Menapaki Lereng Gunung Merbabu: Perjalanan Menuju Air Terjun Semuncar

Oleh Yusriyya Nabila Sischa 

Aku adalah anak pertama, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, dan dibesarkan di kota tersebut. Sejak kecil, aku sudah sangat akrab dengan lingkungan pegunungan yang sejuk. Tempat tinggalku berada di lereng Gunung Merbabu, sehingga udara dingin dan suasana alami menjadi bagian dari kehidupan sehari-hariku.

Lingkungan tempat tinggalku dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah dan masih asri. Udara yang segar serta suasana yang tenang membuatku merasa nyaman tinggal di sana. Banyak tempat wisata alam yang bisa dikunjungi, terutama yang berkaitan dengan pegunungan dan air terjun.

Pada saat liburan sekolah setelah kelulusan SMA, ada sebuah tempat wisata yang sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat di daerahku. Tempat tersebut adalah sebuah air terjun yang berada di tengah hutan lereng Gunung Merbabu, yaitu Air Terjun Semuncar.

Karena penasaran, aku memutuskan untuk mengunjungi air terjun tersebut bersama dua adik laki-lakiku. Kami berangkat sekitar pukul enam pagi agar perjalanan terasa lebih nyaman. Lokasi air terjun ini tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya sekitar sepuluh menit perjalanan, lalu kami membeli karcis di loket sebagai akses masuk.

Awalnya, aku membayangkan perjalanan menuju air terjun akan mudah. Namun, kenyataannya tidak semulus yang aku pikirkan. Dengan membawa perbekalan seadanya, kami harus melewati sungai yang mengering karena musim kemarau, dengan bebatuan terjal yang cukup menyulitkan perjalanan.

Di awal perjalanan, kami melewati perkebunan warga dan beberapa area pemakaman yang masih digunakan untuk bertapa. Beberapa kali kami menemukan sesajen yang diletakkan di beberapa titik. Awalnya aku tidak terlalu memahami alasan di balik hal tersebut, tetapi saat itu aku berpikir mungkin itu berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Kami memilih untuk mengabaikan hal-hal tersebut dan tetap melanjutkan perjalanan. Udara mulai terasa semakin dingin, menandakan bahwa kami sedang menuju ke tempat yang lebih tinggi. Rasa lelah mulai muncul, tetapi semangat untuk sampai ke tujuan membuat kami tetap melangkah.

Akhirnya, kami sampai di air terjun pertama sebelum menuju air terjun utama. Di tempat ini, kami beristirahat sejenak sambil menikmati udara dingin dan suara gemuruh air terjun. Kami juga sempat berfoto untuk mengabadikan momen sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun kedua. Perjalanan ini cukup menantang karena kami harus melewati sungai aktif dengan batuan licin dan berlumut. Setelah sekitar 30 menit berjalan, kami sampai di air terjun kedua, tetapi hanya berhenti sebentar untuk berfoto sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan utama.

Perjalanan menuju air terjun utama terasa lebih jauh, tetapi jalurnya tidak seekstrem sebelumnya. Kami melewati hutan yang rimbun dan sempat bertemu dengan monyet hutan yang berukuran cukup besar. Aku merasa kaget sekaligus takut karena monyet tersebut terlihat cukup agresif, kemungkinan terganggu oleh keberadaan kami.

Setelah berjalan sekitar 30 menit lagi, kami mulai mendengar suara gemuruh air yang semakin jelas. Itu menjadi tanda bahwa kami sudah dekat dengan tujuan. Karena sudah tidak sabar ingin segera sampai, aku pun tanpa sadar mempercepat langkahku.

Namun, karena jalur yang kami lewati masih berupa bebatuan dan tanah yang cukup licin, aku justru kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Rasanya cukup sakit, tapi karena sudah terlalu dekat dengan tujuan, aku memilih untuk tetap bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Meskipun sedikit tertatih, aku tetap memaksakan diri untuk berjalan. Rasa penasaran dan semangat untuk melihat keindahan air terjun membuatku mengabaikan rasa sakit tersebut. Sekitar lima menit kemudian, tepat pukul 11.33, kami akhirnya sampai di Air Terjun Semuncar yang berada di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.

Air terjun ini memiliki air yang sangat jernih, dengan dinding batu berlumut yang menghadap ke arah timur, Percikan air yang terkena cahaya matahari menciptakan efek pelangi yang sangat indah. Menariknya, mata air Semuncar ini masih digunakan sebagai sumber air murni oleh warga sekitar, sehingga kebersihannya harus benar-benar dijaga. Selain itu, terdapat berbagai mitos yang berkembang di masyarakat tentang tempat ini, sehingga kawasan air terjun juga sering dijadikan tempat pertapaan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa aku menemukan banyak sesajen selama perjalanan.  Perjalanan yang melelahkan, rasa takut saat melewati jalur yang licin, hingga sempat terjatuh di tengah perjalanan, semuanya terasa terbayar ketika akhirnya kami sampai di Air Terjun Semuncar. Dari pengalaman tersebut, aku belajar bahwa keindahan yang luar biasa sering kali membutuhkan usaha, kesabaran, dan perjuangan lebih untuk dapat mencapainya.(*)