangan terbuka untuk menyaksikan tradisi ini.
Ujungan biasanya digelar saat musim kemarau panjang. Masyarakat Gumelem percaya bahwa ritual ini dapat memohon turunnya hujan. Dengan iringan doa dan harapan, tradisi ini menjadi simbol hubungan manusia dengan alam sebagai bentuk ikhtiar untuk kesejahteraan bersama.
Saat Ujungan digelar sejak pagi hari, suasana desa sudah terasa berbeda. Warga mulai berdatangan ke lokasi acara dengan pakaian sederhana. Tak sedikit yang menyaksikan, seperti anak-anak ,sementara orang dewasa sibuk mempersiapkan perlengkapan dan tempat pertunjukan.
Saat Ujungan digelar,yang berperan adalah laki-laki yang telah terlatih dan memahami aturan adat Ujungan ini. Mereka menggunakan rotan sebagai alat utama dalam pertarungan. Meski terlihat keras, ada aturan yang harus ditaati agar tidak menimbulkan cedera yang serius.
Sebelum pertunjukan Ujungan dimulai, biasanya ada doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat. Doa ini bertujuan agar acara berjalan lancar dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, doa juga menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan agar hujan segera turun.
Saat pertunjukan dimulai, dua pemain saling berhadapan di tengah lapangan acara. Mereka bergantian memukul dengan rotan ke tubuh satu sama lain, biasanya pada bagian punggung. Yang membuat makin ramai adalah para penonton yang menambah semangat para pemain. Dan saya termasuk penonton yang ikut meramaikan dengan sangat bersemangat
Meskipun terlihat menyakitkan, para pemain menunjukkan ketahanan dan keberanian. Mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga strategi dalam menghindari dan membalas serangan. Hal ini menjadikan Ujungan sebagai tontonan yang menarik sekaligus menegangkan.
Di balik kerasnya pertarungan, terdapat nilai kebersamaan yang kuat. Setelah selesai bertanding, para pemain saling berjabat tangan sebagai tanda persaudaraan. Tidak ada dendam, yang ada hanyalah rasa hormat satu sama lain.
Tradisi ini juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat. Warga yang merantau biasanya pulang untuk menyaksikan Ujungan. Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarwarga dan keluarga.
Selain itu, Ujungan juga menarik perhatian wisatawan. Banyak orang dari luar daerah datang untuk melihat langsung keunikan tradisi ini. Hal ini secara tidak langsung membantu memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak luas.
Bagi masyarakat Gumelem, Ujungan bukan sekadar pertunjukan, tetapi warisan budaya yang harus dijaga. Saat saya menonton tradisi ini, saya belajar banyak hal tentang keberanian dan kebersamaan. Walaupun saya bukan berasal dari desa tersebut,tak sedikit orang di luar desa datang ke acara Ujungan ini agar mereka tahu bahwa ada adat atau tradisi di desa kecil yang masih melestarikan budaya-budaya para leluhur.Dengan begitu, Ujungan akan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.(*)