Tradisi Keramas Bareng di Tangerang

Di sebuah desa kecil di Kota Tangerang, tepatnya di Kampung Bekelir, terdapat tradisi unik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, yaitu Keramas Bareng di Sungai Cisadane. Setiap kali mendekati bulan suci Ramadhan, warga kampung berkumpul di tepi sungai untuk melaksanakan ritual penyucian diri secara bersama-sama. Tradisi ini bukan hanya sekadar membersihkan rambut dan tubuh, melainkan juga melambangkan kesiapan jiwa dan raga untuk menyambut bulan penuh berkah dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Ritual ini menjadi momen sakral yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh warga kampung bekelir.

Saat saya masih kecil ayah saya pernah menceritakan asal-usul dari tradisi ini, yang di mana tradisi ini sendiri berakar dari kebiasaan nenek moyang masyarakat Tangerang yang percaya akan makna sakral dari “membersihkan diri secara bersama-sama” di sungai. Sungai Cisadane, yang mengalir di wilayah tersebut dipilih sebagai tempat karena dianggap memiliki air yang suci dan mampu menyucikan segala kotoran, baik yang lahir maupun batin. Masyarakat di sana meyakini bahwa melalui ritual ini mereka dapat menghapus segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan sepanjang tahun, sehingga dapat menyambut Ramadhan dengan jiwa yang bersih.

Ritual Keramas Bareng biasanya dilaksanakan beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. Sebelum pelaksanaan ritual dimulai, area sekitar sungai dibersihkan oleh warga dan panitia guna memastikan kebersihan serta kenyamanan. Warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, berkumpul di tepi Sungai Cisadane dengan membawa perlengkapan mandi seperti shampo, sabun, dan gayung.

Pada hari acara, warga dari berbagai usia berkumpul dengan membawa perlengkapan mandi, dengan semangat yang membara, mereka menceburkan diri ke sungai atau membasuh rambut dan tubuh menggunakan gayung. Suara tawa riang dan percakapan hangat memenuhi udara, menciptakan ikatan kekeluargaan yang erat di antarwarga. Suasana menjadi meriah dan hangat, diiringi tawa dan canda yang semakin mempererat ikatan persaudaraan antarwarga.

Di masa lalu, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Cisadane melaksanakan ritual ini dengan cara yang sangat sederhana, mereka memanfaatkan bahan-bahan alami seperti merang atau gabah yang dibakar untuk keramas, yang diyakini dapat menjaga kesehatan rambut serta membuatnya tetap hitam dan subur. Namun seiring berjalannya waktu, kesulitan dalam memperoleh bahan-bahan tersebut menyebabkan transformasi tradisi ini agar lebih sesuai dengan zaman, menggunakan sampo dan sabun modern. Meskipun demikian, esensi dari ritual penyucian diri tetap dipertahankan.

Suasana selama ritual berlangsung dengan meriah dan hangat, yang diiringi tawa dan canda yang semakin mempererat ikatan persaudaraan antarwarga. Kegiatan ini bukan hanya merupakan kegiatan untuk membersihkan diri saja, tetapi juga untuk menguatkan tali persaudaraan dan solidaritas sosial. Kegiatan ini mengajarkan pentingnya kebersamaan dan semangat gotong royong, di mana seluruh warga berpartisipasi aktif, tanpa memandang usia, status sosial, atau latar belakang.

Tradisi ini memiliki makna yang sangat mendalam, kata “Keramas Bareng” bukan hanya sekadar ritual mandi bersama, melainkan juga menjadi simbol penyucian hati dan pikiran agar kita lebih siap menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan. Dalam pelaksanaan ritual ini, warga saling mengingatkan akan pentingnya introspeksi dan perbaikan diri. Tradisi ini menjadi momen untuk membersihkan diri dari segala hal yang negatif, sehingga dapat memasuki bulan Ramadan dengan jiwa yang tenang dan penuh harapan.

Kepercayaan yang mendasari tradisi ini adalah keyakinan bahwa air sungai Cisadane memiliki nilai sakral sebagai media penyucian. Masyarakat percaya bahwa dengan membersihkan diri di sungai, mereka dapat menghapus segala kotoran dan dosa yang ada, sehingga dapat memasuki bulan Ramadan dalam keadaan yang lebih suci dan siap untuk beribadah. Ritual ini juga berfungsi sebagai momen refleksi diri, sekaligus pengingat untuk memperbaiki perilaku saat menjalankan ibadah puasa.

Selain mengandung nilai spiritual dan budaya, tradisi ini juga menyampaikan pesan penting mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sungai Cisadane, yang menjadi lokasi ritual ini, harus dijaga kebersihannya agar tetap lestari dan dapat berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat. Melalui tradisi ini, masyarakat diingatkan untuk terus mengedepankan budaya kebersihan, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk lingkungan sekitar.

Keramas Bareng menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas sosial yang kuat di masyarakat Kota Tangerang. Ritual ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang usia atau status sosial, dalam menjaga tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang. Kebersamaan ini memperkuat ikatan sosial dan membangun rasa memiliki terhadap budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Tangerang. Dengan demikian, tradisi Keramas Bareng yang berasal dari Sungai Cisadane merupakan hasil perpaduan antara kepercayaan leluhur mengenai pentingnya penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual, serta nilai-nilai kebersamaan dan pelestarian lingkungan. Tradisi ini terus hidup dan berkembang, menjadi bagian dari identitas budaya Kota Tangerang yang unik dan berharga.(*)

Oleh Nayli Itqiyana Haalimah