Sebuah Jalan dengan Rasa Takutku

Oleh Nia Rahmawati

Saat masih kecil, aku dan keluargaku terpaksa harus berpindah tempat tinggal ke daerah lain. Perpindahan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena orang tuaku ingin membangun rumah sendiri di lingkungan baru. Tempat yang dipilih adalah Desa Kalibeluk, sebuah desa yang masih asri dan cukup jauh dari keramaian kota. Bagiku yang saat itu masih kecil, perpindahan ini terasa cukup berat karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman-teman baru, serta suasana yang benar-benar berbeda dari tempat tinggalku sebelumnya.

Rumah baru yang akan dibangun oleh keluargaku terletak tidak jauh dari rumah kakek dan nenekku dari pihak ayah. Hal ini sebenarnya menjadi hal yang menyenangkan karena aku bisa lebih sering bertemu dengan mereka. Namun, lokasi rumah kakek dan nenekku berada di bagian ujung desa dan harus melewati gang kecil untuk sampai ke sana. Akses menuju rumah tersebut tidaklah mudah, terutama bagi anak kecil sepertiku yang belum terbiasa dengan kondisi lingkungan yang sepi dan cukup terpencil.

Salah satu jalan yang harus dilalui untuk menuju ke sana adalah jalan sempit yang diapit oleh pohon-pohon besar dan rindang di kedua sisinya. Pohon-pohon itu menjulang tinggi dengan cabang dan daun yang lebat, sehingga membuat suasana di sekitar jalan menjadi teduh, tetapi juga terasa gelap, bahkan di siang hari sekalipun. Jalan tersebut juga tidak terlalu bagus, sebagian permukaannya rusak, sehingga menambah kesan angker dan menyeramkan.

Sejak pertama kali melewati jalan itu, aku sudah merasakan ketakutan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena kondisi jalannya yang sepi, tetapi juga karena suasananya yang terasa berbeda dari tempat lain. Tidak banyak orang yang melewati jalan tersebut, apalagi ketika hari mulai gelap. Suasana di jalan itu semakin terasa mencekam ketika malam tiba. Gelap yang menyelimuti, ditambah dengan suara angin yang berembus di antara dedaunan, menciptakan suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Tidak jarang terdengar suara hewan malam yang semakin menambah kesan sunyi dan menakutkan. Ditambah lagi, banyak cerita mistis yang beredar di kalangan warga.

Salah satu cerita yang paling membekas dalam ingatanku adalah cerita dari temanku. Ia pernah menceritakan pengalaman ibunya yang melewati jalan itu pada dini hari sekitar pukul dua pagi. Menurut ceritanya, ketika ibunya hendak melewati jembatan kecil di jalan tersebut, tiba-tiba muncul sebuah keris yang melayang di udara, seolah-olah menghalangi jalan. Keris itu tidak jatuh, melainkan melayang dalam waktu yang cukup lama, ibunya mencoba menenangkan diri dengan membacakan doa-doa. Setelah beberapa saat, keris tersebut perlahan menghilang begitu saja tanpa jejak. Cerita itu benar-benar membuatku semakin takut, bahkan hanya untuk membayangkan melewati jalan tersebut saja sudah membuatku merinding. Sejak saat itu, aku semakin enggan untuk melewati jalan tersebut, terutama saat malam hari.

Namun, kenyataannya aku tidak bisa sepenuhnya menghindari jalan itu. Jalan tersebut merupakan akses tercepat untuk menuju sekolahku. Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku sering harus berjalan kaki sendirian melewati jalan itu sepulang sekolah. Meskipun saat itu masih siang hari, suasananya tetap terasa sepi dan membuatku tidak nyaman.

Setiap kali melewati jalan tersebut, aku selalu merasa was-was. Angin yang berembus pelan, suara daun yang bergesekan, serta suara hewan di sekitar membuat suasana terasa semakin sunyi dan menegangkan. Jalan yang terasa panjang seolah tidak ada ujungnya. Karena tidak kuat menahan rasa takut, biasanya aku akan berlari ketika sudah mencapai setengah perjalanan, berharap bisa segera keluar dari jalan tersebut.

Ketika memasuki masa remaja dan duduk di bangku SMA, aku mulai sering pulang larut malam karena berbagai kegiatan, seperti latihan dan tugas sekolah. Mau tidak mau, aku harus melewati jalan itu meskipun rasa takut masih sering muncul. Aku hanya berusaha meyakinkan diri bahwa selama tidak melewati tengah malam, semuanya akan baik-baik saja.

Suatu hari, aku mengikuti sebuah lomba tari yang mengharuskanku untuk bersiap sejak dini hari. Kami diminta berkumpul di sanggar pada pukul tiga pagi untuk persiapan rias dan kostum. Mendengar hal itu, perasaanku langsung diliputi kecemasan karena aku harus melewati jalan tersebut pada waktu yang sangat sunyi. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur dengan tenang karena terus memikirkan perjalanan yang harus kulalui.

Saat waktu berangkat tiba, aku keluar rumah dengan perasaan yang campur aduk antara takut dan terpaksa. Aku menyalami ibuku dan memohon doa agar perjalananku aman. Sepanjang perjalanan, aku mengendarai motor sambil terus berdoa dalam hati. Ketika semakin mendekati jalan tersebut, jantungku berdegup semakin kencang, seolah bersiap menghadapi sesuatu yang tidak diketahui.

Ketika akhirnya aku memasuki jalan itu, suasananya benar-benar sesuai dengan bayanganku. Gelap, sunyi, dan angin malam yang terasa dingin menyelimuti. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memacu motorku lebih cepat sambil terus melafalkan doa. Setiap detik terasa sangat lama hingga akhirnya aku berhasil melewati jalan tersebut dengan selamat, meskipun tubuhku masih terasa merinding.

Dari pengalaman itu, aku mulai menyadari bahwa rasa takut sering kali berasal dari pikiran kita sendiri yang dipengaruhi oleh cerita-cerita yang kita dengar. Meskipun ketakutan itu terasa nyata, kenyataannya tidak selalu seburuk yang kita bayangkan. Sejak saat itu, aku belajar untuk lebih berani dan mencoba mengendalikan rasa takut dengan berpikir lebih tenang serta mendekatkan diri kepada Tuhan.(*)