Oleh Jessica Cecilya Sagala
Sebenarnya, sebelumnya saya tidak pernah terpikir untuk mengunjungi Gedung Juang Bekasi. Tempat itu hanya sering saya lihat dari jalan ketika melewati menuju Tambun atau Kota Bekasi. Namun, suatu ketika, mungkin sekitar dua tahun yang lalu, saya memiliki waktu luang pada hari Minggu pagi. Ketika bingung dengan kegiatan, saya akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke sana.
Saat pertama kali mengamati dari luar, bangunannya terlihat sangat megah. Cat berwarna putihnya masih terjaga kebersihannya, tetapi desain bangunannya sangat klasik. Terdapat tiang-tiang besar, mirip seperti bangunan zaman kolonial Belanda. Area depannya juga cukup luas, dilengkapi dengan taman kecil dan sebuah air mancur. Sayangnya, ketika saya berkunjung, air mancurnya tidak berfungsi. Mungkin sedang dalam penghematan air.
Masuk ke dalam, saya merasakan suasana yang nyaman. Ketinggian langit-langit membuatnya tetap sejuk meskipun siang hari. Di area lobi utama, dinding dipenuhi dengan berbagai foto. Terdapat gambar bupati Bekasi dari berbagai zaman dan juga foto-foto mengenai perjuangan. Saya tidak begitu teliti dalam membaca setiap foto, hanya melirik sekilas saja.
Saya ingat waktu itu ada sebuah ruangan yang menampilkan diorama atau miniatur dari kehidupan di masa lalu. Apalagi pada saat itu banyak anak-anak SD yang tampaknya sangat menikmati bagian itu. Saya juga merasa tertarik karena itu membahas hal yang bikin saya kagum, contohnya melihat jenis-jenis manusia purba. Saya juga tertarik pada desain bangunannya itu sendiri. Pintu-pintunya besar dan jendelanya juga tinggi. Sepertinya jika jendela itu dibuka, angin akan masuk dengan sangat deras.
Saya juga melihat tulisan-tulisan penjelasan yang terdapat di setiap ruangan. Dari apa yang saya ketahui, bangunan ini sebelumnya adalah kediaman seorang pemilik tanah. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, tempat ini digunakan sebagai kantor polisi militer. Setelah Indonesia merdeka, tempat ini diambil alih oleh para pejuang kita. Bahkan, tempat ini pernah berfungsi sebagai markas serta lokasi pertempuran.
Dulu pernah ada kisah bahwa bangunan ini digunakan sebagai lokasi penahanan politik pada tahun 1960-an. Ketika memikirkan hal itu, rasanya sedikit mencekam. Sebab suasana di sini sekarang sepi dan damai, tetapi mungkin dulunya banyak orang yang menderita di tempat ini.
Setelah kepergian Belanda, bangunan ini digunakan sebagai kantor pemerintah. Gedung ini juga sempat dijadikan sebagai gedung Dinas Pekerjaan Umum. Saya melihat di papan informasi bahwa pada tahun 80-an, gedung ini difungsikan untuk akademi pengembangan desa. Jadi, bangunan ini memiliki banyak fungsi, bukan hanya untuk kegiatan perang.
Saat saya naik ke lantai dua, saya menemukan sebuah ruangan kecil yang memutar film dokumenter. Saya hanya menonton sejenak. Film tersebut berwarna hitam putih dan menceritakan tentang pertarungan di Bekasi. Namun, gambarnya tidak terlalu terlihat jelas dan suaranya juga sedikit pecah.
Yang menarik, meskipun bangunan ini sudah tua dan kaya akan sejarah, menurut saya pengelolaannya cukup teratur. Lantainya bersih dan mengilap; dindingnya tidak terlihat ada goresan. Tidak ada sampah yang tersebar. Toilet juga dalam keadaan bersih. Sungguh, keadaan seperti ini jarang saya temui di museum atau bangunan bersejarah di kota-kota besar.
Saya juga sempat mengambil gambar di bagian depan. Terdapat papan nama besar yang tertulis “Gedung Juang 45 Bekasi”. Banyak orang lain terlihat mengambil foto di tempat itu, sepertinya untuk kenangan atau sekadar foto bersama keluarga.
Di bagian kanan gedung utama dekat parkiran motor juga terdapat gedung lain yang berisi suvenir-suvenir dari corak batik gitu. Dan itu sangat menyejukkan mata melihatnya karena indah-indah dan cantik sekali. Kalau saya punya waktu lagi, saya akan kembali ke tempat itu dan membeli sedikit suvenir.
Selesai jalan-jalan, saya berhenti sejenak di kursi taman yang ada di depan. Saat itu sudah hampir siang. Sinar matahari mulai terasa menyengat. Saya tidak menyangka ada situs bersejarah seperti ini tepat di kawasan yang saya lewati setiap pekan.
Sekarang, saat saya melintas di depan bangunan itu, saya merasa berbeda. Sebelumnya saya hanya melihatnya sebagai bangunan tua, tetapi sekarang saya menyadari bahwa di situlah para pejuang dahulu menyusun rencana, atau mungkin tempat di mana orang-orang mengalami penderitaan pada masa sulit. Saya merasa lebih menghargai lokasi tersebut, meskipun tidak sampai membuat saya menangis atau terharu secara berlebihan. Hanya saja, saya merasa lebih tahu dan agak bangga bahwa Bekasi memiliki saksi sejarah yang masih bertahan hingga kini.(*)