Oleh Naufal Dzaki Raissa Pratama
Tinggal di kota kecil tidak berarti buruk. Aku tinggal dan dilahirkan di sebuah kota yang memiliki wilayah yang tidak terlalu besar, namun memiliki keanekaragaman budaya mulai dari kebiasaan, tradisi, pusat ibadah, dan makanan yang beragam. Kotaku memiliki bangunan ikonik yang fenomenal sekaligus unik, di mana terdapat sebuah masjid yang dibangun di sebelah sebuah menara dengan ciri khas arsitektur Hindu. Aku beberapa kali ke sana, hanya sekadar lewat, namun aku teringat masa sekolah menengah pertamaku, di mana aku dan temanku sekelas diberi kesempatan oleh guru ips untuk mengunjungi Masjid Menara Kudus lagi untuk mengetahui lebih dalam sejarah serta bagaimana berdirinya masjid dan menara tersebut.
Sebenarnya, semasa kecil aku sudah sempat beberapa kali mengunjungi kompleks kawasan Kauman Masjid Menara Kudus menggunakan sepeda dengan teman-temanku yang berjarak dari rumahku sekitar 5 km. Aku berada di sana hanya untuk membeli jajanan dan menelusuri gang-gang sempit dengan bangunan rumah-rumah tua bergaya khas adat Kudus yang disebut “Joglo Pencu”. Di sana, kamu tidak hanya ditawarkan wisata religi, tetapi juga sebagai bukti nyata toleransi budaya yang sudah ada sejak abad ke-16.
Ketika pertama kali menginjak kawasan Kauman, yaitu tempat di mana berdirinya Masjid Menara Kudus, aku melihat banyak sekali orang-orang berdagang beraneka macam dagangan mulai dari makanan, cinderamata, songkok, sajadah, tasbih, dan lain sebagainya. Di sana aku juga melihat banyak orang-orang memakai peci dan sarung berjalan di sekitar kawasan Kauman yang dulu aku pikir mereka orang alim, yang ternyata mereka adalah murid-murid pesantren. Kawasan Kauman sendiri merupakan jantung pendidikan Islam tradisional di Kudus. Di sekitar Masjid Menara, banyak terdapat pondok pesantren dan madrasah (seperti Madrasah TBS atau Qudsiyyah). Ribuan santri lalu-lalang di gang-gang sempit Kauman dengan identitas khas mereka: sarung, koko, dan peci. Ini membuat suasana yang kusebut sangat islami dan terasa hangat dan religius. Karena banyaknya peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk mengunjungi Makam Sunan Kudus, suasana religius ini semakin terasa. Para peziarah biasanya datang dengan busana muslim lengkap sebagai bentuk penghormatan, dan tidak heran juga karena Kudus juga dikenal sebagai salah satu pusat produksi bordir dan busana muslim. Maka tidak heran jika masyarakatnya bangga mengenakan produk lokal bernuansa Muslim yang menutup aurat tersebut dalam aktivitas harian.
Di sekitar area kauman terdapat banyak sekali orang berjualan kuliner khas kudus seperti soto kerbau, sate kerbau, dan lentog tanjung. Aku sendiri sangat menyukai kuliner khas kotaku sendiri yang disebut lentog tanjung. Rasanya sangat nikmat untuk makan saat sarapan. Harganya sangatlah terjangkau, namun rasanya gurih dan bikin nagih. Biasanya aku tidak cukup makan hanya satu piring; aku harus makan dua piring agar puas. Lentog sendiri adalah lontong sebesar paha orang dewasa yang dipotong dan disajikan dengan sayur lodeh, tahu, dan nangka muda (tewel). Biasanya para penjual lentog memberikan hidangan pendamping seperti sate telur puyuh, bakwan, kerupuk bawang, dll. Makanan ini adalah makanan yang paling menggoyang lidahku yang sangat menyukai makanan yang kaya akan rasa, aku sangat merekomendasikan kalian yang mengunjungi kawasan kauman masjid menara kudus untuk mencoba kuliner yang gurih dan nikmat ini, selain itu disiang hari kalian dapat mencoba sate kerbau yang manis dan gurih berbeda dengan sate kebanyakan yang memakai daging sapi atau kambing di sini sate disajikan dengan daging kerbau itu karena pada zaman dahulu daerah sekitar kudus mayoritas penduduknya adalah umat Hindu dan datanglah sunan Kudus dengan agama Islam beliau berusaha memasuki dan menyebarkan agama Islam dengan cara yang halus dan akulturasi budaya karena umat Hindu menganggap sapi sebagai figur ibu yang memberikan kehidupan. Seperti seorang ibu yang menyusui anaknya, sapi memberikan susu yang menjadi sumber gizi bagi manusia tanpa meminta imbalan. Sapi dipandang sebagai simbol kasih sayang, kedermawanan, dan pengorbanan yang tidak mementingkan diri sendiri. Maka dari itu, untuk menghormati dan agar Islam mudah diterima, Sunan Kudus pun mengganti kurban dari daging sapi menjadi daging kerbau. Begitu pun makanan-makanan lokal juga hanya menggunakan daging kerbau karena mayoritas umat Hindu.
