Oleh Rizky Devita Mirabella Sari
Gombong bagi kebanyakan orang dikenal seperti kota Purwokerto yang nyatanya hanya sebuah kota kecamatan. Kota Gombong merupakan daerah administratif dari Kabupaten Kebumen yang secara geografis terletak di bagian barat. Cerita mengenai latar belakang sejarah sangat erat dengan Kota Gombong ini, dari peninggalan sejarahnya dan tokoh-tokoh sejarah masyhurnya.
Siapa yang tak kenal dengan Martha Tilaar? Sebagian besar orang pasti sering mendengar nama Dia di akhir sebuah tayangan iklan brand kosmetik. Namun, siapa sangka, sejarah hidup dia sangat erat dengan Kota Gombong. Sebenarnya, sangat tidak disangka bahwa seorang wanita yang menjadi otak dari produk kecantikan Sari Ayu ini memiliki rentetan memori masa kecil di Gombong. Mengingat lebih jauh lagi, Martha Tilaar merupakan keturunan Tionghoa. Pada zamannya, pendahulu keluarga Martha Tilaar dikenal sebagai saudagar Tionghoa yang kaya raya. Tidak hanya itu, kakek Liem Siauw Lam yang biasa disapa Baba Solam merupakan tokoh yang berpengaruh di Gombong.
Mengingat suatu waktu, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Yang awalnya hanya sekadar mengikuti acara peduli konservasi yang digelar oleh Roemah Martha Tilaar, sempat muncul tanya seperti; “Siapa sebenarnya keluarga Liem Siauw Lam ini? Mengapa rumahnya bergaya belanda?” mungkin jika dipikirkan hanya seperti keingin tahuan seorang anak sd, namun sejak dari kecil hingga saya mulai beranjak dewasa hal ini tentu terus mengganggu pikiran saya karena background keluarga Liem Siauw Lam kerap muncul, dan menyatu dengan alur sejarah yang ada di Gombong. Berangkat dari itu, saya menjadi semakin sering berkunjung ke Roemah Martha Tilaar. Tentu, hal ini bukan hanya karena lokasinya yang terhitung dekat dengan rumah saya. Tetapi karena banyak sekali kisah sejarah yang menyapa hangat, juga orang-orang di dalamnya yang paham betul terkait Gombong di masa lalu.
Pada satu kesempatan saat saya libur semester lalu dan pulang ke Gombong, saya mengunjungi kembali Roemah Martha Tilaar. Tak banyak yang berubah dari pandangan saya: hanya sebuah bangunan yang bergaya Barat dengan cat tembok putih berpadu dengan kebudayaan Tionghoa dan Jawa, berdiri anggun dengan cerita yang telah lalu dimakan zaman. Berbekal keingintahuan yang sudah saya pupuk selama membaca karya tulis tentang Gombong, dan cerita pendek mengenai Gombong yang bergandeng dengan kolonialismenya dari Facebook. Akhirnya, pada hari itu, saya berkesempatan untuk duduk bersama dengan Pak Tonny yang merupakan pengelola Roemah Martha Tilaar. Banyak sekali pokok pembicaraan yang kami bincangkan.
Mulai dari latar belakang keluarga Liem Siauw Lam, serta andil keterlibatannya dalam sejarah Gombong, hingga sampai pada bagaimana akhirnya rumah pribadinya berubah menjadi sebuah museum yang menyimpan kisah melankolis-romantisme perjalanan keluarganya.
Kembali ke masa kolonialisme, di mana Liem Siauw Lam, atau yang lebih dikenal di daerah pecinan Gombong dengan sebutan hangat “Baba Solam”, merupakan pengusaha Tionghoa kaya raya yang menjalankan bisnis multisektor. Salah satu bisnisnya di era itu adalah peternakan sapi. Dari hasil peternakan inilah Liem Siauw Lam menjadi pengusaha yang memasok susu dan daging untuk keperluan militer Belanda (KNIL) yang berada di Barak Benteng Van Der Wijck. Selain peternakan, keluarga Liem Siauw Lam juga dikenal bergerak sebagai pedagang kopra (kelapa kering) yang mengumpulkan hasil dari petani setempat. Tak hanya itu, dia juga menggeluti bisnis sarang burung walet yang terkenal pada masanya.
