Oleh Risma Naely Mukasyafah
Pada malam yang sunyi di Kudus, angin berembus pelan melewati halaman Menara Kudus. Lampu-lampu mulai mati dan suara azan Isya sudah lama berlalu.
Dara, seorang mahasiswi yang baru pulang dari luar kota, berdiri di depan menara itu. Sudah lama ia tidak pulang ke Kudus. Kota ini terasa asing atau mungkin ia sudah berubah.
Sejak kecil, ibunya selalu melarang Dara bermain terlalu lama di sekitar menara saat malam.
“ Bukan karena menyeramkan,” kata ibunya dulu, “tapi karena tempat itu penuh cerita, kamu harus siap kalau mau mendengarnya.”
Dara dulu hanya tertawa. Tapi malam itu, entah kenapa, ia justru datang sendiri. Langkahnya pelan, mendekati dinding bata merah yang terasa dingin. Ia menyentuhnya…dan tiba-tiba. Suara gamelan samar terdengar. Dara menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Namun, suara itu makin jelas. Seperti berasal dari masa yang jauh…sangat jauh.
Lalu, bayangan-bayangan mulai tampak. Orang-orang dengan pakaian kuno berjalan perlahan, membawa sesaji, berbincang dalam bahasa yang tak sepenuhnya ia pahami. Di tengah mereka, berdiri sosok bijak yang dikenalnya dari buku sejarah, yaitu Sunan Kudus.
Dara terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Sosok itu menoleh…seolah melihatnya.
“Setiap tempat punya ingatan.” Suara itu terdengar lembut, tapi jelas.”
“Dan tidak semua orang mau mendengarnya.”
Dalam sekejap, semuanya hilang. Hanya ada Dara, napasnya yang memburu, dan Menara Kudus yang kembali sunyi. Ia mundur perlahan, tapi bukan karena takut, melainkan karena ia akhirnya mengerti.
Bahwa kota ini bukan sekadar tempat pulang. Tapi juga tempat di mana waktu tidak benar-benar pergi.