Oleh Nadya Noviana Zuleyka
Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya warisan turun-menurun dari nenek moyang yang wajib kita lestarikan. Beberapa daerah di Jawa yang sampai saat ini dikenal dengan sebutan kota batik di antaranya adalah Pekalongan, Yogyakarta, serta Solo. Ketiga kota ini dikenal sebagai penghasil batik dalam jumlah besar dan beraneka ragam jenis. Batik merupakan salah satu seni budaya asli di Indonesia yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga memiliki nilai historis dan filosofis, telah diakui sebagai warisan budaya dunia, dan merupakan salah satu aset dan seni budaya nasional yang patut dijaga dan dilestarikan. Saat ini, batik telah diresmikan oleh UNESCO pada tahun 2009 sebagai warisan budaya dunia.
Batik di masyarakat Jawa sangat penting peranannya di kehidupan sehari-hari. Dari mulai lahir sampai akhirnya menutup mata. Pada umumnya, masyarakat Jawa yang sangat mempertimbangkan keseimbangan dalam tutur kata, sikap perilaku, dan hubungan sesama, serta penciptanya mencoba merealisasikannya dalam tiap lembaran kain batik yang ragam hias motifnya memenuhi unsur keselarasan dan keindahan. Batik di Jawa dibedakan menjadi dua tipe besar yaitu batik pedalaman, batik yang merujuk pada daerah Surakarta dan Yogyakarta, dua daerah yang menjadi pusat atau episentrumnya budaya Jawa mempunyai konsep edipeni (keindahan) dan adiluhung (keluhuran) yang bersinergi kuat dalam penggambaran motif yang dituangkan dalam bentuk simbol ataupun lambang yang memiliki makna dan filosofinya banyak bersumber dari Keraton kasunanan Surakarta, Keraton kesultanan Yogyakarta, kadipaten pura Mangkunegara dan kadipaten pura Pakualaman.
Kemudian, batik pesisiran, batik yang dihasilkan oleh sebagian besar daerah di pesisir pantai utara Jawa dan Madura yang mempunyai konsep estetika dan keindahan kebutuhan konsumen atau permintaan pasar, yang motif batiknya rata-rata dipengaruhi oleh berbagai unsur budaya asing seperti Eropa, Tiongkok, India, Arab dan Jepang. Berpadannya kedua tipe besar batik di Jawa ini kemudian membentuk satu harmonisasi pedalaman dan pesisiran yang saling melengkapi, memperkuat, dan menumbuhkan batik untuk lebih berkembang dinamis menyesuaikan masa waktunya serta tetap terjaga dan lestari kedepannya.
Demi mengembangkan kesadaran melestarikan kain batik, dibutuhkan upaya-upaya konkret. Salah satunya adalah melalui strategi budaya, yaitu instrumen kebudayaan yang secara mudah bisa mengingatkan kita kembali pada akar sejarah kebudayaan, salah satunya melalui museum yang bisa memberikan informasi sejarah mengenai bagaimana seni batik hadir di Nusantara dan berkembang hingga saat ini.
Kota Pekalongan memiliki Museum Batik sebagai wujud kepedulian para pecinta batik terhadap pelestarian budaya bangsa dan diresmikan oleh Presiden ke-6 Indonesia, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2006. Kehadiran museum ini tidak lepas dari posisi strategis Pekalongan sebagai kota pesisir yang sejak lama menjadi pusat perkembangan batik dengan karakter terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya. Pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 2009 semakin memperkuat peran museum ini sebagai institusi penting dalam menjaga, merawat, dan mengedukasi masyarakat tentang nilai historis batik Indonesia.
Museum Batik Pekalongan berada di lokasi yang secara kultural dan geografis sangat strategis, yakni di Jalan Jetayu No.1, Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Kawasan Jetayu sendiri dikenal sebagai pusat aktivitas budaya kota, sehingga keberadaan museum ini memang sengaja dibangun/dirancang sebagai wujud dari bagian dari ekosistem ruang publik untuk mempertemukan masyarakat dengan warisan budayanya. Letaknya tepat di depan bundaran Lapangan Jetayu sehingga mudah dikenali sekaligus mudah diakses. Dari Alun-Alun Kota Pekalongan, jaraknya hanya sekitar 1,8 KM atau kurang lebih enam menit perjalanan, menjadikannya destinasi yang praktis baik bagi wisatawan maupun peneliti yang ingin menggali lebih dalam tentang batik.
Tidak berhenti sebagai ruang pameran, museum ini juga berfungsi sebagai laboratorium budaya yang aktif. Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 15.00, diselenggarakan workshop membatik yang terbuka untuk umum di dalam museum. Di sini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat langsung dalam proses kreatif, mulai dari penggunaan canting hingga teknik pewarnaan. Aktivitas ini menjadi jembatan penting antara pengetahuan imajinatif dan pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Selain itu, museum juga membuka akses bagi peneliti dengan tujuan kebutuhan akademik. Kegiatan kajian batik dilakukan secara tematik, di mana setiap motif dibedah secara mendalam dengan pendampingan akademisi. Bahkan, terdapat program belajar bersama yang diadakan satu tahun sekali dan terbuka untuk masyarakat umum. Program ini dirancang untuk memperdalam pemahaman tentang batik secara menyeluruh, dan menariknya, seluruh kegiatan ini disediakan tanpa biaya, sebuah langkah yang menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian budaya lokal..(*)