Oleh Aura Zahra Arifin
Kata orang, sebuah wangi parfum bisa membantu mengingat kenangan lama. Beberapa orang lainnya mengatakan bahwa sebuah alunan lagu juga wadah apik untuk menyimpan sebuah kenangan manis. Bagiku, sebuah tempat juga bekerja sama dengan baik. Di sebuah tempat, momen tertangkap sendirinya, layaknya film, tanpa kita sendiri sadari.
Kalau saja tempat-tempat di Jakarta bisa berbicara banyak tentang masa SMK-ku, maka Blok M akan punya cerita lengkap tentang perasaanku yang beragam, lengkap dengan sedih dan senangnya.
Siapa yang tidak tahu tempat eksis itu?
Ah, sebetulnya aku bukanlah orang yang tepat untuk menceritakan Blok M kepada kalian. Seharusnya kusuruh Reva, teman sebangkuku yang setia duduk bersamaku selama 3 tahun, untuk bercerita khusus pada bagian ini. Ia ahlinya. Baginya, Blok M seperti rumah kedua, setidaknya itu kiasan yang ia katakan sendiri.
Singkatnya, Blok M adalah salah satu tempat ikonik di Jakarta. Blok M itu ada di wilayah Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta. Di sana banyak anak muda yang berkumpul karena banyak tempat seru yang menarik. Selain itu, kamu bisa belanja baju di Blok M Plaza atau Blok M Square. Kamu bisa thrifting juga dengan banyak pilihan unik khas 2000-an yang saat ini digemari oleh kalangan anak muda seumuranku. Kamu juga bisa menemukan sejuta makanan unik dan lezat dengan tampilan menarik, entah makanannya yang menggoyang indra perasa, atau makanan dengan rasa yang menurutku biasa saja, namun tetap ramai karena tokonya cukup instagrammable untuk dijadikan spot foto. Ah, tidak lupa, di Blok M tersebar banyak photobooth yang bisa kamu coba bersama teman-teman kamu dengan berbagai tema yang ditawarkan. Mulai dari foto ala-ala di lift hingga di dalam mesin cuci. Kuberi nilai 90 untuk orang orang kreatif dibelakang ide ini.
Setidaknya itu sedikit yang bisa kuceritakan tentang seperti apa Blok M itu. Kalau kamu tertarik, artinya aku andal dalam bercerita dan berpengaruh untuk meningkatkan ketertarikan kalian pada umkm di sana. Kalau menurut kalian biasa-biasa saja, ya tidak apa-apa. Blok M sejujurnya bukan tempat yang terlalu istimewa, tapi tidak dengan kenangan ku di Blok M yang penuh dengan cerita bersama teman-teman. Perasaan dan cerita anak remaja yang tak bisa terulang. Kami sering mengabiskan uang yang disisihkan dari uang jajan harian kami untuk membayar sesi photobooth yang menurut kami lucu, atau mencoba makanan viral yang kami lihat melalui media sosial di Blok M.
Siang itu aku dan 4 teman sejawatku sedang dalam perjalanan menuju Blok M, sepulang sekolah, menggunakan angkutan umum Transjakarta. Di bus yang tidak terlalu padat, kami, atau mungkin hanya aku, sebetulnya cukup sedih. Itu adalah hari terakhir kami pakai baju abu-abu khas anak sekolah tingkat atas. Tak kusangka, rasanya seperti memutuskan hubungan dengan pacar yang sudah 3 tahun bersama.
Selama perjalanan, masih kukingat sekali rasanya. Aku tak banyak bicara atau bercanda; lebih sering melihat ke jendela, menyaksikan gedung-gedung Jakarta yang sebentar lagi akan jarang kulihat. Reva, dan teman-temanku yang lain, mereka juga akan jarang aku lihat sekarang. Selama perjalanan singkat, aku bergulat dengan perasaan yang aku tak bisa jelaskan rasanya.
Saat sampai pun, rasanya masih sedih. Ah, biasanya tidak begini.
Baru saja merasa seperti karakter utama yang sedang melakukan adegan melankolis, tiba-tiba semuanya buyar karena aku tak bisa keluar dari halte. Masalahnya, aku pesan lewat aplikasi khusus Transjakarta dan salah memilih pemberhentian halte. Untungnya, halte pemberhentianku ada di seberang. Alhasil, teman-temanku tertawa dan kami harus berpisah. Ah, mana ada pemeran utama yang melakukan ini?
Kami masuk ke salah satu photobooth, berpose ria, mengabadikan saat-saat terakhir pakai baju putih abu-abu, layaknya geng cinta di film AADC. Ku-jeda lamunan melankolis tadi, yang kulakukan hanya bersenang-senang menghabiskan waktu bersama tanpa sadar bahwa kami sebenarnya sedang mengukir sebuah momen.