Bergeser sedikit dari profil pengusahanya, rumah pribadinya sempat direlakan sebagai Pusat Palang Merah untuk membantu pada masa perjuangan. Sebenarnya, jika dicari tahu lebih jauh lagi, keterlibatan Liem Siauw Lam akan semakin banyak. Bahkan di daerah sekitar rumah pribadinya, terdapat bekas kantor Tjung Hwa Tjung Hwi yang diperkirakan dibangun tahun 1930-an. Tjung Hwa Tjung Hwi sendiri merupakan sebuah organisasi yang pembentukannya diprakarsai oleh Yap Tjwan Bing, seorang anggota BPUPKI sekaligus seorang keturunan Tionghoa yang pernah masuk dalam jajaran anggota DPR RIS (Republik Indonesia Serikat). Sebagai pengusaha, Liem Siauw Lam tentu memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat, pedagang, maupun pihak Belanda. Kisah sukses dia tentunya tidak luput dari dukungan sang istri yang merupakan seorang pewirausaha, yang juga menyediakan peralatan membatik sehingga sangat membantu para perempuan pembatik di daerah Gombong pada masa itu. Secara singkat, di rumah pribadinya ini, Liem Siauw Lam hidup berdampingan dengan istri keduanya yang merupakan seorang maestro jamu, namun amat disayangkan tidak ada cerita terkait istri pertama Liem Siauw Lam di naskah yang tertempel di dinding Roemah Martha Tilaar.
Istri kedua Liem Siauw Lam bernama Bhe Siang Nio (Pranoto Liem) atau yang disapa hangat Mak Oco. Hari inilah yang nantinya berperan besar dalam karier produk kecantikan yang akan dirintis oleh Martha Tilaar. Dari cerita yang saya baca dari blog jejakbocahhilang dengan tulisan berjudul “Roemah Martha Tilaar, Heritage Gombong Yang Menginspirasi”. Dijelaskan bahwa Martha kecil tumbuh sebagai anak yang memiliki daya tangkap rendah. Hal ini menyebabkan prestasinya di sekolah boleh dibilang bukan hal yang menggembirakan. Lalu oleh neneknya, Mak Oco. Martha dibimbing hingga kemudian diwarisi ilmu jamu yang kelak menjadi fondasi berdirinya industri kosmetik Sari Ayu. Namun, Martha tidak lama tinggal di Gombong karena setelah menikah dia mengikuti suaminya, Alex Tilaar, dan menetap di Jakarta.
Mengenal beberapa hal yang terlewatkan, mungkin dari banyak nama yang muncul akan terlintas pertanyaan “Siapa Martha Tilaar?” Martha lahir dengan nama Martha Handana atau Tjhie Pwee Giok atau kini lebih dikenal sebagai Martha Tilaar, sang maestro kecantikan dan pengobatan tradisional. Dia terlahir sebagai anak tertua dari tiga bersaudara pasangan Yakob Handana ( Tjhie King Han ) dan Liem Herna ( Liem Bok Lan). Martha Tilaar adalah cucu langsung Liem Siauw Lam dengan istri pertamanya (ibu dari Liem Herna). Walaupun begitu, hal ini tetap tidak dapat dipungkiri bahwa Martha sangat dekat dengan Mak Oco, neneknya, istri kedua dari Liem Siauw Lam. Dari yang saya ketahui mengenai hubungan Martha dengan Mak Oco cukup hangat, bahkan mulanya Martha sangat tertarik dengan “Obat” perawatan rambut yang dipakai neneknya. Tentu dengan ketertarikan Martha yang amat besar, Mak Oco dengan senang hati membimbing cucu kesayangannya untuk belajar ilmu jamu dan mengenal obat-obatan tradisional. Bahkan, Mak Oco mewariskan semua ilmunya kepada Martha. Hal ini menjadi fondasi berjalannya produk kecantikan Sari Ayu.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, Martha sendiri tidak lama tinggal di Gombong; jika dihitung, mungkin hanya sejak lahir hingga berusia 10 tahun. Kemudian dia berpindah ke Jakarta dan menikah dengan Alex Tilaar. Adapun kisah ini terpajang rapi di dinding Roemah Martha Tilaar yang saya baca. Kisah Martha dan suaminya cukup menyentuh bagi saya. Bagaimana tidak? Dalam perjalanan mereka, tentu banyak sekali hal kecil maupun besar yang hampir membuat mereka menyerah.
