Negeri di Atas Awan

Oleh Raditya Fahmi Darmawan Efendi 

Pagi itu aku bangun sebelum dunia sempat menghela napas. Kota masih menyisakan dingin yang menempel di kulit, dan semangatku seperti bara yang tak sabar menunggu angin. Perjalanan menuju Dieng terasa seperti menapaki mimpi yang dibungkus kabut. Setiap kilometer menipiskan jarak antara rutinitas dan keajaiban.

Bus melaju membawa kami dari dataran yang berangin ke pegunungan yang berbisik. Jendela menjadi bingkai hidup yang terus berubah: sawah berganti hutan pinus, lalu jurang-jurang yang menatap tajam. Di dalam bus, tawa para penumpang seperti nyala api kecil yang menantang dingin, sementara aku dan Juge sibuk merajut cerita lewat lensa dan rekaman.

Sekitar jam tiga sore kami tiba di sebuah rumah makan di Wonosobo. Rombongan makan dan beribadah, sementara aku dan Juge sibuk mendokumentasi: aku memotret, Juge merekam video. Hangatnya makanan setelah perjalanan panjang itu terasa seperti pelukan yang menenangkan otot-otot yang lelah.

Setibanya di titik nol Dieng, udara menusuk sampai ke tulang. Setiap napas terasa seperti menelan kristal. Hamparan luas dengan langit biru dan candi-candi yang berdiri elegan membuatku terdiam, seolah waktu menunduk memberi ruang bagi pemandangan untuk berbicara.

Kami berjalan melewati terowongan tanaman merambat, dan dunia di luar seperti lukisan yang perlahan dibuka tirainya. Bunga-bunga menyapa, angin membawa aroma tanah basah, dan langkah kaki kami bergema seperti doa. Di sana aku merasa kecil, namun sekaligus besar, karena setiap jepretan seolah menambatkan kenangan pada langit.

Malam di penginapan dingin dan sederhana. Kasur untuk empat orang menjadi pulau kecil kehangatan di tengah malam yang menggigil. Kami berbagi cerita, menertawakan hal-hal sepele, lalu menatap langit yang tak pernah lelah menaburkan bintang. Ketika tubuh lelah, jiwa justru terisi kembali oleh keheningan yang bermakna.

Keesokan paginya, sebelum matahari sempat mengusir kabut, kami berlari menuju Sky Resort untuk menyaksikan kelahiran hari. Saat cahaya oranye menembus kabut, tubuhku merinding seperti daun yang disentuh embun. Momen itu bukan sekadar pemandangan, melainkan upacara kecil yang mengajarkan aku tentang kesabaran dan keindahan yang lahir dari kedinginan.

Bubur hangat dan mendoan menjadi ritual yang menghangatkan tangan setelah menyaksikan matahari terbit. Rasa sederhana itu terasa seperti hadiah dari alam. Di Sky Resort aku merekam wajah-wajah yang terpesona, dan setiap foto seperti surat cinta yang kutulis untuk hari itu.

Perjalanan ke Kawah Sikidang membawa nuansa lain: lumpur, uap belerang, dan pasar yang berliku seperti labirin cerita. Bau belerang menusuk, namun anehnya menambah dramatisnya suasana. Wisatawan berfoto, dan aku sibuk menangkap ekspresi mereka, seolah setiap wajah adalah peta kecil tentang bagaimana manusia bertemu alam.

Di antara wahana offroad dan tawa pengunjung, aku merasa menjadi saksi yang beruntung. Lelah menempel, tapi ada kepuasan yang tak bisa diukur. Kamera di tangan terasa seperti pena yang menulis ulang hari itu, menyimpan detail yang mungkin besok akan pudar dari ingatan.

Saat bus kembali melaju pulang, pegunungan perlahan menghilang di balik jendela, namun pemandangan itu meninggalkan bekas seperti tinta di kertas. Aku menatap jauh, merasakan campuran lelah dan syukur. Perjalanan ini bukan hanya soal tempat, melainkan tentang bagaimana kami belajar melihat dan dihantarkan pulang oleh cerita-cerita kecil yang kami kumpulkan.

Di rumah, ketika aku menceritakan semuanya, kata-kata mengalir seperti sungai yang menemukan muaranya. Orang tua tersenyum, dan aku tahu pengalaman itu telah menambatkan sesuatu di dalam diriku. Malamnya, ketika tubuh akhirnya menyerah pada kantuk, aku tidur dengan perasaan bahwa Dieng telah memberi lebih dari sekadar pemandangan: ia memberi pelajaran tentang kesunyian yang berbicara, dingin yang menghangatkan, dan perjalanan yang mengubah cara kita memandang dunia.(*)