Berwisata ke Curug Sigenting

Oleh Marita Ningsih

Curug Sigenting adalah salah satu objek wisata alam berupa air terjun yang berada di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tempat ini dikenal dengan keindahan alamnya yang masih asri serta suasana pegunungan yang sejuk, sehingga cocok dijadikan tempat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Pada tahun 2023, saya dan dua teman memutuskan untuk mengunjungi Curug Sigenting untuk mengisi liburan semester. Kami ingin berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa jenuh setelah beberapa minggu padat dengan kegiatan sekolah. Sejak beberapa minggu sebelumnya, saya sudah membayangkan momen berada di tengah alam yang asri, mendengar suara alam, dan merasakan udara segar pegunungan. Rasanya seperti hadiah kecil untuk diri sendiri setelah bekerja keras.

Kami berangkat pagi-pagi sekali agar sampai di curug dalam keadaan masih segar. Di tengah perjalanan, kami membeli snack dan camilan untuk mengganjal perut. Mengendarai sepeda motor sambil merasakan udara pagi yang sejuk membuat hati saya senang. Setiap hembusan angin terasa seperti menyapu rasa penat, dan saya merasa bebas dari rutinitas sehari-hari.

Sebelum memasuki area parkir, kami melewati jalur hutan pinus yang rindang. Suasananya tenang, udara sejuk, dan cahaya matahari yang menembus celah pepohonan membuat pemandangan begitu indah. Lokasi loket tiket menuju area parkir lumayan jauh, tetapi perjalanan melewati hutan ini terasa menyenangkan dan menambah rasa penasaran saya untuk segera melihat curug. Tiket masuk per orang adalah Rp10.000, dan setelah membeli tiket, kami mulai menapaki jalur menuju gapura utama.

Sebelum memasuki gapura, saya mendengar cerita mistis dari masyarakat setempat. Konon, pintu masuk curug berhubungan dengan Batara Kala, putra Dewa Siwa menurut mitologi. Meskipun saya tahu ini hanyalah mitos, bulu kuduk saya merinding. Ada rasa waspada yang muncul seolah alam sekitar ingin mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dan menghormati tempat ini. Cerita itu membuat saya lebih tenang dan menjaga sikap selama berada di kawasan curug.

Gapura Curug Sigenting tampak megah dengan ukiran naga seperti dalam kisah pewayangan. Hiasan wayang di sekitarnya menambah kesan magis, hampir seperti memasuki dunia lain. Perasaan kagum campur takut muncul, tapi rasa penasaran untuk melihat air terjun lebih dekat membuat kami tetap maju. Curug ini memiliki ketinggian sekitar 40 meter, dan saya sudah bisa membayangkan betapa derasnya aliran air dan suara gemuruhnya yang menenangkan.

Jalur trekking sebagian besar sudah berbentuk anak tangga, meski di beberapa titik belum ada pagar pembatas dan terdapat papan peringatan area rawan longsor. Kami berjalan pelan-pelan sambil berhati-hati karena beberapa tangga licin dan tidak ada pegangan. Kaki saya sempat gemetar, begitu juga salah satu teman yang jarang berolahraga, sehingga kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Di tengah perjalanan, suara gemuruh air terjun terdengar semakin keras, sementara dari celah pepohonan tinggi, aliran air mulai terlihat menari di atas bebatuan. Semilir angin pegunungan berpadu dengan gemericik air dan hijau pepohonan di sekelilingnya membuat suasana begitu menenangkan. Meski lelah, kami tetap melanjutkan perjalanan sambil sesekali bercanda, merasakan campuran ketegangan, rasa penasaran, dan antusiasme yang membuat petualangan ini semakin berkesan.

Akhirnya, kami sampai di bawah dan kagum melihat keindahan Curug Sigenting. Aliran airnya deras, suara gemuruhnya kuat, dan cipratan air terasa hingga ke tempat kami berdiri, memberikan sensasi segar dan menyenangkan. Bebatuan besar di sekitar aliran sungai terlihat alami dan cantik. Saat itu belum ada pengunjung lain karena kami datang sangat pagi, sehingga rasanya sepi dan damai, seolah tempat itu milik kami bertiga saja.

