Ombak di Tepi Barelang

Oleh Ida Jojor Tampubolon

Aku bangun pagi-pagi sekali, ketika langit masih gelap seperti kain songket hitam yang terbentang luas. Angin laut bertiup masuk lewat celah jendela rumah panggung kami yang sudah tua. Bau asin air laut terus menusuk hidung, harum sekali bagiku yang dari kecil sudah terbiasa hidup di tepi pantai. Ibu sudah lebih dulu bangun. Suara perkakas dapur bergerincing dari dapur kecil kami. Pagi ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang membuat hatiku berdebar tak karuan.

“Pian! Pian! Bangunlah cepat, kapal sudah mau bergerak!” teriak Pak Dol dari luar pagar rumah. Suaranya serak-serak basah seperti orang yang baru selesai makan ikan tenggiri bakar. Aku melompat dari kasur tipis, kaki tersandung sandal jepit yang berserakan di lantai papan. “Sebentar lagi, Pak Dol! Aku mau ambil baju dulu ini!” sahutku dengan suara yang masih mengantuk. Pak Dol, ini memang selalu begitu: kalau sudah memanggil, tidak sabar langsung seperti mau marah saja.

Ibu muncul dari dapur sambil memegang segelas teh tarik panas. “Minum dulu lah, Nak. Perut kosong tidak baik untuk berlayar,” kata Ibu dengan nada lembut yang selalu bisa membuatku tenang. Aku menyambar gelas itu, meneguknya cepat sampai sedikit terpercik di baju. “Aduh, pelan-pelan sedikit, Pian! Baju baru itu!” Ibu mengeluh sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku tersenyum malu, lalu mencium tangan Ibu sebelum berlari keluar rumah menuju dermaga kecil di ujung kampung.

Dermaga itu sudah ramai ketika aku tiba. Nelayan tua-muda sibuk mengangkat jaring dan bekal makan siang. Kapal kayu Pak Dol, yang diberi nama Si Bungsu, bergoyang-goyang pelan di atas air hijau tosca yang jernih. “Aih, lambatnya kamu, Pian! Seperti siput berjalan!” ejek Yazid, anak Pak Dol yang sebaya dengan aku, sambil tertawa terbahak-bahak. “Diam kamu, Zid! Aku ini sudah cepat!” balasku sambil melompat masuk ke dalam kapal. Suara tawa mereka berdua bergema di antara bunyi ombak yang memecah di tiang-tiang dermaga.

Kapal pun meluncur perlahan meninggalkan dermaga, membelah air laut yang tenang seperti kaca. Di kejauhan, Jembatan Barelang berdiri gagah; rangka besinya berkilat terkena cahaya matahari pagi yang baru terbit. Aku duduk di buritan kapal, kaki terjuntai ke luar, angin laut menampar-nampar wajah dengan kencang tapi menyegarkan. “Pak Dol, kita ke mana hari ini?” tanyaku penasaran kepada lelaki tua berbadan tegap yang sedang memegang kemudi. “Kita ke perairan Pulau Abang, Pian. Kata orang-orang tua, ikan kerapu banyak di sana sekarang,” jawab Pak Dol sambil menghisap rokok kretek kegemarannya.

Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, tapi aku tidak merasa bosan sama sekali. Yazid bercerita tentang hantu laut yang katanya sering muncul di sekitar batu karang dekat Pulau Abang. “Kamu percaya, Zid? Mana ada hantu siang-siang bolong seperti ini!” kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Eh, jangan bicara begitu, Pian. Laut ini punya penunggu, tahu tidak?” balas Yazid dengan wajah serius yang dibuat-buat. Pak Dol hanya tersenyum kecil mendengar perdebatan kami. Matanya tetap fokus menatap cakrawala laut yang luas membentang.

