Oleh Laisya Edgina Putri
Sebagai warga asli Semarang, sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa banyak sekali tempat wisata untuk berlibur di daerah Kabupaten Semarang. Itulah sebabnya banyak masyarakat Semarang yang berlibur di daerah Kabupaten Semarang. Begitu juga dengan aku dan teman-temanku yang memutuskan untuk mengisi waktu luang semasa liburan dengan pergi ke Curug Lawe di Kabupaten Semarang.
Curug Lawe merupakan salah satu wisata alam yang terkenal di Semarang di bawah pengawasan Perhutani. Menawarkan udara sejuk dan pemandangan indah yang sulit ditemukan di lokasi lain karena masih terjaga keasriannya. Lokasinya sendiri berdekatan dengan Curug Benowo. Karena itu, banyak orang sering menyebutnya sebagai Curug Lawe Benowo Kalisidi atau disingkat CLBK.
Aku pergi bersama teman-teman masa kecilku, yaitu Ayak, Sipa, Kenang, dan Piol. Kami berkumpul di rumah Kenang jam 07.00 pagi. Tapi aku, Ayak, Sipa, dan Piol harus menunggu kenang memenuhi ‘panggilan alamnya’ terlebih dahulu. Aku benar-benar tidak ada persiapan untuk agenda hari ini, tidak membawa minum, camilan, atau makan. Akhirnya kami berangkat pukul 08.00 pagi menggunakan 3 motor, sempat mampir membeli perbekalan dan langsung menuju Curug Lawe menggunakan Maps. Aku berboncengan dengan Ayak. Kami berdua dan lainnya membagi tugas untuk dokumentasi selama perjalanan guna memberi makan sosmed hehe…. Saat di perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang asri, seperti sawah-sawah dan bukit di daerah Kabupaten Semarang. Kami tidak menghadapi kendala apa pun di jalan.
Aku sering mendengar nama curug ini disebut oleh teman-teman lainnya, tapi aku sendiri belum pernah ke curug mana pun. Ini adalah pertama kalinya aku ke Curug. Aku hanya ikut ajakan mereka untuk main ke Curug. Aku tidak tahu bagaimana treknya dan berapa lama. Yang aku tahu sebatas kami akan melihat air terjun. Saat sampai di sana, kami parkir dan membeli tiket masuk terlebih dahulu. Cuaca sangat terik saat kami mulai trekking.
Aku tidak menyangka ternyata jalan untuk menuju curugnya jauh dan sangat lama. Aku juga baru tahu ternyata di sini ada dua curug. Dan ternyata aku membuat kesalahan dalam trekking curug untuk pemula, yaitu aku tidak menggunakan sepatu dan pakaian yang sesuai. Hal itu menyusahkanku karena trek yang menantang naik turun tebing, jalan setapak di kiri jurang, di kanan parit, dan banyak melewati aliran air curug. Mengandalkan doa Ibu untuk keselamatanku.
Pemandangan yang disuguhkan benar-benar asri sesuai dengan yang ada di sosmed. Kami sangat menikmati indahnya alam di sini selama jalan kaki menuju air terjun. Ada pohon-pohon dan jembatan di atas parit yang sering disebut jembatan romantis. Saat dijembatan, kami sangat terpukau dengan keindahan alam sekitar, namun untuk melewati jembatan tersebut harus berhati-hati dikarenakan jembatan itu hanya terbuat dari kayu yang kondisinya sudah lapuk dan licin. Setelah melewati jembatan, akan bertemu dengan jalan bercabang antara Curug Lawe dan Benowo. Ke kiri untuk menuju Curug Benowo, ke kanan untuk menuju Curug Lawe. Kami ke arah kanan karena tujuan kami adalah Curug Lawe.
Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan mengambil foto dan video pemandangan sebanyak-banyaknya. Mulai dari pohon yang bentuknya bagus dan membuat video vlog ala-ala saat jalan. Banyak juga wisatawan yang lalu-lalang karena saat itu musim libur. Harus hati-hati karena jalannya sempit, hanya muat 2 orang berpapasan, dan terjal.
Perjalanan awal kami selalu bersama-sama, namun karena aku jarang berolahraga, staminaku tidak sekuat yang lain. Kami cewek-cewek tertinggal dari Kenang dan Piol. Antara aku, Sipa, dan Ayak, stamina Ayak lebih bagus. Kalau diurutkan, aku paling bawah. Kami mencoba menyusul Kenang dan Piol karena mereka yang membawa tas perbekalan (minum dan makan). Jarak di antara kami sangat jauh. Masalahnya, kami cewek-cewek sudah sangat kehausan. Mencoba memanggil dan menyusul, akhirnya kami bertemu dan saling membantu melewati tangga-tangga.
Setelah melewati masalah dan trek yang menantang. Akhirnya kami sampai di air terjun. Air terjun ini mempunyai tinggi 30 meter dengan diitari tebing tebing cekung. Rasa sejuk dan segar dari percikan airnya membuat rasa lelahku hilang. Kami menikmati suasana dan mengambil beberapa foto bersama sebagai kenangan. Merendam kaki di air yang dingin, bermain air bersama , minum, dan makan camilan seperti camping.
Saat sedang bersenang-senang, tiba-tiba saja turun hujan yang sangat deras. Aku sempat khawatir karena kita di dekat air terjun yang mana bisa jadi akan ada air luapan dari atas. Kami memutuskan untuk pulang saja walaupun baru sebentar menikmati air terjunnya. Jujurrrr, kecewa sih karena baru sebentar sudah hujan dan harus segera balik melewati segala trek tadi karena hanya ada 1 jalan untuk pulang dan pergi. Kesulitan saat pulang bertambah karena hujan deras. Aku yang menggunakan sandal sering sekali terpeleset. Baju dan tas kami juga basah kuyup akibat hujan deras. Sebisa mungkin berhati-hati. Kami saling membantu.
Lagi dan lagi kenang dan piol meninggalkan aku, Sipa, dan Ayak di tengah jalan dan masih membawa semua perbekalan di tas. Demi apa pun, langkah mereka cepet banget. “Buat apa cepet-cepet sih, guys, kita loh udah basah kuyup,” ujarku. Di sana ada beberapa penjual yang warungnya dapat dibuat berteduh dan juga ada pos-pos pemberhentian. Kami bertemu di pos, hanya beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan. Hujan mulai mereda saat sudah mendekati parkiran. Ada Piol dan juga Kenang di sana menunggu aku, Ayak, dan Sipa. Kami berlima basah kuyup.
Kami semua berkumpul untuk beristirahat di parkiran. Semua orang merasa lapar karena, jujur saja, perbekalan yang kami bawa sangat minim. Rasanya mau makan nasi padang saat itu juga. Kami memutuskan untuk membeli makan saat perjalanan pulang dalam keadaan seluruh pakaian basah. Mendiskusikan akan makan di mana dan makan apa, aku berpendapat “kayaknya ga bisa ke tempat makan atau resto deh, bakalan banjir, carinya yang kayak warung pinggir jalan aja yang ga ada lantainya”. Tapi karena perjalanan jauh menggunakan motor, baju kami berlima ternyata kering dan akhirnya memutuskan makan di burjo yang ada di Temcy.
Di burjo kami melakukan beberapa aktivitas. Berbagi foto-foto yang telah kami ambil, mengobrol, makan dan minum. Kami berbagi keluh kesah “After Curug Lawe”. Ini pengalaman yang menarik bagiku. Pertama kalinya ke Curug. Pengalaman hari ini sungguh menguras fisik dan tenaga, namun sepertinya kami semua sangat menikmati hal tersebut. (*)