Setelah asyik menelusuri gang dan kawasan Kauman, aku beranjak menuju ke tempat Masjid Menara Kudus berdiri. Di sana, aku takjub. Baru kali ini aku melihat menara setinggi 18 meter yang menyerupai candi Hindu-Jawa, lengkap dengan piringan keramik Tiongkok kuno di dindingnya. Selain itu, terdapat gapura berbentuk Paduraksa (gapura beratap) di pintu masuk yang sangat identik dengan arsitektur keraton atau tempat suci Hindu. Aku takjub. Bangunannya sudah terlihat tua, namun tetap saja kokoh dan berdiri gagah, padahal aku melihatnya dibangun hanya dengan bata merah.
Sesuai dengan ceritaku di awal tadi, ini adalah momen pertama kalinya aku mengunjungi Masjid Menara Kudus. Beberapa tahun kemudian, aku kembali mengunjunginya dengan teman sekelasku. Aku berangkat ke sana menggunakan angkot bersama teman-teman. Sesaat sampai di sana, aku masih merasakan suasana yang sama dan menenangkan diri dengan orang-orang berbusana Muslim berlalu-lalang, pedagang-pedagang berjualan, bahkan dengan dagangan yang masih sama. Aku dan teman-temanku pun memutuskan untuk langsung masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa, Menara Kudus, untuk melaksanakan ibadah salat Zuhur bersama teman-temanku sekelas. Terdapat 8 pancuran wudu dengan relief di atasnya. Jumlah 8 ini mengadaptasi ajaran Buddha, yaitu “Asta Sanghika Marga” (Delapan Jalan Utama), sebuah bentuk penghormatan Sunan Kudus kepada masyarakat Buddha kala itu. Aku berwudu di sana dan merasakan airnya yang begitu segar, yang terkena kulit setelah berjalan di kawasan Kauman di siang hari. Setelah itu, aku langsung masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa, namun aku terdiam sejenak. Aku kagum melihat bangunan di dalamnya. Aku melihat arsitektur interiornya menampilkan kesederhanaan mendalam melalui struktur Soko Guru (empat tiang utama kayu jati) dan atap berbentuk tajug yang melambangkan konsep gunung sebagai pusat semesta dalam tradisi Jawa-Hindu. Di dalam ruang utama yang tenang, terdapat mihrab berhiaskan prasasti sejarah dan pintu-pintu kayu dengan ukiran motif flora yang halus, mencerminkan perpaduan estetika Islam dengan nilai-nilai lokal Majapahit. Menegaskan posisi masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan monumen diplomasi budaya yang secara harmonis menyatukan filosofi religius dengan warisan arsitektur Nusantara, menjadikannya bukti hidup toleransi yang tetap terjaga hingga saat ini.
Masjid Al-Aqsha Kudus, yang lebih dikenal luas sebagai Masjid Menara Kudus, didirikan oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 M sebagai wujud nyata diplomasi dakwah Islam yang sangat akomodatif terhadap budaya lokal. Penamaan “Al-Aqsha” sendiri dipilih oleh Sunan Kudus sebagai bentuk penghormatan sekaligus kerinduan terhadap Masjid Al-Aqsha di Palestina, sekaligus menjadi pengingat akan latar belakang beliau yang memiliki keterkaitan historis dengan wilayah Al-Quds. Sepanjang sejarahnya, masjid ini menjadi monumen agung akulturasi budaya, di mana Sunan Kudus dengan cerdas memadukan elemen arsitektur Jawa-Hindu seperti menara yang menyerupai candi, penggunaan bata merah teknik kosod, serta filosofi delapan pancuran wudu yang mengadopsi ajaran Buddha untuk menciptakan ruang ibadah yang inklusif dan harmonis, yang hingga kini tetap tegak berdiri sebagai pusat syiar agama sekaligus cagar budaya yang menjaga nilai-nilai toleransi lintas zaman.
