Oleh Intan Cahyati
Kuningan adalah sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di kaki Gunung Ciremai dan dikenal dengan udara yang sejuk serta pemandangan alam yang indah. Kota Kuningan memiliki sejarah yang panjang serta beragam tempat wisata yang memikat, baik wisata alam, budaya, maupun kuliner.
Hidup di Kuningan adalah tentang belajar melambat. Saat kota-kota besar terbangun oleh deru mesin dan klakson, pagiku di sini dimulai dengan “sapaan” dari Gunung Ciremai yang puncaknya sering kali masih tertutup kabut tipis. Setiap kali aku membuka jendela, udara dingin yang menusuk tulang perlahan berubah menjadi sejuk yang menenangkan. Tidak ada istilah “polusi” dalam kamus harianku di sini. Jalanan yang bersih dan pepohonan hijau yang berjajar di sepanjang jalan menuju Cijoho atau Cigugur memberikan rasa asri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Salah satu momen favoritku adalah saat sore hari. Kadang aku hanya duduk di teras, menikmati segelas kopi lokal ditemani tapai ketan yang manis-asam, dibungkus daun pisang yang harum. Aroma tanah basah setelah hujan gerimis sering kali menjadi latar musik alami yang paling merdu.
Di Kuningan, aku merasa lebih dekat dengan sejarah. Melewati Linggarjati, aku diingatkan tentang ketenangan para pejuang dahulu. Berjalan di sekitar Taman Cirendang, aku melihat keramahan warga lokal dan senyum tulus dari pedagang pasar yang masih mengenal tetangganya dengan baik. Kehidupan di sini bukan tentang kompetisi, tetapi tentang harmoni.
Malam hari di Kuningan punya keheningan yang mahal harganya. Lampu-lampu kota yang terlihat dari dataran tinggi seperti Palutungan tampak seperti taburan bintang yang jatuh ke bumi. Di sini, di kota kuda ini, aku tidak hanya tinggal; aku merasa sedang “pulang” setiap harinya.
Kuningan terletak sekitar 200 km dari Jakarta dan berbatasan langsung dengan Kota Cirebon di bagian utara. Karena lokasinya yang strategis dan suasana yang tenang, Kuningan menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin melarikan diri dari hiruk-pikuk perkotaan. Selain itu, Kuningan juga memiliki banyak situs sejarah yang membuatnya makin menarik untuk dikunjungi.
Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan daya tarik utama bagi wisatawan yang suka petualangan. Gunung Ciremai sendiri adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian sekitar 3.078 meter. Pendakian gunung ini menawarkan pemandangan yang luar biasa, terutama saat matahari terbit. Selain itu, taman nasional ini juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka.
Kota Kuningan tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang memesona, tetapi juga kehangatan budaya dan kuliner lokal yang autentik. Mengunjungi Kuningan adalah cara yang sempurna untuk menikmati ketenangan alam dan memperkaya pengetahuan tentang sejarah serta budaya lokal.
Kini, setiap sudut Kuningan telah menjadi bagian dari identitas diriku. Dari keriuhan rendah di Pasar Baru hingga ketenangan air di Waduk Darma, setiap tempat menyimpan memori tentang bagaimana kesederhanaan bisa membawa kebahagiaan yang utuh. Aku belajar bahwa kenyamanan sejati tidak ditemukan dalam kemewahan, melainkan dalam keramahtamahan penduduknya yang hangat dan alamnya yang selalu terjaga.
Pada suatu pagi yang berkabut tipis, aku berdiri di depan rumahku di Kota Kuningan. Udara masih sejuk dan suara ayam berkokok terdengar bersahutan. Di tanganku, sebuah tas sederhana berisi pakaian dan buku-buku bekal untuk perjalanan panjangku mencari ilmu. “Pergilah,” kata ibuku lembut. “Cari ilmu setinggi mungkin. Tapi ingat, pulanglah.” Aku mengangguk. Dalam hatiku, aku tahu perjalanan ini bukan sekadar tentang belajar, tapi juga tentang menemukan diriku sendiri.
Aku merantau ke kota besar. Jalanan penuh kendaraan, gedung-gedung tinggi menjulang, dan orang-orang berjalan cepat tanpa sempat saling menyapa. Awalnya, aku merasa kecil. Aku rindu suasana Kuningan yang tenang, rindu suara angin di sawah, dan rindu masakan ibuku. Namun, hari demi hari, aku mulai beradaptasi. Aku belajar di kampus dengan tekun, membaca hingga larut malam, dan berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai daerah. Aku menyadari bahwa dunia begitu luas dan ilmu tidak ada habisnya untuk dipelajari.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa Kuningan bukan sekadar tempat tinggal sementara atau titik di atas peta. Kota ini adalah ruang bagi jiwaku untuk tumbuh dan bernapas lebih lega. Di bawah bayang-bayang Gunung Ciremai yang megah, aku menemukan ritme hidup yang seimbang, sebuah harmoni antara kerja keras di siang hari dan ketenangan yang memeluk erat di malam hari.
Pada akhirnya, melangkah pergi dari Kuningan selalu terasa berat, namun kembali ke sini selalu terasa benar. Sejauh apa pun kakiku melangkah, aroma udara pegunungan dan suasana asri kota ini akan selalu memanggilku untuk pulang. Kuningan bukan hanya sebuah kota; dia adalah pelukan hangat yang selalu menyediakan tempat bagi siapa pun yang merindukan kedamaian.(*)