Oleh Manikka Marsa Indriani
Halo gais, sebelum memulai storytelling yang mungkin tidak menarik, aku akan buat semenarik mungkin dehh hehehe…
Sebelumnya, salam kenal dulu nih. Aku Manikka Marsa Indriani. Kalian bisa panggil aku Ayya. Oh iya, aku asli produk Semarang loh, tapi kalau ditanya “Kalau ke Semarang tempat yang bagus di mana??” aku pasti akan menyarankan untuk main ke Kota Lama, Simpang Lima, dan yang pasti yaitu Sampokong. Karena untuk pertama kalinya aku tahu Sampokong, tanpa rasa apa pun aku langsung tertarik untuk memasukinya, karena apa?
Karena di luar area Sampokong atau dari jalan luarnya itu ada salah satu patung besar yang sangat menarik perhatian ketika kamu melihatnya, ya, benar sekali, yaitu Zheng He atau lebih dikenal oleh warga Semarang sebagai Laksamana Cheng Ho. Mungkin karena akses untuk masuk ke Sampokong itu kurang terlihat dari luar, dan patung tersebut sangat menarik perhatian serta Sampokong juga disebut sebagai Gedung Batu. Mungkin kita bisa mengenal sedikit apa sih sebenarnya Klenteng Sampokong itu dan kenapa disebut sebagai Gedung Batu?
Jadi dalam catatan Sejarah Dinasti Ming volume 304 mengenai “Akun Zeng He”, karakter “Pao” ditulis sebagai pǎo, yang berarti “perlindungan”. Karakter ini merupakan homonim yang disederhanakan dari bǎo, yang bermakna “permata”. Konsep “tiga permata” tersebut bersumber dari istilah Buddhistik Sanskerta Triratna, yang merujuk pada Buddha, Dharma, dan Sangha. Nah, dari pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai Klenteng Cheng Ho.
Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Meskipun di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa.
Oke, cukup sampai situ saja. Pasti kalian juga ngantuk kalau baca tentang sejarah seperti itu. Nah, kalau kalian tanya “Aku udah pernah ke Sampokong belum?” Tentu sudah dong, walaupun nggak terlalu sering, ada cerita yang selalu aku ingat ketika melewatinya. Jadi, sedikit cerita, dulu sempat ada tren yang namanya (otopet/sekuter injak dan sepatu roda). Nah, karena dulu sekitar tahun 2014–2015 di sekitar area depan pintu masuk Sampokong itu ada yang menyewakan sepatu roda dan otopet itu, aku dan kakak laki-lakiku meminta kepada ayah kita untuk diajak bermain ke sana, ya, menyewa itu. Kebetulan aku itu gak bisa naik sepatu roda, jadinya aku bermain otopet dan kakakku bermain sepatu roda.
Dulu juga sekitar tahun 2013 sempat ada perayaan Imlek di dalam area Sampokong itu, dan aku diajak oleh kedua orang tuaku untuk melihat perayaan dan persembahan dari penari-penari Tionghoa, dan ada barongsai juga. Tapi gak tahu kenapa, dari dulu itu aku orang yang nggak terlalu suka dengan keramaian, dan dulu aku takut dengan barongsai. Jadi, pada hari itu mungkin karena aku masih 6 tahun dan pertama kali lihat barongsai juga, ya, jadinya tuh baru melihat barongsainya aku udah nangis duluan, hahaha. Emang dasar penakut. Akhirnya, gak sampai acara selesai, kita memutuskan untuk pulang saja, padahal kakakku yang lebih tua 6 tahun dariku sedang excited-nya melihat barongsai itu.
Seiring berjalannya waktu, rasa takutku terhadap barongsai itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran. Setiap kali melewati Sampokong, aku jadi sering memperhatikan suasana di dalamnya dari kejauhan. Warna merah yang mendominasi bangunan, ornamen khas Tionghoa, serta aroma dupa yang samar-samar tercium justru membuat tempat itu terasa semakin unik dan berbeda dari tempat lain di Semarang. Dari situ, aku mulai berpikir bahwa mungkin dulu aku takut bukan karena barongsainya menyeramkan, tapi karena aku belum terbiasa saja.
Beberapa tahun kemudian, saat aku sudah lebih besar, aku kembali ke Sampokong bersama teman-teman. Kali ini rasanya sangat berbeda. Aku justru menikmati suasana di sana, melihat detail arsitektur bangunan, berfoto di depan patung Laksamana Cheng Ho, dan berjalan-jalan santai di area kelenteng. Bahkan aku sempat melihat pertunjukan barongsai lagi, dan lucunya, aku malah tertawa melihat gerakan mereka yang lincah dan menghibur. Dari situ aku sadar pengalaman memang bisa mengubah sudut pandang seseorang.
Sebagai tempat ibadah dan wisata sejarah, Sampokong juga sering dijadikan lokasi berbagai acara budaya. Mulai dari perayaan Imlek, Cap Go Meh, hingga festival-festival budaya lainnya. Hal ini membuat Sampokong tidak hanya menjadi tempat yang sakral, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai budaya yang hidup berdampingan secara harmonis. Menurutku, itu adalah salah satu hal yang membuat Semarang begitu istimewa.
Kalau dipikir-pikir, kenangan kecil seperti bermain otopet di depan Sampokong atau menangis karena takut barongsai ternyata menjadi bagian yang cukup berkesan dalam hidupku. Hal-hal sederhana seperti itu justru yang sering kita ingat sampai sekarang. Apalagi jika tempatnya memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, kenangan tersebut jadi terasa lebih bermakna.
Sekarang, setiap kali ada teman dari luar kota yang bertanya tentang tempat wisata di Semarang, aku tidak ragu lagi untuk merekomendasikan Sampokong. Bukan hanya karena keindahan dan nilai sejarahnya, tetapi juga karena tempat itu menyimpan banyak cerita pribadi bagiku. Rasanya seperti ingin berbagi sedikit bagian dari memoriku dengan orang lain.
Jadi, kalau suatu saat kalian berkunjung ke Semarang, jangan lupa untuk mampir ke Sampokong ya. Siapa tahu, kalian juga bisa menemukan cerita dan pengalaman menarik versi kalian sendiri di sana. Karena pada akhirnya, setiap tempat bukan hanya soal apa yang kita lihat, tetapi juga tentang apa yang kita rasakan dan kenangan apa yang kita bawa pulang.
