Oleh Raden Ajeng Masayu Tejowati
Kala itu aku berkesempatan mengunjungi Yogyakarta, sebuah kota yang sejak lama hanya aku kenal dari cerita dan bayangan. Banyak orang mengatakan bahwa Jogja bukan sekadar tempat, melainkan pengalaman yang akan tinggal lebih lama dari sekadar kunjungan. Ketika akhirnya benar-benar tiba, aku mulai memahami maksud dari semua itu, meskipun belum sepenuhnya.
Kesan pertama yang aku rasakan adalah kehangatan yang tidak berlebihan, seolah kota ini menyambut tanpa memaksa. Udara terasa ringan dan suasana di sekitar berjalan dengan ritme yang tenang. Tidak ada kesan tergesa-gesa, meskipun aktivitas tetap berlangsung seperti biasa.
Setelah beristirahat sejenak, aku memutuskan untuk keluar saat malam mulai tiba. Langit yang sebelumnya terang perlahan berubah menjadi gelap, digantikan oleh lampu-lampu kota yang mulai menyala. Suasana terasa lebih tenang, namun tetap hidup dengan aktivitas yang tidak berhenti.
Tujuan yang akhirnya kutuju adalah Jalan Malioboro, yang pada malam hari tampak semakin ramai dan menarik. Cahaya lampu menerangi sepanjang jalan, menciptakan suasana yang hangat dan khas. Banyak orang berjalan santai, menikmati suasana tanpa terburu-buru.
Aku berjalan menyusuri kawasan tersebut sambil memperhatikan berbagai aktivitas yang ada. Di sepanjang jalan, banyak pedagang menjajakan oleh-oleh khas seperti pakaian, gantungan kunci, tas, hingga kerajinan tangan. Setiap lapak terlihat penuh warna dan menarik perhatian.
Selain itu, aku juga melihat beberapa penjual makanan yang menawarkan berbagai jajanan khas. Aroma makanan yang tercium membuat suasana semakin hidup. Beberapa pengunjung tampak berhenti untuk membeli dan menikmati makanan di tempat.
Ketika berhenti di salah satu lapak, aku mencoba berinteraksi dengan pedagang menggunakan dialek setempat, “Pinten niki?” (Ini berapa?) Ia menjawab dengan ramah, disertai senyum yang terasa tulus. Bahkan, sempat terjadi percakapan ringan yang membuat suasana terasa lebih akrab.
Aku juga melihat beberapa orang sedang menawar harga barang dengan cara yang santai. Proses tawar-menawar tersebut menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan karena dilakukan dengan suasana yang tetap ramah dan tidak tegang.
Di beberapa sudut, terlihat pengunjung yang duduk santai di bangku pinggir jalan. Ada yang berbincang, ada pula yang hanya diam menikmati suasana malam. Aku sempat berhenti sejenak, memperhatikan keramaian yang terasa hidup namun tetap nyaman.
Aku melanjutkan langkah sambil sesekali berhenti melihat-lihat barang yang menarik perhatian. Waktu terasa berjalan begitu cepat tanpa disadari. Suasana malam di Malioboro memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan tempat lain yang pernah aku kunjungi.
Menjelang akhir perjalanan, sebelum meninggalkan kota ini, aku menyempatkan diri membeli oleh-oleh khas, yaitu Bakpia Pathok. Aku memilih beberapa kotak dengan berbagai varian rasa untuk dibawa pulang sebagai kenangan dari perjalanan ini.
Pada akhirnya, perjalanan ini meninggalkan kesan yang tidak mudah dijelaskan. Yogyakarta bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang suasana yang perlahan melekat dalam ingatan. Ketika harus pergi, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga keinginan untuk kembali suatu hari nanti.