Tumpangan di Waktu Magrib yang Membawa Pesan Terakhir dari Dunia yang Tak TerlihatTumpangan di Waktu Magrib yang Membawa Pesan Terakhir 

Oleh Yeni Ilma Maelani

Langit di atas jalan desa itu sudah sepenuhnya gelap ketika seorang pemuda melaju pelan di atas motornya. Bukan hanya karena malam tetapi juga karena awan tebal menutup cahaya bulan. Jalan sempit yang biasa ramai kini terasa asing dan terlalu sepi. Di kiri-kanan hanya hamparan sawah yang hitam tanpa batas yang jelas. Lampu motornya memantul pada genangan kecil di aspal yang retak. Ia baru saja pulang dari urusan di luar desa yang membuatnya terlambat. Magrib sudah lama berlalu dan suasana berubah lebih sunyi dari biasanya.

Pemuda itu dikenal sebagai anak yang baik dan sopan di lingkungannya. Ia jarang keluar malam kecuali memang ada keperluan penting. Malam itu pun ia tidak punya pilihan selain pulang sendiri. Angin yang berhembus terasa dingin dan membawa bau tanah basah. Ia menarik jaketnya sedikit lebih rapat. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda di perjalanan itu. Seperti ada bagian dari malam yang tidak sepenuhnya biasa.

Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari kejauhan. Sesekali terdengar suara burung malam yang melintas cepat di atasnya. Jalan itu lurus dan panjang tanpa satu pun rumah yang terlihat. Ia mencoba fokus pada garis jalan yang diterangi lampu motornya. Tangannya tetap stabil di setang meski pikirannya mulai tidak tenang. Ia sempat ingin mempercepat laju motor. Namun perasaan aneh menahannya.

Di sebuah tikungan panjang ia melihat sesuatu di depan. Awalnya hanya bayangan putih yang berdiri diam di pinggir jalan. Ia memperlambat laju motor secara refleks. Saat jarak semakin dekat sosok itu terlihat jelas sebagai seorang perempuan. Perempuan itu mengenakan mukena putih yang tampak kusam. Kepalanya tertunduk dan tubuhnya diam tanpa gerakan. Tidak ada kendaraan lain di sekitar.

Pemuda itu sempat ragu untuk berhenti. Ada dorongan dalam dirinya untuk terus melaju tanpa peduli. Namun ia tidak tega melihat seseorang sendirian di tempat seperti itu. Ia akhirnya menghentikan motor beberapa langkah dari perempuan tersebut. Lampu motor menyorot wajah perempuan itu yang pucat. Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. Lalu ia berbicara dengan suara lirih yang terasa dingin.

Mas… kula nyuwun tulung, kula badhe tindak sekedhap, saged dipun tumpangi nggih?” (Mas… saya minta tolong, saya ingin pergi sebentar, boleh ikut menumpang ya?) ucap perempuan itu pelan. Pemuda itu menelan ludah sebelum menjawab. “Nggih Mbak, menawi kersa, badhe tindak pundi, ben kula saged nganter kanthi trep?” (Iya Mbak, kalau boleh tahu mau ke mana, supaya saya bisa mengantar dengan benar?) Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya melangkah mendekat. Lalu naik ke belakang motor tanpa suara.

Perjalanan kembali berlanjut namun suasana terasa berubah. Ia mencoba merasakan beban di belakangnya. Aneh karena ia tidak merasakan tambahan berat sama sekali. Seolah motor itu tetap seringan saat ia berkendara sendirian. Ia melirik sekilas ke kaca spion. Yang terlihat hanya kain putih yang diam. Tidak ada suara napas atau gerakan.

Beberapa saat kemudian perempuan itu berbicara lagi. “Mas… mangga terus mawon, mboten usah kesusu, dalane dereng tebih kok.” (Mas… silakan terus saja, tidak perlu terburu-buru, jalannya belum jauh.) Suaranya tetap datar. Pemuda itu hanya mengangguk kecil. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak wajar. Tangannya sedikit berkeringat di setang motor.

Tidak lama kemudian perempuan itu kembali bersuara. “Mas, menawi saged, mandheg wonten ngajeng mriki nggih, kula badhe mudhun.” (Mas, kalau bisa berhenti di depan sini ya, saya mau turun.) Pemuda itu melihat ke depan dan langsung mengenali tempat tersebut. Sebuah area kuburan kecil yang terpisah dari pemakaman lain. Tempat itu dikenal dengan nama kuburan Mbah Sapu Geni. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Motor berhenti tepat di depan kuburan yang gelap. Tidak ada lampu sama sekali di sekitar tempat itu. Pohon-pohon tua berdiri diam seperti bayangan hitam. Perempuan itu turun dari motor dengan gerakan pelan. Ia tidak langsung pergi. Ia berdiri beberapa langkah dari motor. Suasana terasa semakin sunyi.

Kowe bocah apik, saka wiwit tekan pungkasan isih gelem nulungi wong sing ora dikenal, mula elinga, dadiya bocah sing tetep apik senajan kahanan owah.” (Kamu anak baik, dari awal sampai akhir masih mau menolong orang yang tidak dikenal, maka ingatlah, jadilah anak yang tetap baik meskipun keadaan berubah.) Suara perempuan itu terdengar jelas di tengah keheningan. Pemuda itu tidak mampu menjawab. Ia hanya diam dengan jantung berdebar. Perempuan itu kemudian berbalik menghadap kuburan.

Perempuan itu berjalan perlahan menuju kegelapan. Langkahnya ringan tanpa suara. Pemuda itu menatap tanpa berkedip. Tubuh perempuan itu perlahan memudar. Seolah menyatu dengan gelap di sekitarnya. Dalam beberapa detik sosok itu menghilang sepenuhnya. Tidak ada jejak yang tersisa.

Rasa takut langsung menyerang tanpa bisa ditahan ketika ia sadar benar-benar sendirian di depan kuburan itu. Pemuda itu segera mencoba menyalakan motor namun mesin sempat tidak mau hidup meski sudah berkali-kali dicoba. Tangannya mulai gemetar dan napasnya tidak teratur. Dalam kepalanya teringat cerita orang-orang tua tentang tempat itu. Dahulu setiap orang yang lewat selalu mengucap permisi kepada Mbah Sapu Geni. Tanpa sadar ia berbisik, “Kulanuwun, Mbah…” (Permisi, Mbah…) lalu mencoba menyalakan motor lagi hingga akhirnya mesin hidup.

Ia langsung melaju pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Jalan terasa lebih panjang dari biasanya dan pikirannya mulai kacau. Dadanya terasa sesak dan napasnya tidak teratur. Tangannya yang memegang setang mulai gemetar hebat. Pandangannya sempat kabur beberapa kali karena rasa takut yang masih membekas. Saat hampir sampai di rumah tubuhnya terasa semakin lemas. Motor yang ia kendarai mulai oleng sebelum akhirnya berhenti dengan sendirinya di depan rumah.

Begitu turun dari motor ia hampir terjatuh karena tubuhnya tidak kuat menahan beban. Keluarganya yang melihat langsung panik dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tubuhnya panas dan ia tidak sadarkan diri sepanjang malam. Beberapa kali ia mengigau dengan suara lirih yang tidak jelas. Warga yang mendengar kejadian itu hanya saling berpandangan karena memahami apa yang mungkin terjadi. Sejak malam itu pemuda tersebut jatuh sakit selama beberapa hari tanpa sebab yang pasti. Dan setiap kali ia sadar, satu kalimat selalu terulang pelan dari mulutnya, “Kulanuwun, Mbah…” (*)