Telaga Claket dan Jasmine

Oleh Rafi Faturrahman

Angin sore di Telaga Claket, Desa Sendang, bener-bener kerasa adem banget di kulit, beda banget sama gerahnya bangunan sekolah pas jam pelajaran terakhir tadi. Aku duduk sendirian di atas beton di pinggir telaga. Awalnya cuma pengen nyari ketenangan aja karena capai dengan rutinitas kelas satu SMA yang gitu-gitu aja. Sebagai cowok yang cenderung introver dan biasa-biasa saja, aku merasa tempat ini adalah pelarian yang paling pas buat sekadar bengong atau coret-coret buku sketsa kalau lagi mood. Suasana di sini tuh tenang banget, cuma ada suara riak air yang sesekali kena angin, bikin aku merasa aman dari kebisingan anak-anak sekolah yang hobi nongkrong di kafe kekinian.

“Eh, kamu Rafi, kan? Anak kelas X-A yang hobi gambar itu?” Sebuah suara cewek yang lembut tiba-tiba membuyarkan lamunanku, bikin aku hampir loncat karena kaget. Pas aku nengok, ternyata itu Jasmine, cewek yang selama ini cuma bisa aku lihat dari jauh karena dia itu primadona sekolah yang circle-nya beda jauh sama aku. Dia berdiri di sana sambil tersenyum ramah. Rambutnya sedikit berantakan kena angin telaga, tapi malah bikin dia kelihatan makin cantik natural. Aku langsung salting parah dan cuma bisa ngangguk kaku, nggak nyangka banget “bunga sekolah” kayak dia tiba-tiba nyamperin cowok medioker kayak aku di tempat terpencil kayak gini.

“Iya, aku Rafi. Kok kamu bisa tahu namaku, Jas? Terus ngapain main ke sini sendirian?” tanyaku dengan suara yang berusaha aku buat senormal mungkin meskipun aslinya deg-degan parah. Jasmine tertawa kecil, terus duduk di sebelahku tanpa menunggu izin. Dia meluruskan kakinya sambil menatap hamparan air telaga yang mulai membiaskan warna senja. “Tahu dong, kan kita sekelas, masa aku nggak tahu teman sendiri? Aku ke sini karena lagi pengen cari udara segar aja, eh nggak sengaja lihat kamu,” jawabnya santai. Sore itu jadi awal yang nggak terduga, di mana dua orang yang nggak pernah ngobrol di kelas malah jadi asyik bercerita banyak hal di pinggir telaga sampai matahari benar-benar hilang.

Sejak pertemuan itu, Telaga Claket nggak lagi jadi tempat persembunyianku sendiri, tapi jadi tempat rahasia kita berdua setiap akhir pekan. Jasmine ternyata nggak se-eksklusif yang aku bayangkan; dia itu asyik banget diajak ngobrol dan punya minat yang besar sama hal-hal indah yang ada di alam. Kita jarang banget ngebahas soal pelajaran, lebih sering bercanda atau sekadar duduk diam sambil dengerin lagu bareng lewat earphone yang dibagi dua. Aku mulai ngerasa kalau keberadaanku di samping dia itu nyata, bukan cuma sekadar bayangan di pojok kelas yang nggak pernah dianggap ada oleh orang lain.

Waktu kerasa cepet banget berlalu, dari yang awalnya cuma anak kelas satu yang masih malu-malu, sekarang kita sudah duduk di kelas tiga SMA dengan segala tekanan ujiannya. Hubungan kita makin dalam, meskipun di sekolah kita tetap jaga image biar nggak jadi bahan gosip yang aneh-aneh dari teman-teman lainnya. Jasmine sering banget bilang kalau dia merasa paling jadi diri sendiri pas lagi bareng aku di telaga ini, jauh dari ekspektasi orang-orang yang selalu nuntut dia buat sempurna. Kita sering menghabiskan waktu berjam-jam cuma buat cerita tentang impian masa depan, meskipun diam-diam aku mulai merasa takut kalau waktu kita bareng-bareng bakal segera habis.

Pas pengumuman kelulusan akhirnya keluar, rasa bahagia yang seharusnya aku rasain malah ketutup sama rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dada. Jasmine dapet kabar kalau dia lolos masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia (FK UI), sebuah pencapaian yang luar biasa dan memang pantas buat dia. Sementara itu, aku diterima di Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH UNNES), yang artinya kita nggak bakal lagi berada di kota yang sama. Kabar itu kayak petir di siang bolong buat aku, karena aku tahu betul kalau Jakarta dan Semarang itu jaraknya nggak main-main buat hubungan anak baru lulus SMA.

