Sesaji Rewanda di Gua Kreo

Oleh Khoir Ramadhani

Pagi ini, suasana desa terasa berbeda dari biasanya. Warga sekitar terlihat sibuk mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan nanti malam dan besok. Semua orang tampak antusias menyambut tradisi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Acara yang akan digelar nanti malam adalah Mahakarya, sebuah tradisi turun-menurun di desa. Mahakarya Legenda Goa Kreo merupakan pertunjukan seni kolosal tahunan yang mementaskan kisah Sunan Kalijaga. Acara ini biasanya menjadi bagian dari rangkaian tradisi Sesaji Rewanda yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Rima dan Nabila berencana menonton acara tersebut pada pukul delapan malam. Kegiatan ini diselenggarakan di Waduk Jatibarang dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya, sehingga menarik banyak pengunjung.

“Eh, nanti kita duduk di sebelah mana?” tanya Rima kepada Nabila.

‘Kayaknya kita duduk di belakang saja deh.’’ Jawab Nabila

Rima pun mengangguk setuju.

Malam hari pun tiba. Setelah melaksanakan salat Isya, Rima dan Nabila bersiap-siap untuk berangkat. Mereka sudah siap sejak pukul 19.30 agar tidak terlambat.

Karena jarak antara rumah Rima dan waduk tidak terlalu jauh, Rima dan Nabila memutuskan untuk berjalan kaki bersama. Sepanjang perjalanan, suasana terasa ramai oleh warga yang juga menuju lokasi acara.

Sesampainya di sana, Rima dan Nabila memilih duduk di bagian belakang tengah agar dapat melihat pertunjukan dengan jelas. Tak lama kemudian, acara Mahakarya pun dimulai.

Pertunjukan berlangsung sangat meriah. Para pengunjung tampak antusias mengabadikan setiap momen menggunakan telepon genggam mereka. Pementasan yang menampilkan legenda Goa Kreo itu terasa hidup dengan iringan musik dan tata panggung yang menarik.

Sekitar pukul 22.00, acara Mahakarya selesai. Para pengunjung mulai meninggalkan Waduk Jatibarang dan kembali ke rumah masing-masing, termasuk Rima dan Nabila.

Keesokan harinya, Rima sudah bersiap sejak pukul 07.00 untuk mengikuti rangkaian tradisi Sesaji Rewanda. Acara diawali dengan kirab budaya, yaitu arak-arakan gunungan hasil bumi berupa buah dan sayuran menuju Goa Kreo.

Setelah itu, dilaksanakan ritual doa yang merupakan prosesi sakral yang dipimpin oleh tokoh adat sebagai ungkapan rasa syukur. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sesaji kepada kawanan monyet, yang menjadi momen paling ikonik dalam tradisi ini.

Setelah acara inti selesai, masyarakat mengikuti tradisi ngalap berkah. Rima pun ikut memperebutkan bagian dari gunungan bersama warga dan pengunjung lain yang dipercaya membawa keberkahan. Rima berhasil mendapatkan beberapa sayuran dan buah-buahan.

Sebagai penutup, ditampilkan pertunjukan tari tradisional yang diiringi musik gamelan. Suasana terasa semakin meriah sekaligus penuh makna. Tradisi Sesaji Rewanda pun berakhir sekitar pukul 12.00 siang, meninggalkan kesan yang mendalam bagi Rima.(*)