Oleh Layyina Mumtaz Adyani
Setelah melewati kehidupan perkuliahan selama satu semester, akhirnya hari yang paling dinantikan tiba, yaitu hari terakhir Ujian Akhir Semester. Pada hari itu aku sudah membayangkan sambutan hangat keluarga di rumah yang menanti aku pulang. Tidak sabar rasanya memeluk kembali rumah yang menjadi ruang aman selama 18 tahun lamanya. Satu minggu sebelumnya, aku sudah terlebih dahulu memesan tiket kereta. Aku sangat senang dapat kembali pulang ke rumah setelah menyelesaikan perkuliahan selama satu semester.
Saat sudah di kereta aku segera menghubungi keluarga kalau aku sudah berada di kereta dan siap untuk pulang. “Aku udah di kereta ya, dari Semarang pukul 17.21 sampai Tegal pukul 19.31” tulisku dalam obrolan di grup WhatsApp. “Ya, hati-hati di jalan, kabarin kalau sudah sampai Tegal,” jawab ibuku. Di dalam kereta aku duduk dengan tenang, menikmati setiap pemandangan sore itu. Selama di kereta aku hanya makan, tidur, nonton, dan tidak terasa ternyata sudah sampai tujuan akhir, yaitu Stasiun Tegal.
Sesampainya di rumah, pelukan hangat dari Ibu siap menghilangkan rasa lelah yang aku rasakan. Kami makan malam bersama sembari bercerita tentang aktivitasku di kuliah, bagaimana aku hidup di perantauan, dan banyak hal lainnya. Aku masuk ke kamar yang sudah lama aku tinggalkan, tidak ada yang berubah, rasanya masih sama, aman, nyaman, dan hangat. Malam itu, aku tidur nyenyak di kasur empuk yang penuh cerita.
Paginya kami beraktivitas seperti biasa, kemudian Ibu berkata, “Kita liburan yuk sekeluarga.” Aku dan saudaraku langsung kaget, karena sudah lama kami tidak berlibur bersama. Aku mulai membayangkan beberapa pilihan tempat seperti pantai, mengunjungi wisata di Tengah kota, atau sekadar jalan-jalan santai. Kami berdiskusi sambil melepas tawa, merencanakan liburan sederhana dan menyenangkan yang bisa dinikmati bersama.
Setelah diskusi panjang dan mencari referensi di internet, kami memutuskan untuk berlibur ke Taman Bunga Celosia. Taman Bunga Celosia merupakan objek wisata yang populer di Bandungan, Kabupaten Semarang, yang menonjolkan hamparan bunga warna-warni, spot foto, dan wahana permainan. Sebelumnya aku juga sudah pernah ke Celosia, tapi hanya ada bunga dan spot foto saja, saat itu belum ada wahana permainan. Akhirnya kami sekeluarga setuju untuk berlibur ke Celosia, lalu aku sempat bercanda, “Lah wis balik Tegal malah maring Semarang maning.” (Lah sudah pulang ke Tegal malah ke Semarang lagi).
Kami berlibur bertepatan dengan libur Tahun Baru sehingga banyak orang yang berlibur juga ke Celosia. Kami berangkat dari rumah pagi hari, agar sampai lokasi tidak terlalu siang. Berdasarkan informasi dari internet, Celosia termasuk wisata yang ramai dikunjungi saat libur tahun baru. Dan benar saja, jalanan menuju Celosia dipenuhi kendaraan. Mobil-mobil mengantri Panjang untuk masuk ke area wisata. Bahkan ada ojek yang bolak-balik mengantar pengunjung dari mobil untuk masuk ke Celosia tanpa mengantri panjang.
Siang itu Semarang cuacanya panas terik, di dalam mobil aku banyak mengeluh karena kepanasan. Saat sudah di pintu masuk parkiran, kami sekeluarga turun dari mobil dan menuju loket untuk masuk. Di bagian loket juga mengantre panjang, semua orang berdesak-desakan untuk masuk, tetapi tetap kondusif. Saat sudah mendapatkan tiket, kami langsung masuk dan menikmati liburan.
Saat sedang menikmati taman bunga, aku melihat ada permainan undar. Tanpa berpikir lama aku bilang ke Ibu, “Aku mau naik itu, boleh ya?” pintaku. Ibu pun menjawab, “Ya udah ayo naik berempat.”
Bapakku tidak ikut, karena merasa pusing jika berada di ketinggian. Setelah membeli tiket kami mengantre untuk naik wahana, tapi di tengah antrean ternyata wahana mengalami gangguan, jadi petugas menutup wahana dan menyarankan untuk bermain wahana lain dulu.
Akhirnya kami refund tiket yang sudah dibeli, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di masjid. Setelah melaksanakan salat, Ibu menyarankan untuk makan dulu sebelum naik wahana yang lain. Kami makan di kantin, sembari meluruskan kaki yang daritadi berjalan keliling Celosia. Setelah merasa kenyang, kami berniat mencoba wahana lain. Tapi ternyata alam sepertinya tidak mendukung, hujan turun deras, keinginan untuk naik wahana harus aku tunda.
Kami menunggu cukup lama, namun hujan tak kunjung reda. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari area wisata, tapi tidak membawa payung atau jas hujan. Beruntung ada penjual payung dan jas hujan di sekitar lokasi, kami membeli agar bisa keluar. Saat menuju pintu keluar aku merasa mendapat tantangan yang menyenangkan, kami harus pelan-pelan tapi cepat untuk menuju pintu keluar. Tak lupa aku mengabadikan momen itu di ponsel yang sudah basah terkena air.
Saat di pintu keluar, ternyata masih ramai pengunjung yang ikut meneduh. Kami langsung menghubungi sopir yang ternyata berada di masjid luar Celosia. Saat menuju masjid, hujan mulai reda, hanya sisa gerimis. Tak lama kemudian, mobil datang menjemput kami. Kami langsung masuk mobil karena kondisi yang sudah tidak kondusif. Di mobil, kami melontarkan candaan mengingat kejadian gagal naik wahana dan tiba-tiba hujan. Walaupun tidak jadi naik wahana dan terjebak hujan, aku tetap menikmati liburan ini.
Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Jalanan yang basah dan udara malam hari yang sejuk menciptakan suasana yang menenangkan. Aku menyandarkan kepala ke jendela mobil, melihat kendaraan yang melewati jalanan tol. Di dalam mobil, suasana menjadi hening karena kelelahan. Semuanya memilih untuk tidur sepanjang perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah, hanya kasur yang aku butuhkan sekarang, tubuhku terasa sangat lelah. Malam itu, aku beristirahat di kamar dengan perasaan hangat, membawa pulang kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Liburan yang sederhana ini ternyata menyimpan banyak cerita tak terduga. Aku menyadari bahwa kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang paling berharga.
Pada akhirnya, perjalanan dan liburan singkat ini bukan hanya tentang tempatnya, tetapi tentang Kembali menemukan kehangatan yang sudah lama dirindukan. Walaupun tidak semua berjalan sesuai harapan, setiap momen tetap memiliki cerita dan makna tersendiri. Seberat apapun perjalananmu, kalau perginya bersama keluarga akan tetap terasa berharga. Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa kebahagiaan sering hadir dari hal-hal sederhana, selama kita bisa menikmatinya dengan orang-orang tersayang.(*)