Ketika tiba di perairan Pulau Abang, air lautnya jauh lebih jernih daripada yang aku bayangkan. Bisa terlihat batu-batu karang berwarna-warni di bawah sana, seperti hamparan permadani di dasar samudra. “Masya Allah, cantik sekali laut ini,” bisikku tanpa sadar, terkagum-kagum dengan keindahan yang terhampar di depan mata. Pak Dol melempar jangkar. Bunyi debum besinya bergema sejenak sebelum sunyi ditelan suara ombak. Kami pun mulai bekerja, jaring dilempar ke air dengan gerakan yang sudah terlatih puluhan tahun.

Tengah hari, matahari sudah naik tegak di atas kepala. Panasnya minta ampun seperti disetrika. Kami berteduh sebentar di bawah atap kajang kapal sambil makan bekal yang dibungkus Ibu, nasi putih, ikan bilis goreng, dan sambal belacan yang pedasnya membuat mata berair. “Pian, kamu lihat tidak semalam berita tentang Batam?” tanya Yazid sambil mulutnya penuh nasi. “Tidak sempat lihat, kenapa?” aku balas sambil meniup-niup sambal yang membakar lidah. “Katanya mau ada pembangunan besar-besaran di kawasan Nongsa, mungkin kampung kita pun kena imbasnya,” kata Yazid dengan mata berbinar-binar penuh harap

Pak Dol yang dari tadi diam mendengarkan tiba-tiba bersuara berat. “Pembangunan itu memang bagus, tapi jangan sampai laut kita yang jadi korban.” Suaranya tegas, penuh dengan pengalaman hidup seorang nelayan yang sudah puluhan tahun bergantung pada laut. “Betul kata Ayah,” Yazid mengangguk pelan. Raut mukanya berubah menjadi lebih serius. Aku menatap hamparan laut biru di depan kami, memikirkan kata-kata Pak Dol yang terasa berat tapi benar. Laut ini bukan sekadar tempat mencari nafkah; laut ini adalah rumah, adalah warisan, adalah nyawa bagi kami orang Batam.

Sore mulai tiba. Langit berubah warna menjadi jingga kemerahan yang indah seperti lukisan. Jaring kami sudah penuh dengan ikan kerapu, kakap, dan beberapa ekor ikan baronang yang gemuk-gemuk. “Alhamdulillah, rezeki hari ini melimpah ruah,” ucap Pak Dol dengan senyum lebar yang membuat kerutan di wajah tuanya semakin dalam. Aku ikut bersyukur dalam hati, sebab hasil tangkapan hari ini pasti cukup untuk membayar keperluan sekolah bulan depan. Kapal pun diputar arah, berlayar pulang membawa serta semua kenangan indah dari hari yang panjang ini.

Setibanya di dermaga, Ibu sudah menunggu di tepi dengan wajah lega ketika melihat aku pulang dengan selamat. “Bagaimana hasilnya, Pian?” tanya Ibu sambil memegang ember untuk menaruh ikan. “Banyak, Mak! Rezeki betul hari ini,” jawabku dengan suara gembira sambil mengangkat beberapa ekor kerapu besar untuk ditunjukkan. Ibu tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca sebentar, mungkin teringat Ayah yang sudah lama pergi, yang dulu juga seorang nelayan seperti Pak Dol. “Baguslah itu, masuk rumah dulu, Ibu sudah masak bubur lambuk kegemaranmu,” kata Ibu lembut sambil mengusap kepalaku.

Malam itu aku duduk di teras rumah panggung kami, memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit Batam yang bersih dari polusi cahaya. Suara ombak jauh di sana masih terdengar sayup-sayup, seolah laut sedang bernyanyi sebagai pengantar tidur. Aku terpikir betapa beruntungnya aku dilahirkan di Tanah Melayu Batam ini, di negeri yang dikelilingi laut dan disentuh angin sepanjang masa. “Pian, jangan tidur terlambat. Besok ada sekolah!” panggil Ibu dari dalam rumah. Suaranya menembus dinding papan yang tipis. Aku tersenyum sendiri, menarik napas panjang, menghirup udara malam yang asin, dan berbisik syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang tak pernah putus ini.(*)