Catatan Perjalanan ke Monas

Oleh Aishy Tri Wardhani

Liburan tidak selalu harus tentang pantai yang jauh atau pegunungan yang sunyi. Terkadang, makna sebuah perjalanan justru ditemukan di titik nol sebuah bangsa. Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk menjadi “turis” di kota sendiri, mengunjungi ikon yang selama ini hanya saya lihat dari kaca jendela TransJakarta: Monumen Nasional, atau yang lebih akrab kita sebut Monas.

Pagi itu, Jakarta sedang bersahabat. Langit biru bersih tanpa selimut polusi yang tebal, sebuah kelangkaan yang patut disyukuri. Saya berangkat menggunakan transportasi publik karena menurut saya, pengalaman ke Monas belum lengkap tanpa merasakan ritme komuter Jakarta. Turun di Stasiun Gondangdia, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki singkat sambil menikmati deretan bangunan kolonial di sekitar area Medan Merdeka.

Sesampainya di gerbang masuk, saya disambut oleh hamparan taman hijau yang luas. Monas bukan sekadar tugu; ia adalah paru-paru kota. Di sini, saya melihat keberagaman Indonesia dalam skala kecil: keluarga yang menggelar tikar, anak-anak yang mengejar layang-layang, hingga pasangan lansia yang berjalan santai menghirup udara pagi.

Berdiri tepat di bawah kaki tugu, saya merasa begitu kerdil. Sosok Monas yang megah ini dirancang oleh arsitek Soedarsono dan Frederich Silaban. Secara filosofis, bentuk Monas melambangkan Lingga dan Yoni. Lingga adalah tugu yang menjulang tinggi, melambangkan elemen laki-laki, kemandirian, dan energi positif. Adapun yoni adalah pelataran cawan di bawahnya yang melambangkan elemen perempuan, wadah, dan kesuburan.

Kombinasi ini bukan sekadar estetika, melainkan simbol harmonisasi kehidupan. Dan tentu saja, yang paling mencuri perhatian adalah Lidah Api Kemerdekaan di puncaknya. Emas seberat puluhan kilogram itu berkilau tertimpa matahari, seolah mengingatkan bahwa semangat bangsa ini tidak boleh padam.

Langkah saya membawa saya turun ke bagian dasar Monas, tepatnya ke Museum Sejarah Nasional. Suasana di sini berubah seketika, sejuk, tenang, dan sedikit remang- remang untuk menjaga keawetan diorama.

Di dalam ruangan seluas 80 meter ini, terdapat 51 diorama yang menyajikan narasi panjang sejarah Nusantara. Saya menghabiskan waktu cukup lama di setiap jendela kaca: Zaman prasejarah: Melihat bagaimana manusia purba bertahan hidup di tanah ini; Era Kerajaan: Kejayaan Majapahit dan Sriwijaya yang mengingatkan bahwa kita pernah menjadi penguasa maritim yang disegani; Masa Penjajahan: Rasa sesak muncul saat melihat visualisasi perlawanan rakyat di berbagai daerah yang sering kali berakhir tragis namun heroik; Detik-Detik Proklamasi: Ini adalah puncaknya. Melihat replika naskah proklamasi dan suasana 17 Agustus 1945 memberikan getaran patriotisme yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Mengamati diorama ini membuat saya sadar bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari investasi air mata dan darah para pendahulu kita.

Setelah puas berkeliling museum, saya mengantre untuk naik ke pelataran puncak. Antrean memang cukup panjang, namun percayalah, penantian itu sepadan. Lift meluncur cepat membawa saya ke ketinggian 115 meter dari permukaan tanah.

Begitu pintu lift terbuka, angin kencang langsung menyambut. Dari pelataran puncak, seluruh Jakarta terhampar di depan mata:

Di sisi utara, saya bisa melihat samar-samar garis pantai Jakarta Utara dan gedung-gedung tinggi di area pusat.

Di sisi timur, berdiri megah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdampingan, simbol toleransi yang tak ternilai.

Di sisi selatan dan barat, hutan beton Jakarta tampak seperti labirin raksasa yang tak berujung.

Melihat Jakarta dari sini membuat saya merasa lebih sayang pada kota ini. Di balik kemacetan dan hiruk-pikuknya, Jakarta memiliki struktur yang indah jika dilihat dari sudut pandang yang tepat.

Setelah turun dari puncak, perut saya mulai protes. Saya menuju area Lenggang Jakarta, pusat kuliner yang tertata rapi di kawasan Monas. Di sini, saya memesan sepiring Kerak Telor, makanan khas Betawi yang wajib dicoba. Menikmati gurihnya telur bebek dan serundeng sambil melihat orang-orang dari berbagai suku bangsa berinteraksi adalah penutup yang sempurna.

Saya sempat berbincang dengan seorang petugas kebersihan yang sudah bekerja di Monas selama sepuluh tahun. Ia bercerita bagaimana Monas telah banyak berubah, menjadi lebih bersih dan tertib. “Monas itu rumah kita, Mas. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ucapnya sederhana namun membekas.

Perjalanan ke Monas kali ini mengubah perspektif saya. Jika dulu saya menganggapnya hanya sebagai tempat wisata “biasa”, sekarang saya melihatnya sebagai Monumen Pengingat. Ia mengingatkan kita tentang dari mana kita berasal, apa yang telah kita lalui, dan ke mana kita harus melangkah sebagai sebuah bangsa.

Liburan ke Monas adalah perjalanan pulang. Pulang ke jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Bagi siapa pun yang merasa lelah dengan rutinitas, cobalah datang ke sini di sore hari, duduk di bawah pepohonan, dan lihatlah bendera Merah Putih berkibar di dekat tugu. Ada ketenangan dan kebanggaan yang akan Anda bawa pulang.(*)