Setelah menunaikan ibadah salat Zuhur, aku dan temanku memutuskan untuk langsung masuk, berdiri tepat di kaki Menara Kudus. Aku merasakan sensasi yang jauh berbeda dibandingkan saat berada di pelataran masjid. Dengan izin khusus dan rasa takzim yang mendalam, aku menapaki anak tangga kayu yang sempit dan curam di dalam struktur menara yang ikonik itu. Bau kayu jati tua yang khas menyambut indra penciuman saya, sebuah aroma yang seolah membawa saya kembali ke abad ke-16. Semakin tinggi aku melangkah, cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah bata merah menciptakan pola siluet yang magis di lantai kayu yang berderit pelan di bawah kakiku.
Di dalam, tidak ada kemegahan yang mencolok; yang ada hanyalah kejujuran arsitektur. Dinding bata merah yang disusun rapat tanpa semen itu terasa dingin saat telapak tangan saya menyentuhnya, sebuah teknik kosod yang kokoh menahan beban berabad-abad. Begitu mencapai bagian atas, saya disambut oleh pemandangan kompleks masjid dari ketinggian yang jarang dilihat orang awam. Dari sini, saya bisa melihat detail piringan keramik kuno yang tertanam di dinding luar menara dengan lebih jelas, sebuah saksi bisu hubungan diplomasi dagang dan budaya masa lalu. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui lubang ventilasi menara terasa sejuk, membawa serta suara sayup-sayup lantunan doa dari bawah. Di puncak sunyi itu, aku tidak hanya melihat atap-atap kota Kudus, tetapi juga merasakan keagungan sebuah visi toleransi yang sengaja dibangun tinggi agar bisa dilihat oleh semua mata bahwa perbedaan, jika diletakkan dengan tepat, justru akan menciptakan keindahan yang tidak akan pernah pudar.
Setelah turun dari anak tangga kayu yang berderit di dalam struktur Menara Kudus, napasku masih terasa sedikit tersengal, namun hatiku justru menemukan ritme yang lebih tenang. Sensasi dingin bata merah yang tadi saya sentuh di puncak menara masih melekat di telapak tangan, seolah memindahkan sekelumit sejarah dari ketinggian ke dalam jiwa. Aku sempat berdiri sejenak di pelataran, memandang menara yang dari bawah terlihat begitu megah namun tetap rendah hati dengan estetika kunonya, sebelum akhirnya membalikkan badan menuju sisi barat kompleks masjid.
Melangkah masuk ke area makam Sunan Kudus adalah transisi yang magis. Jika di menara tadi aku disapa oleh hembusan angin dan pemandangan luas, di sini aku justru disambut oleh suasana yang memeluk erat dalam keheningan. Pintu kayu jati yang saya lewati seakan menjadi batas antara dunia yang bising dan dunia yang penuh kontemplasi. Aroma dupa yang berpadu dengan wangi kayu cendana segera menyambut, menuntun langkah saya hingga ke dekat nisan yang tertutup kain luwur putih.
Di sana, di antara para peziarah yang duduk bersila dalam diam, aku tidak lagi merasa sebagai pengunjung, melainkan sebagai bagian dari untaian sejarah yang panjang. Setelah tadi melihat kota dari puncak menara, di sini aku merasa seperti ditarik kembali ke pusat inti ke titik di mana segala ajaran toleransi dan kearifan Sunan Kudus bermula. Duduk bersimpuh di samping makam, aku merasakan kontras yang indah: tadi aku berada di tempat yang mendekati langit; kini aku berada di tempat yang membawaku merenung ke dalam diri. Pengalaman hari ini bukan sekadar perjalanan fisik dari menara ke makam, melainkan perjalanan batin yang menyadarkan saya betapa megahnya sebuah warisan yang dibangun di atas fondasi kedamaian.(*)