Sekilas tentang Monumen Perjuangan Rakyat di Boja

Oleh Sheila Alya Mukhbita

Desa Boja merupakan desa yang berada di pusat kota kecamatan Boja dan memiliki wilayah yang cukup luas dibandingkan dengan desa-desa lain. Desa Boja memiliki jumlah penduduk yang bisa terbilang lumayan padat. Desa ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan legenda asal-usul dengan tokoh penghormatan utama, yaitu Nyai Dhapu (Ni Pandansari), yang konon katanya merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam sekaligus tokoh yang membuka desa ini atau bisa disebut dengan “mbubak alas”. Namun, tidak hanya itu, desa ini juga menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk peristiwa bumi hangus pada tahun 1947. 

Selain memiliki cerita legenda, Desa Boja juga menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu peristiwa penting yang terjadi adalah peristiwa bumi hangus. Peristiwa ini menjadi bagian dari sejarah lokal yang menggambarkan semangat perjuangan masyarakat dalam mempertahankan wilayahnya dari penjajahan.

Peristiwa bumi hangus di Desa Boja ini terjadi pada akhir Juli tahun 1974. Pada tahun itu kebetulan Belanda sedang melakukan aksi agresi militer pertama. Yang kemudian menyerang Desa Boja dari dua arah. Karena dalam posisi terancam dan tidak aman. Dan warga Desa Boja memiliki rasa solidaritas yang kuat, maka warga Desa Boja berusaha mempertahankan wilayahnya dengan membakar bangunan-bangunan yang dianggapnya penting dan strategis. Hal ini bertujuan agar Boja tidak didominasi atau dikuasai oleh Belanda. 

Upaya masyarakat Boja dalam mempertahankan wilayahnya masih terus berlanjut. Yaitu dengan beberapa masyarakat turut andil dalam memutus saluran untuk komunikasi pasukan Belanda ke markas pusat yang ada di Kota Semarang. Upaya ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga melalui strategi yang bertujuan melemahkan lawan.

Lalu pada tahun 1978 ini, dibangunlah monumen perjuangan rakyat yang ada di Kawedanan. Yang pada saat ini berada di terminal Boja, di depan pasar Boja. Patung tersebut berbentuk seorang laki-laki yang telanjang dada, menggunakan ikat kepala, berkalung sarung, tangan kanan membawa bendera, dan tangan kiri membawa senjata seperti pistol. 

Saat itu saya hanya bisa melihat tanpa tahu apa arti atau cerita di balik patung itu. Dulu, saya hanya melihat monumen itu sekilas tanpa benar-benar memahami maknanya. Yang saya rasakan hanya kesan kuat, gagah, dan penuh semangat dari sosok patung tersebut. Namun, setelah saya memasuki bangku kuliah dan mendapatkan tugas untuk menggali sejarah desa, barulah saya mengetahui cerita dan nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya.

Monumen perjuangan rakyat ini merupakan simbol sejarah lokal yang menjadi saksi bisu perkembangan wilayah tersebut. Monumen dan bangunan di sekitarnya, termasuk eks-Kawedanan, mencerminkan era kolonial dan perjuangan kemerdekaan, sering kali dikaitkan dengan saksi bisu pasar dan pergerakan masyarakat setempat. 

Monumen itu berlokasi di pinggir jalan menghadap Pasar Boja, dan seluruh manusia yang melintas memiliki kemungkinan besar akan menotice itu. Hal ini menjadikan monumen tersebut sebagai salah satu ikon yang cukup menonjol di wilayah Boja. Terlebih, semakin maju perkembangan zaman, di daerah monumen tersebut yang dulunya merupakan terminal, sekarang beralih fungsi menjadi “Ruang Lingkungan Terbuka”. Penataan ini membuat lingkungan sekitar monumen menjadi lebih menarik untuk dikunjungi.

Ruang Terbuka Hijau tersebut kini menjadi tempat aktivitas masyarakat. Di dalam RTH tersebut disediakan tempat untuk para pelari yang biasanya kerap digunakan pada pagi atau sore hari. Selain lari, biasanya sering digunakan oleh ibu-ibu untuk melakukan senam. RTH ini juga menyediakan ring untuk bola basket, jadi sangat terbuka untuk siapa pun yang akan melakukan aktivitas fisik di sini. 

Tidak hanya untuk aktivitas fisik, RTH ini juga dimanfaatkan sebagai ruang ekonomi. Selain itu, terdapat ruang sewa untuk para pedagang, namun kebanyakan dari yang menyewa adalah penjual makanan. Hal ini membuat suasana menjadi lebih hidup, terutama pada sore hingga malam hari. 

Pada malam hari, suasana di RTH Boja juga tidak kalah ramai. Area ini berubah menjadi tempat hiburan yang cukup lengkap bagi masyarakat. Banyak spot yang bisa digunakan anak-anak untuk bermain, sehingga suasananya terasa seperti alun-alun kecil. Lampu-lampu yang menyala menambah kesan hangat dan hidup, sementara para orang tua bisa bersantai atau menikmati jajanan di sekitar area tersebut. Kehadiran aktivitas malam ini membuat RTH tidak hanya berfungsi di siang atau sore hari, tetapi juga menjadi pusat keramaian warga hingga malam. 

Dengan adanya Monumen Perjuangan Rakyat yang berpadu dengan fasilitas ruang terbuka, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarana edukasi sejarah. Monumen tersebut mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya menghargai perjuangan para pendahulu. Dari tempat ini, kita bisa belajar bahwa kemerdekaan dan kehidupan yang nyaman saat ini tidak lepas dari pengorbanan besar di masa lalu.(*)