Rasa ketika sampai di bawah benar-benar sulit diungkapkan dengan kata-kata. Keindahan dan kesejukan udara membuat kami terpesona. Suara gempuran air terjun yang jatuh sangat keras berpadu dengan aliran sungai yang deras dan warna air yang indah membuat kami tercengang. Hanya kami bertiga di sana, sehingga hawa sejuk dan ketenangan benar-benar terasa menyelimuti. Sensasi damai dan kagum itu membuat saya ingin menikmati setiap detiknya tanpa terburu-buru.

Kami beristirahat sejenak sambil menikmati camilan dan memandangi aliran sungai dengan bebatuan alami. Rasanya sangat tenang dan nyaman. Sambil bercengkerama, kami juga sesekali berfoto di sekitar sungai sebelum mendekat ke air terjun. Saat berada dekat, terasa jelas cipratan air terjun dan angin yang jatuh begitu deras. Jalannya cukup terjal dan licin, sehingga setiap langkah membuat saya lebih menghargai keindahan alam sekaligus perjuangan menapaki jalur trekking yang menantang.

Setelah sekitar dua jam menikmati keindahan di bawah, pengunjung lain mulai berdatangan. Mereka membawa berbagai perlengkapan, seperti tripod untuk berfoto, camilan, dan makanan. Beberapa datang bersama teman atau keluarga, sehingga suasana semakin ramai dan hidup dibandingkan dengan pagi yang sepi. Saat kunjungan terakhir saya, banyak pengunjung memakai outfit yang tak kalah keren, biasa disebut “outfit Curug”, mungkin karena tempat ini telah viral di berbagai media sosial. Banyak yang datang ingin berfoto atau membuat video dengan outfit tersebut. Dari momen itu, saya menyadari bahwa Curug Sigenting kini jauh lebih populer dibandingkan saat pertama kali saya berkunjung. Meski ramai, pesona alam dan keasriannya tetap terasa, hanya saja nuansa mistis dan sepi seperti saat pertama datang mulai berkurang.

Perjalanan pulang ternyata tidak kalah melelahkan karena harus menaiki ratusan tangga kembali. Tenaga sudah mulai terkuras akibat perjalanan turun sebelumnya, sehingga kami berjalan pelan-pelan dan sesekali berhenti. Otot kaki terasa pegal, tapi tetap menyenangkan bisa melalui semua itu bersama teman-teman. Rasanya seperti perjuangan kecil yang menyenangkan karena semua pengalaman dan pemandangan yang kami nikmati terasa sepadan dengan lelah yang dirasakan.

Sejak kunjungan pertama itu, saya juga mengunjungi Curug Sigenting beberapa kali lagi. Setiap kunjungan selalu berbeda, mulai dari pagi yang sepi hingga siang yang ramai. Saat kunjungan terakhir, tempatnya sudah lebih ramai karena viral, banyak penjual makanan, dan pengunjung semakin banyak. Kesan mistis dan horor yang saya rasakan saat pertama kali datang mulai berkurang, tapi keindahan alamnya tetap sama. Seperti Kurniati, seorang pengunjung yang baru pertama kali datang, saya juga merasakan tantangan jalur yang terjal dan berbatu, namun semua rasa lelah terbayar begitu sampai di lokasi yang sejuk dan indah.

Meskipun perjalanan menuju air terjun dan kembali ke atas cukup melelahkan, semua rasa capek terbayar dengan pengalaman yang sangat berkesan. Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa keindahan alam Indonesia sangat luar biasa dan patut dijaga kelestariannya, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saya berharap suatu hari nanti bisa kembali mengunjungi Curug Sigenting bersama keluarga atau teman-teman, untuk menikmati momen yang sama atau menjelajahi sudut lain yang belum sempat saya lihat.(*)