Kulihat tawa mereka sore itu, orang-orang terdekat yang menemaniku selama 3 tahun terakhir selama SMK, tempatku mengadu bagaimana rasanya mendapat gombalan dari laki-laki yang kusuka, sekaligus tempat aku menangis hampir seminggu, karena patah hati pertamaku. Aku tak akan bilang kita tak pernah bertengkar, selayaknya hubungan dan interaksi wajar manusia, hitam putihnya perilaku mereka begitu pun aku, dan seribu perasaan di dalamnya, pertengkaran sudah pasti menjadi pelengkap warna dalam pertemanan, namun intinya aku benar-benar menikmati dan mensyukuri masa-masa indah yang kulalui bersama mereka.
Hasil foto itu kini masih tersimpan rapi di dompet. Kami juga sempat melakukan sesi foto studio di Blok M selepas kelulusan, memakai kebaya dan berdandan layaknya bidadari dari langit ke-7, tapi hasil foto kami saat pakai baju terakhir abu-abu punya kesan lain di hatiku setiap kali aku melihatnya, saat itu, saat ini dan seterusnya. Ku taruh didompet, seakan akan mengatakan
”Ke mana pun dua kaki ini melangkah pergi, kuingin kau mengerti, bagiku kau teman sejati”
Kutipan lirik lagu dari band kesukaan kami, Hivi.
Hari terakhir di Jakarta sebelum aku berangkat ke Semarang juga kulalui di Blok M bersama mereka. Ah, pasti kalian berpikir apakah aku bosan ke Blok M? Tidak! Sudah kubilang kan tadi di awal, jikalau ada tempat di Jakarta yang menjadi saksi kegembiraan SMK-ku, ya sudah pasti Blok M jawabannya.
Hari itu, Ayah dan Ibu sudah berpesan agar jangan pulang terlalu larut, sebelum jam 6 sudah kembali ke rumah. Ini hari terakhir di Jakarta, loh. Besok mau ke Semarang. Aku menganggukan kepala tanda setuju. Aku berangkat sehabis dzuhur. Lagi-lagi, aku dan teman-teman melakukan adegan ritual klise di Blok M. Kalian tahu kan apa?
Iya! Sesi photobooth!
Sialnya saat itu weekend, photobooth yang kami mau antrinya panjang, tapi sudah terlanjur bayar, kami menghabiskan waktu hingga ashar, hanya untuk mengantri, aku sudah bilang aku tak bisa lama-lama, aku juga mau menghabiskan waktu bersama Ayah Ibu dirumah sebelum merantau, aku yang seperti kalian tau anak yang melankolis, berujung memikirkan Ayah dan Ibu selama mengantri panjang, ah kalo dipikir pikir aneh sekali, setelah photobooth kami makan, dan pulang, itu sudah lebih dari jam 6, Ibu sudah mengirim pesan untuk segera pulang, Ibu sebenarnya tak marah, tapi aku sudah terlanjur sedih saja.
Saat masuk ke halte, AH! Jam pulang kerja, Transjakarta lebih padat 2 kali lipat. Kami harus mengantre panjang untuk masuk. Hatiku sudah gembas-gembis. Aku ingin menghabiskan waktu yang cukup juga bersama Ayah dan Ibu di hari terakhir di Jakarta. Ah, semoga tak ada adegan konyol lagi ketika aku sedang melankolis begini.
Saat sudah masuk, aku berdiri, menatap gedung-gedung Jakarta di malam hari, tetap cantik. Aku benar-benar akan meninggalkan Jakarta esok pagi. Semua perasaan itu campur aduk rasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku menangis tak sadar. Aku sedih sekali. Saat itu, jauh dari orang tua masih terasa menakutkan. Di antara manusia-manusia lelah sehabis pulang kerja, bocah ini menangis karena esok pagi akan ke Semarang. Seharusnya yang menangis siapa?
Sampai di halte Seskoal, tempat aku berhenti, aku keluar bersama teman-teman dengan mata sembapku. Tiba-tiba Reva dan teman-teman lain membawakan kue untukku, perayaan ulang tahun ke-19, yang sudah lewat. Duh, apa kalian tidak punya tempat lain ya? Aku tersipu di belakang tangisku. Kami menyempatkan foto sejenak, dibantu oleh petugas halte. Malam itu aku merasakan banyak perasaan.
Aku pulang. Minta maaf kepada Ayah dan Ibu. Aku menghabiskan waktu-waktu terakhir sebelum merantau dengan perasaan yang hangat.
Setidaknya itu sedikit banyak alasan mengapa Blok M cukup istimewa bagiku. Tempat yang pernah benar-benar merekam perasaan, senang, haru, sedih, konyol dan menyebalkan yang aku rasakan, sepaket komplet perasaan yang lazim dirasakan manusia seperti aku.(*)