Ngabuburit di Api Abadi Mrapen

Oleh Ardita Kuncoro Aji

Pada sore hari di bulan Ramadan, saya dan teman-teman ngabuburit di salah satu objek wisata Api Abadi Mrapen yang terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, terdapat tiket masuk Rp. 3000,- per orang, lalu ada biaya parkir Rp. 2000,- per motor dan Rp. 5000,- per mobil. 

Fenomena Api Abadi Mrapen ini terjadi karena berasal dari rembesan gas alam (terutama metana) yang keluar dari celah-celah tanah di bawah permukaan, lalu tersulut sehingga membentuk nyala api yang terus menyala. Meskipun turun hujan, api ini biasanya tidak padam karena sumber gasnya terus-menerus muncul, sehingga disebut “api abadi”.

Sejarah awal terjadinya Api Abadi Mrapen ini dikisahkan berawal dari runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1524. Hal tersebut membuat Kerajaan Demak menjadi penguasa tunggal kerajaan Islam di Jawa. Raden Patah selaku Raja Kerajaan Demak saat itu ingin menjadikan Kota Demak sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan penyebaran agama Islam ke seluruh Jawa. Maka dari itu, sebagai lambang negara Islam, dibangunlah Masjid Agung di Demak. 

Pembangunan Masjid Agung Demak menggunakan serambi yang sebelumnya merupakan pendapa Majapahit. Pendapa Majapahit diboyong ke Demak oleh pasukan yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga. 

Dalam perjalanan membawa pendapa Majapahit, pasukan merasa kelelahan dan beristirahat ketika sampai di Mrapen. Namun, karena tidak ada air minum di lokasi istirahat tersebut, Sunan Kalijaga kemudian bersemedi dan memohon kepada Tuhan agar diberi air untuk pasukannya. 

Setelah bersemedi, Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya ke tanah dan kemudian mencabutnya. Namun, ketika dicabut, bukan air yang muncul, tetapi justru muncul api yang tidak dapat padam. Tempat munculnya api itulah yang hingga kini menjadi lokasi Api Abadi Mrapen.

Api Abadi Mrapen ini memiliki fungsi paling terkenal sebagai sumber api yang pernah digunakan dalam beberapa acara nasional dan internasional, termasuk obor pertandingan olahraga bergengsi. Contohnya Pesta Olahraga Internasional Ganefo 1963, Pekan Olahraga Nasional, Sea Games 2011, Asean Games dan Asean Para Games 2018, dan Perayaan Hari Tri Waisak.

Beberapa tahun lalu, Api Abadi Mrapen ini sempat padam karena faktor teknis dan perubahan tekanan gas. Setelah dilakukan penelitian dan perbaikan oleh pemerintah, api tersebut berhasil dinyalakan kembali sebagai upaya pelestarian cagar budaya dan alam Grobogan.

Bagi masyarakat Grobogan, Api Abadi Mrapen juga menjadi simbol spiritual dan kebanggaan daerah, sehingga kerap dikaitkan dengan kisah-kisah legenda dan para wali, seperti Sunan Kalijaga. Di kalangan masyarakat adat dan keagamaan tertentu, api ini dipercaya sebagai lambang keberlangsungan dan keabadian, sehingga sering dikaitkan dengan upacara atau doa syukuran.  

Pemerintah Kabupaten Grobogan menjadikan Api Abadi Mrapen sebagai salah satu wisata unggulan di daerahnya karena fenomena alamnya yang unik dan mudah dijangkau. Dengan tiket masuk yang relatif murah (sekitar Rp2.500 per orang) dan jam buka sekitar pukul 08.00–16.00, tempat ini menjadi destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin melihat api abadi secara langsung.

Api Abadi Mrapen bukan hanya sekadar wisata alam, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang geologi, kelestarian lingkungan, dan nilai sejarah lokal Grobogan. Pemerintah dan masyarakat berupaya menjaga keberadaannya agar tidak dimanfaatkan secara eksploitatif, namun tetap bisa dinikmati sebagai warisan alam dan kebudayaan.(*)