Cerita Kecil dari Pekalongan

Oleh Anisa Sofia Hanun

Aku tidak pernah benar-benar menyadari kapan terakhir kali aku melihat Pekalongan dengan pelan. Bukan sekadar lewat dari balik kaca mobil, bukan juga sekadar mampir sebentar untuk urusan keluarga. Tapi benar-benar melihatnya—seperti seseorang yang sedang mencoba memahami asalnya sendiri.

Perjalanan itu terjadi tanpa rencana besar. Hanya sebuah keputusan sederhana di akhir pekan yang terasa terlalu panjang untuk dihabiskan di kamar. Aku berangkat pagi, saat langit masih belum sepenuhnya terang dan udara masih menyisakan dingin yang tipis. Jalanan belum ramai, tapi ada satu hal yang langsung terasa akrab: bau laut yang samar, bercampur dengan udara kota yang lembap.

Pekalongan selalu seperti itu. Tidak pernah benar-benar kering dari rasa asin.

Aku turun di sekitar kawasan batik. Tempat yang sering disebut-sebut orang, tapi jarang benar-benar kuperhatikan. Kampung Batik Kauman terlihat seperti kampung biasa dari luar—gang sempit, rumah-rumah berdempetan, suara motor yang sesekali lewat. Tapi semakin aku masuk ke dalam, suasananya mulai berubah.

Ada bau khas yang tidak bisa salah. Campuran malam (lilin batik), kain, dan sesuatu yang hangat—seperti proses yang sedang berlangsung terus-menerus. Dari salah satu rumah yang pintunya terbuka, aku melihat seorang ibu duduk di kursi kecil, tangannya bergerak pelan di atas kain putih yang terbentang. Canting di tangannya seperti tidak pernah ragu, mengalir begitu saja, membentuk pola yang bahkan dari jauh pun sudah terlihat rumit.

Aku berhenti cukup lama di sana. Tidak masuk, tidak juga berbicara. Hanya melihat.

Aneh, tapi ada perasaan seperti sedang melihat sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan. Setiap garis yang dibuat itu menyimpan waktu. Bukan hanya waktu hari itu, tapi juga waktu yang sudah berjalan lama sebelum aku ada di sana.

Aku melanjutkan jalan, menyusuri gang yang semakin sempit. Di beberapa dinding, ada mural batik dengan warna-warna cerah—merah, biru, kuning—yang kontras dengan tembok tua di sekitarnya. Anak-anak kecil berlari melewati, tertawa tanpa alasan yang jelas, sementara dari kejauhan terdengar suara orang memanggil seseorang dengan logat yang khas.

Logat itu. Itu juga bagian dari Pekalongan.

Setelah cukup lama di sana, aku keluar dari kawasan itu dan memutuskan pergi ke laut. Rasanya belum lengkap kalau sudah sampai Pekalongan tapi tidak melihat pantainya. Perjalanan ke sana tidak terlalu jauh. Jalanan mulai lebih terbuka, angin terasa lebih kencang, dan bau laut yang tadi samar sekarang menjadi lebih jelas.

Aku sampai di Pantai Pasir Kencana saat matahari sudah cukup tinggi. Tempat itu tidak terlalu ramai hari itu. Hanya beberapa orang duduk di pinggir; ada yang bermain air, ada juga yang sekadar berjalan tanpa tujuan.

Aku memilih duduk agak jauh dari keramaian.

Laut di sana tidak sepenuhnya jernih. Warnanya cenderung kecokelatan, bercampur dengan warna langit yang sedikit pucat. Tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata. Ombaknya tidak terlalu besar, bergerak pelan, datang dan pergi tanpa tergesa.

Angin bertiup cukup kencang, membawa suara yang anehnya menenangkan. Bukan suara yang benar-benar sunyi, tapi juga bukan keramaian. Seperti ada ritme yang terus berulang—ombak, angin, langkah kaki orang-orang di pasir.

Aku memperhatikan garis horizon cukup lama. Ada sesuatu tentang laut yang selalu membuat waktu terasa berbeda. Tidak melambat, tapi juga tidak terasa berjalan seperti biasanya. Aku tidak memikirkan banyak hal saat itu. Tidak tentang kuliah, tidak tentang tugas, tidak juga tentang hal-hal yang biasanya memenuhi kepala.

Hanya ada aku dan tempat itu.

Dan di momen itu, baru terasa sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupikirkan: Pekalongan bukan hanya tempat yang pernah kukunjungi. Tapi tempat yang diam-diam membentuk cara aku melihat banyak hal.

Kesederhanaannya. Ritmenya yang tidak terburu-buru. Hal-hal kecil yang sering tidak dianggap penting—seperti bau malam di kampung batik atau suara ombak yang tidak pernah benar-benar diam.

Aku berdiri, berjalan sedikit mendekat ke air. Ombak menyentuh ujung sepatuku, lalu kembali ke laut. Tidak ada yang dramatis. Tidak ada peristiwa besar.

Tapi justru itu yang membuatnya terasa lengkap.

Perjalanan itu tidak mengubah hidupku secara tiba-tiba. Tidak juga memberiku jawaban atas hal-hal besar. Tapi ada satu hal yang jelas: aku pulang dengan perasaan yang berbeda.

Seperti akhirnya mengenali sesuatu yang selama ini sudah ada, tapi baru sekarang benar-benar kulihat.

Dan mungkin memang itu yang disebut pulang.(*)