Salah satu yang saya garisbawahi adalah ketika Martha dan suaminya kesulitan untuk menimang seorang buah hati. Tulisan di naskah seakan membawa saya untuk ikut merasakan kepiluan. Di situ tertulis Martha dan suaminya sudah menikah selama 16 tahun, belum juga kunjung dikaruniai anak. Bahkan, dokter memvonisnya mandul. Setelah adanya kabar ini, tentunya sang nenek Mak Oco yang seorang maestro jamu dengan telaten menyiapkan jamu racikan untuk Martha. Tak cukup sampai di situ, Martha pun rutin diurutkan dua kali dalam seminggu. Mungkin jika diibaratkan, setiap harinya sangat banyak sekali pengharapan juga doa yang mereka panjatkan, hingga akhirnya ketelatenan ini membuahkan hasil. Di usia Martha Tilaar yang tak lagi muda, dia melahirkan sang anak pertama, “Wulan Tilaar”, tepat pada usia 40 tahun. Berselang beberapa tahun, pada usia ke-45 dia melahirkan lagi anak keduanya “Kilala Tilaar”. Di samping ini, Martha Tilaar dan suaminya juga mengangkat seorang anak, “Bryan Tilaar”. Kembali pada saat saya dan Pak Tonny berbincang, saya sempat menanyakan apakah anak Martha Tilaar masih sering mengunjungi museum keluarganya. Tepat sesuai dugaan saya, Pak Tonny mengatakan di antara anak Ibu Martha Tilaar yang paling sering mengunjungi Roemah Martha Tilaar adalah Kilala Tilaar.
Sebenarnya hal ini bisa saya duga karena saya mengetahuinya secara tidak langsung dari Pak Bryan Tilaar yang saat itu menjadi pembicara di Unnes. Menurut saya, hal ini terdengar lucu karena saya menitipkan buku “Glow Economy” yang dia turut andil di dalamnya kepada teman saya untuk ditandatangani oleh Bryan Tilaar. Di situlah saya mengetahui sedikit perbincangan kecil yang terjadi antara teman saya dan Bryan Tilaar. Terlepas dari itu, secara jujur saya mengakui bahwa saya merasa sangat terkesan dan kagum pada cerita keluarga Liem Siauw Lam, terlebih pada istri dia, Pranoto Liem.
Roemah Martha Tilaar sendiri dibangun oleh kakeknya yang berfungsi sebagai hunian pribadi pada tahun 1920 dan baru diresmikan sebagai museum pada tahun 2014. Berdirinya rumah ini sebenarnya adalah buah dari pemikiran Bu Matha Tilaar. Walaupun dia hanya memiliki sedikit waktu di Gombong, hal itu tidak membuatnya lupa dan memudarkan rasa cintanya terhadap kota kelahirannya. Dia ingin membuat suatu hal yang menjadi tanda bakti kepada kota kelahirannya. Wulan Tilaar, yang mengetahui ini, pun mencoba untuk mewujudkan impian ibunya. Dan hingga kini Roemah Martha Tilaar masih berdiri kokoh terawatt dengan baik di Jalan Sempor Lama No. 28, Wonokriyo, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen. Di sisi lain, tidak hanya sebagai museum, Rumah Marta Tilaar juga turut menjadi wadah bagi masyarakat yang memang ingin belajar bersama baik itu dalam rumpun sejarah maupun pengetahuan yang lain. Dari yang saya lihat, tidak sedikit orang yang rela datang ke Martha Tilaar untuk berfoto ataupun mengikuti Study Group. Oh iya, karena letaknya di daerah Pecinan Gombong. Jadi, ketika Imlek tiba, Roemah Martha Tilaar akan rutin menggelar sebuah seminar dengan tema utama kebudayaan China. Dari yang saya lihat, hal ini diadakan agar anak zaman sekarang tidak buta terhadap budaya nenek moyangnya.
Di akhir cerita, tentunya saya sendiri sebagai anak yang lahir dan tumbuh di Gombong merasa bangga karena Gombong memiliki seorang maestro kecantikan yang tidak menutup mata dan peduli terhadap perkembangan kota kelahirannya. Dengan adanya Roemah Martha Tilaar ini, saya merasa termudahkan jika memiliki sebuah pertanyaan terkait Gombong. Bagi saya, Roemah Martha Tilaar bukanlah hanya sebuah tempat aesthetic yang hanya disinggahi untuk berswafoto. Tetapi Roemah Martha Tilaar adalah gerbang untuk sejenak menatap masa lalu.(*)