Sore itu, kita janjian ketemu lagi di Telaga Claket untuk terakhir kalinya sebelum Jasmine harus berangkat ke Jakarta buat urusan registrasi kampus. Suasananya mendung banget, kayak langit juga tahu kalau hati kita lagi nggak baik-baik saja dan penuh sama ketidakpastian. Jasmine duduk di sebelahku, tapi kali ini dia nggak seceria biasanya; dia lebih banyak nunduk sambil mainin ujung jaketnya sendiri. “Raf, kamu udah tahu kan kalau aku bakal ke Jakarta minggu depan? Rasanya berat banget harus ninggalin Wonogiri, apalagi ninggalin momen-momen kita di sini,” katanya dengan suara yang mulai bergetar.

Aku cuma bisa menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang udah mau pecah karena nggak sanggup ngebayangin hari-hariku tanpa dia nantinya. “Aku tahu, Jas. FK UI itu impian kamu dari dulu, dan aku bener-bener bangga sama kamu, tapi aku juga jujur kalau aku nggak siap kalau kita harus jauh-jauhan,” jawabku pelan. Kita berdua terdiam lama, cuma ada suara angin yang makin kencang bertiup, bikin suasana di pinggir telaga itu makin kerasa dingin dan mencekam. Rasanya semua kenangan manis selama tiga tahun ini kayak diputar ulang di kepalaku, dan itu malah bikin hatiku makin perih nggak karuan.

“Apa kita bakal bisa bertahan, Raf? Maksudku, kuliah di Kedokteran itu bakal sibuk banget, dan kamu juga pasti sibuk sama urusan hukum di Semarang nanti,” tanya Jasmine sambil menatapku dengan mata yang sudah basah. Aku menatap balik matanya, mencoba mencari celah harapan, tapi yang aku temukan cuma keraguan yang sama besar dengan apa yang aku rasain sekarang. “Jujur, Jas, aku nggak mau kita malah jadi saling nyakitin karena komunikasi yang bakal susah nantinya atau karena kita sama-sama berubah di lingkungan baru,” kataku jujur. Kalimat itu terasa sangat berat buat diucapin, tapi aku tahu kalau kita harus realistis sama keadaan yang bakal kita hadapi di depan mata.

Akhirnya, di bawah langit Claket yang makin gelap, kita sampai pada kesepakatan pahit yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya pas kita pertama kali ketemu dulu. Kita sepakat untuk menyudahi hubungan ini di sini, di tempat yang sama saat semuanya dimulai, biar kenangan kita tetap indah tanpa ada drama perselingkuhan atau rasa bosan karena jarak. “Mungkin emang lebih baik kita pisah sekarang, biar kita bisa fokus sama masa depan masing-masing tanpa harus terbebani janji-janji yang susah ditepati,” bisik Jasmine sambil terisak pelan. Aku cuma bisa mengangguk, ngerasa kalau separuh dari jiwaku kayak ikut hilang terbawa angin sore yang makin menusuk tulang.

“Makasih ya, Raf, buat tiga tahun yang luar biasa ini. Kamu cowok paling sabar yang pernah aku kenal, dan aku nggak bakal lupain itu,” kata Jasmine sambil berdiri dan mengusap air matanya dengan kasar. Aku juga ikut berdiri, mencoba memberikan senyum terbaikku yang terakhir kali buat dia, meskipun rasanya itu adalah senyuman paling palsu yang pernah aku buat. “Makasih juga ya, Jas, udah mau jadi bagian dari masa SMA-ku yang awalnya suram jadi berwarna-warni. Sukses ya buat kuliahnya di UI, kamu pasti jadi dokter yang hebat nanti,” balasku dengan tenggorokan yang terasa sangat kering.

Jasmine membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh dariku, langkahnya pelan tapi pasti, tanpa sekalipun dia menoleh ke belakang lagi buat melihatku. Aku tetap berdiri di tepi telaga, melihat punggungnya yang perlahan menghilang di antara pepohonan sampai dia benar-benar nggak kelihatan lagi sama sekali. Aku menghela napas sedalam mungkin, mencoba membuang semua sesak yang ada, lalu aku pun mulai berjalan ke arah berlawanan untuk pulang. Hari itu, di Telaga Claket, kami resmi menjadi dua orang asing kembali, meninggalkan semua cerita masa sekolah kami terkubur dalam-dalam di dasar air telaga yang tenang.(*)